Rabu, 24 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Sentra Akik; Dulu Kewalahan, Sekarang Seharian Belum Tentu Ada Pembeli

19 Juni 2019, 08: 04: 16 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sentra Akik; Dulu Kewalahan, Sekarang Seharian Belum Tentu Ada Pembeli

LENGANG: Suasana kios batu akik dan permata di Pasar Burung Satria Denpasar hanya ada beberapa pembeli saja. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

Saat booming dulu, pedagang batu akik sampai kewalahan menyelesaikan pesanan. Karena tingginya animo masyarakat untuk membeli. Namun, sekarang kondisinya berbeda. Pedagang banyak nganggur seiring sepinya peminat.

AGUS SUECA MERTA, Denpasar

Beragam jenis hewan langsung menyapa koran ini begitu masuk area Pasar Burung Satria. Suaranya bersahutan. Meski didominasi burung. Ya, meski namanya pasar burung, berbagai jenis hewan dengan mudah ditemukan di sana. Tidak hanya hewan yang lazim dipelihara, tapi juga yang tidak lazim. Ular misalnya.

Setelah melewati deretan kios-kios pedagang hewan, beberapa meter kemudian kita bisa melihat kios pedagang batu akik. Sekitar empat sampai lima tahun lalu, kios-kios itu dijejali para pemburu batu akik. Namun, sekarang nampak sepi. Pagi itu, hanya satu orang yang melihat-lihat batu akik dan permata.

Jika dulu saat booming perhiasan batu akik pengunjung antara kios penjualan hewan dan batu permata sama-sama ramai, kini pemandangan serupa sudah tidak dapat ditemui lagi.

Tqim, 30, sebagai pedagang batu akik di salah satu kios di Pasar Burung Satria kini nampak lebih banyak menikmati waktu untuk berdiam menunggui dagangannya. Minggu kemarin (16/6), Pasar Burung Satria yang berlokasi di Jalan Veteran No. 66 Denpasar Utara itu ramai pengunjung. Namun yang sekedar menengok kiosnya berjualan hanya satu orang saja. Lalu lalang orang yang melintas di depan kiosnya lebih memilih untuk menengok kios burung yang terletak di seberang jalan.

“Tahun ini pun sepi. Saat masih booming kios ini sangat ramai hingga kewalahan meladeni pesanan karena kekurangan waktu, namun sekarang malah menurun drastis sekali,” ujar Tqim.

Dalam sehari menurutnya belum tentu ada pembeli. Sehingga, ia akhirnya lebih banyak diam dan menunggu saja. Bagian kios batu akik dan batu permata di Pasar Burung ini terlihat memang jauh lebih sepi dibanding dengan kios yang berjualan hewan-hewan seperti burung, ikan dan kelinci.

“Jikapun ada pembeli yang datang ke kiosnya langsung membawa batu akiknya dari rumah dan meminta jasa untuk pencangkokan dengan cincinnya disini. Untuk jasa seperti itu setengah jam saja sudah kelar,” sambung Tqim sambil meladeni seorang pengunjung di tokonya.

Mengenai harga batu akik yang ia jual tidak ada penurunan harga walau sudah tidak se booming dulu. Dia menjelaskan bahwa harga batu akik ataupun yang  sudah terpasang jadi sebagai perhiasan tetap relatif sama karena tergantung motif batu itu sendiri. “Kalau untuk motif batu yang polos berkisar Rp 100 ribu – Rp 300 ribu per buah, sedangkan yang berisi motif rumit harganya tetap mahal masih bisa ada yang mencapai miliaran,” sambungnya.

Biasanya, mereka yang tetap memburu akik di saat sudah tidak booming seperti dulu karena memang sudah jatuh cinta atau dengan alasan khusus. Komang Wisesa, 48, misalnya. Lelaki yang sempat diwawancarai ketika berkunjung ke kios batu akik sambil melihat dan memilih-milih itu mengaku memang menyukai akik. Karena juga bisa sebagai media penyembuhan.

“Saya menekuni penyembuhan secara spiritual dan beberapa batu akik biasanya mempunyai khasiat untuk menyembuhkan,” ujar lelaki yang berasal dari Klungkung ini.

Senada dengan Tqim, pedagang batu akik lainnya juga menceritakan hal yang sama. Nurkholis, 30, yang berjualan di area dalam pasar juga mengeluhkan bahwa minat masyarakat akan batu akik sangat turun drastis. “Lebih bagus penjualan perhiasan batu akik ketika belum booming daripada saat ini,” ujarnya sambil bermain ponsel.

Terdapat sekitar 50 kios pedagang batu permata dan akik di Pasar Burung Satria ini, namun hanya beberapa kios yang terlihat ada pengunjungnya. Sambil menunggu datangnya pembeli, kebanyakan pedagang terlihat beraktivitas dengan ponselnya, ada pula yang membersihkan perhiasan di kiosnya.

“Rata-rata bisa tiga orang dalam sehari di kios saya, kebanyakan pembeli suka memilih batu akik yang berwarna-warni,” sambungnya sambil menunjukkan beberapa warna batu akik yang bagus.

 Mengenai omset penjualan Nurkholis saat ditanya sedikit enggan menjawab dengan blak-blakan. “Jangan ditanya harian ya, kalau sepi begini saya bisa kasih kira-kira omzetnya sebulan hanya Rp 13 juta saja,” ujarnya.

Sama dengan Tqim, Nurkholis juga menceritakan bahwa rata-rata pembeli tetap didominasi oleh orang lokal dan sedikit dari wisatawan asing. “Kalau wisatawan asing biasanya kalau tertarik langsung beli saja,” imbuhnya. (*)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia