Kamis, 18 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Bali

TPA Temesi Keluarkan Asap, Warga Lebih Sampai Sesak

19 Juni 2019, 16: 03: 20 WIB | editor : I Putu Suyatra

TPA Temesi Keluarkan Asap, Warga Lebih Sampai Sesak

ASAP : Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Temesi yang terus mengeluarkan asap dan ditangani oleh petugas Damkar Gianyar, Rabu (19/6). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Pasca terbakarnya  Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Temesi beberapa waktu lalu sampai saat ini terus mengeluarkan asap. Sangat terdampak sekali pada warga Desa Lebih yang hanya dibatasi dengan Sungai Sangsang. Karena sampai membuat sesak, masyarakat Desa Lebih nyaris melakukan demo ke TPA, Rabu (19/6).

Hal itu diungkapkan oleh Perbekel Desa Lebih, Ni Wayan Griya Wahyuni saat ditemui oleh Bali Express (Jawa Pos Group). Ia menjelaskan dari beberapa waktu lalu warganya selalu mengeluhkan timbulnya asap karena sampai menyebabkan sesak. “Masyarakat mengeluhkan timbulnya asap ini dan membuat sesak warga. Terutama para balita dan ibu-ibu yang sedang hamil,” ungkapnya.

Griya Wahyuni juga menjelaskan masyarakatnya sempat beberapa kali berkeinginan untuk melakukan aksi demo ke TPA. Namun selaku Perbekel ia selalu meredamnya agar dibicarakan terlebih dulu dan mencari solusinya. Sehingga pada akhirnya beberapa pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemkab Gianyar turun ke TPA mencari solusinya, bahkan sampai anggota DPRD RI terpilih  Nyoman Parta.

“Sebelum ke sini tadi warga sudah kumpul, saya minta tolong agar bisa diredam dan akhirnya saya ajak perwakilan ke sini agar dilihat langsung permasalahannya dan solusinya bagaimana. Mulai dari para kelihan dan tokoh-tokoh desa yang lainnya,” ujar dia.

Dalam  menanggulangi timbulnya asap secara jangka pendek, ia mengaku pihak pemerintah hanya bisa melakukan penyiraman air saja yang dibantu oleh petugas Damkar. Griya Wahyuni pun berharap agar kedepannya ada gagasan untuk mengurangi timbunan sampah yang dibuang ke TPA. Salah satunya dengan sampah setiap desa agar dikeloka sendiri di desa masing-masing, dan TPA Temsi ditutup.

“Kalau pemerintah peka, dampaknya yang paling keras ya ke kita di Lebih. Kondisi masyarakat sudah lokasi khusus stunting tertinggi di Indonesia, perkawinan dini, gizi buruk, ditambah lagi dengan masalah asap ini.  Saya berharap agar ada kajiannya masing-masing desa mulai mengelola sampahnya sendiri. Kalau kita di Desa Lebih sudah mulai meskipun belum keliatan sekali hasilnya, paling tidak kita tidak sampai buang sampah ke TPA,” ungkap Perbekel yang memiliki 7 ribuan warga tersebut.

Pada tempat yang sama, Sekda Gianyar, Made Gede Wisnu Wijaya  mengaku pihaknya akan memikirkan penangan TPA tersebut.  Mulai dari jangka pendek sampai jangka panjangnya. “Jangka pendeknya kita pikirkan bagaiaman caranya agar tidak menimbulkan asap lagi. Langkahnya kita buatkan akses dulu menuju lahan yang ada kemudian kita dorong sampahnya yang mengeluarkan asap tersebut,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut ia menyebut kedepannya sudah ada perjanjian agar bisa sewa lahan untuk memperluas sekitar 4 hektare. Dia berharap tahapan itu cepat selesai sehingga bisa menanggulangi timbulan sampah yang ada. “Tahapan dengan pihak sewa ini tidak gampang, apalagi sekarang kita tidak ada anggaran dan harus menunggu di perubahan. Itu jangka panjangnya, kalau jangka pendek dengan penanganan asapnya saja dulu,” tandas Wisnu Wijaya.

Ia menambahkan, pihaknya akan merapatkan kembali untuk mencarikan solusi apa saja yang harus dikerjakan. Mulai dengan pihak Dinas Pekerja Umum, Dinas Sosial sampai Dinas Kesehatan. Karena dampak dari TPA tersebut sudah merambat kepada faktor sosial masyarakat dan kesehatannya.

Sedangkan DPRD RI terpilih, Nyoman Parta saat meninjau ke TPA selama dua setengah jam. Bahkan ia sampai merasakan kepalanya pusing dan perutnya mual. Sehingga ia mengaku wajar jika masyarakat Desa Lebih mengeluh mengingat setiap malam terpapar asap tersebut. Parta pun memberikan solusi agar tidak ada lagi masyarakat Desa Lebih yang mengeluh karena asap dan bau TPA.

“Menurut saya sudah saatnya Pemda Gianyar membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di beberapa kecamatan. Selain itu membuat tempat komposting di setiap desa  dan pemilahan sampah di  rumah. Karena sampah adalah masalah setiap orang, tidak benar juga kalau seluruhnya dibebankan kepada pemerintah,” tandasnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia