Kamis, 18 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Suara Gong dan Genta Misterius Kerap Terdengar dari Goa Tirta Geroh

19 Juni 2019, 08: 22: 30 WIB | editor : I Putu Suyatra

Suara Gong dan Genta Misterius Kerap Terdengar dari Goa Tirta Geroh

BERKHASIAT: Air dari Pancuran Tirta Geroh dipercaya memiliki banyak khasiat. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Sumber mata air atau bulakan memiliki fungsi untuk membersihkan badan maupun  bathin. Ada pula yang dipercaya mampu menyembuhkan penyakit secara niskala.  Namun, lain halnya dengan Pancuran Tirta Geroh di perbatasan Bangli dan Gianyar, tepatnya di bantaran Sungai Campuhan.

Tirta Geroh oleh masyarakat setempat sebagai tempat memohon taksu bagi seniman topeng, khususnya seniman setempat, Banjar Selat Tengah, Desa Selat, Kecamatan Susut, Bangli.
Seniman topeng di Banjar Selat Tengah, akan melatih vokal di lokasi ini. Sembari olah vokal, orang-orang memanfaatkan pancuran untuk menyegarkan tenggorokan dengan cara berkumur. Konon, air yang bersumber dari goa tersebut dapat menghaluskan pita suara, sehingga untuk mengeluarkan karaker suara bulat sangatlah gampang.


Menurut tokoh adat Banjar Selat Tengah, Selat, Jero Mangku Wayan Suarta, 75, keberadaan Pancuran Tirta Geroh sudah ada berabad silam. Namun, dia mengakui tak ada catatan sejarah terkait awal ditemukannya sumber mata air tersebut. Sejak awal memang hanya terdapat satu pancuran saja. Setelah dikunjungi banyak orang, pihaknya beserta warga desa lainnya menambahkan satu pipa tambahan.


Dijelaskannya, nama Tirta Geroh berasal dari kata Tirta yang berarti air, dan Geroh berarti suara keras. Konon suara keras seperti gong kerap terdengar jelang rerahinan atau hari suci keagaaman Hindu. Meski masih samar-samar, tapi suara gong itu dapat didengar manakala masyarakat berhenti beraktivitas. "Suaranya muncul dan terdengar setiap jam 12 malam. Kadang jam satu dini hari. Kan sudah tidak ada aktivitas, makanya terdengar," jelas Jero Mangku Suarta kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.


Tidak hanya itu, percikan air dari goa akan menghasilkan suara semacam angin besar. Itu juga kerap didengar warga manakala hari menjelang malam. "Sudah menjadi cerita umum warga kami," urainya.


Adalah Komang Wipraja, 40, yang kini aktif sebagai seniman di desanya. Sebelum ngayah di pura, dia rutin melatih olah vokalnya di Tirta Geroh. Dia percaya, setelah berkumur, suaranya makin besar. "Ada semacam power (kekuatan). Tapi tidak berkumur saja. Saya kadang biarkan air mengucur ke mulut saya, sambil saya bersuara. Boleh percaya, boleh tidak," kata Wipraja meyakinkan.


Kata Wipraja, yang juga Kelihan Banjar Selat Tengah, kerap datang ke Pancuran Tirta Geroh hanya untuk bernyanyi maupun meditasi. Kejadian aneh pernah dia alami ketika berkumur. Ketika membuka mulut, air pancuran tiba-tiba mengucur sangat keras. Dia yang berkumur sembari bernyanyi pernah hampir tersedak lantaran banyak air yang masuk ke tenggorokannya. "Saya takut waktu itu. Kalau tidak salah sekitar tahun 2012-2013 pada saat purnama," tuturnya dengan nada heran.


Sumber mata air Tirta Geroh berasal dari mulut goa, persis di belakang pancuran. Goa ini panjangnya sekitar 10 meter. Namun untuk masuk ke dalam goa sangat sulit lantaran aksesnya sempit. "Bisa sampai di bibir goa saja," ujarnya.


Ditambahkan Jero Mangku  Suarta, Tirta Geroh kerap dijadikan tempat meditasi oleh para penekun spiritual. Mereka tidak hanya dari wilayah Bangli dan Gianyar. Penekun spiritual yang mengaku berasal dari Belgia dan negara Eropa lain, suka datang ke tempat itu. Bahkan, balian asal Desa Petak, Gianyar, pernah datang ke Tirta Geroh mengajak salah seorang warga yang sakit.


"Katanya dia sakit kena guna-guna. Mereka datang ke sini nunas tirta. Merek minum airnya dan berkumur. Tiba-tiba muntah, airnya berisi bercak merah cokelat seperti darah. Beberapa minggu berikutnya  datang lagi, mereka ternyata sembuh," ungkap Jero Mangku  Suarta  tanpa membeber identitas balian tersebut.


Tidak hanya itu, jika air pancuran berwarna keruh seperti air beras, warga dianjurkan meminum air tersebut. Warga sekitar percaya bahwa air keruh itu adalah penawar sakit yang ada dalam tubuh. Selain itu, juga diyakini sebagai air pembawa keberuntungan. Tapi yang aneh, kemunculan air keruh itu tidak bisa diprediksi.


Masyarakat setempat juga datang ke Tirta Geroh untuk meminta restu maupun memohon agar dikaruniai momongan. Mereka yang datang rata-rata tidak bisa hamil sampai lima tahun. "Kerabat titiang ada yang coba. Beberapa bulannya hamil. Sekarang sudah melahirkan, anaknya perempuan," ujarnya.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia