Selasa, 19 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis
Pesta Kesenian Bali 2019

Inovasi Unik Lampu Aluminium Jadi Daya Tarik Pembeli

19 Juni 2019, 19: 01: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

Inovasi Unik Lampu Aluminium Jadi Daya Tarik Pembeli

KERAJINAN: Kerajinan aluminium di arena PKB 2019. (NI KETUT ARI KESUMA DEWI/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Jika berjalan-jalan ke Pesta Kesenian Bali (PKB), masyarakat akan selalu disuguhkan berbagai macam hiburan, makanan, produk kesenian dan lain sebagainya. Terlebih untuk tahun ini, stand untuk penjual digratiskan. Ini tentunya berdampak positif bagi penjual produk kesenian yang turut berjualan di sana.

Salah satu stand penjual produk kesenian berbahan dasar aluminium dari Singaraja, Desa Menyali, Kecamatan Sawan merasa antusias berjualan pertama kalinya di PKB tahun ini. Ketut Suprewenten pemilik UD Pak Gek Aluminium salah satunya. Untuk proses kreatif pembuatan produk berbahan dasar aluminium tersebut, baik dari pembuatan pola dan juga pembentukan finishing semua ia kerjakan secara manual, tradisional dengan menggunakan alat-alat tradisional seadanya.

Dari berbagai jenis produk yang ia jual, ada salah satu yang paling menarik. Hiasan lampu gantung berjenjang yang berbahan dasar aluminium dengan berbagai corak atau pola bernuansa Bali. “Untuk lampu, kita kebetulan ada ajakan dari Dispenda Buleleng, H-3 bulan kami sudah mendapatkan penawaran. Jadi kita mengacu ke insting kita untuk membuat kerajinan yang terbaru. Astungkara, untuk lampunya banyak peminat,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Ia menyampaikan bahwa ide lampu berasal dari dirinya. Usaha yang berkembang dari tahun 1977 tersebut diawali oleh kakek nenek dari Ketut yang dilanjutkan oleh orang tua serta kakaknya. “Saya kemudian melanjutkan usaha ini. Era saya, kebetulan punya pengalaman dari daerah seni seperti Sukawati, Gianyar. Jadi kita coba kombinasikan dengan aluminium. Awalnya kita lihat dari rotan, bamboo. Yang akhrinya saya kembangkan dengan menggunakan bahan dasar aluminium. Astungkara ternyata banyak peminat,” jelasnya.

Lampu yang menarik tersebut terbit pertama kali tiga bulan ini. “Masih belum export. Kami perkenalkan ke masyarakat lokal dulu. Responsnya lumayan bagus Nanti selanjutnya akan kami kirim ke artshop-artshop untuk naruh barang,” terangnya.

Sementara jenis produk tempat tisu, bak sampah, frame, bak laundry, cermin aluminium yang sifatnya umum sering dibeli. “Dari sekian permintaan, ada beberapa persen saja yang tidak bisa kami buatkan karena aluminium tidak terlalu elastis. Jadi bentuk cekung kami tidak bisa. Itu kan sifatnya lurus atau bulat atau silinder, baru bisa,” terangnya.

Barang-barang produksi tersebut juga laris dikirim ke Jakarta Timur, Tangerang,l dan tempat lain sebagainya. “Ini sering digunakan pembeli saat hajatan. Misalnya, untuk souvenir. Untuk domestik, lebih banyak ke kebutuhan souvenir,” tegasnya.

Produk yang terjual di standnya pun harganya terjangkau. Ia mengatakan disebabkan karena stand yang disediakan gratis. Sehingga, penjual diimbau agar menjual produknya dengan harga seminim mungkin. Jika memungkinkan, penjual diimbau menjual dengan harga produksi. Itu pun menurutnya kalau bisa. “Melalui ini saja, bisa menjadi ajang promosi. Memperkenalkan terutama lampu-lampu ini. Kalau produk lampu ini hanya satu-satunya. Karena dari peracikan, pengelasan, kita sendiri yang membuatnya. Untuk pertama pembuatan, misalnya terbilang susah. Awalnya sangat rumit sekali. Bahkan, sampai untuk satu barang pengerjaannya bisa sampai 1—5 hari. Tapi setelah terbiasa membuat, otomatis pembuatannya dipahami cara kerja yang simple. Akhirnya bisa tembus dua barang selama sehari,” jelasnya.

Karyawan yang telah bergabung dengan Ketut hingga saat ini mencapai empat orang. “Dibantu juga dengan saya sendiri. Saya tidak boleh lepas tangan untuk mengontrol dan juga finishing-nya. Terakhir finishing-nya saya sendiri. Biar betul-betul finish. Kalau ada kekurangan, penyempurnaan, saya kerjakan. Karyawan ada tiga level. Dari level biasa, sedang, sampai mutakhir. Kalau mutakhir, sudah sama seperti saya.

Ia berharap dari segi penjualan di PKB, barang jualannya terjual dengan baik. “Akan tetapi sasaran kami dalah reseller untuk menjual ke luar daerah. Produk kami dari kekuatan, kualitas, dan harga menjanjikan dengan tampilan yang indah. Untuk omzet di PKB, ia bisa mendapatkan Rp1 juta hingga Rp 2 juta dalam sehari.” Tutupnya kepada Bali Express. (akd)

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia