Kamis, 18 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Rare Angon, Jadi Inspirasi Tari Anglayang Sanggar Kalingga

19 Juni 2019, 19: 28: 32 WIB | editor : Nyoman Suarna

Rare Angon, Jadi Inspirasi Tari Anglayang Sanggar Kalingga

TARI KREASI: Tari Anglayang menjadi salah satu suguhan Sanggar Seni Kalingga, Banjar Teba, Kelurahan Jimbaran, Duta Kesenian Kabupaten Badung di PKB, Selasa (19/6). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Sosok Dewa Layang-layang, Rare Angon, menjadi sumber inspirasi bagi Sanggar Seni Kalingga, Banjar Teba, Kelurahan Jimbaran, Badung dalam pementasan mereka di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-41, Selasa (19/6).

Inpirasi tersebut kemudian diwujudkan dalam sebuah garapan tari kreasi yang berjudul Anglayang. Sesuai namanya, permainan tradisional melayangan menjadi referensi yang ditransformasikan ke dalam berbagai bentuk pola gerak tari.

Inspirasi dan referensi yang diolah Komang Adi Pranata, selaku penggarap tari kreasi Anglayang tersebut, tentunya sejalan dengan tema utama PKB Ke-41 “Bayu Pramana.”  Karena untuk menerbangkannya, layangan sangat memerlukan adanya hembusan angin.

Di Bali, melayangan juga punya tempat yang istimewa. Dia menjadi sebuah tradisi unik yang kerap dimainkan komunitas pecintanya. Terutama anak-anak muda yang tergabung dalam sebuah komunitas layangan atau sekaa. Terlebih saat ini sampai dengan beberapa bulan ke depan, musim layangan sudah dimulai.

Garapan dari Kabupaten Badung ini menunjukkan sebuah wujud menghargai sumber daya angin melalui permainan layang-layang. Gerakan para penari yang seluruhnya adalah laki-laki memperlihatkan gerak angin yang kuat dan dinamis.

Dengan kostum berwarna putih dan didukung dengan properti berupa tali yang dipasang di tiang penyangga Kalangan Angsoka, membuat garapan ini kian erat dengan tema PKB tahun 2019.

Sebagai sebuah tari kreasi, tentu ada nilai kebaruannya. Pementasan Tari Anglayang di Kalangan Angsoka, penuh sesak oleh penonton yang memadati panggung sejak pukul 11.00.

Selain tari Anglayang, sanggar ini juga menyuguhkan dua tarian lain, yakni

tari kreasi berjudul Semara Dudu serta tabuh bebarongan berjudul Ewer sebagai pembuka pementasan.

Sedangkan Semara Dudu  mengangkat kisah cinta segitiga antara Jayapangus, Kang Cing Wei, dan Dewi Danu. Tarian ini terbilang unik dari segi performa, khususnya untuk pemeran sosok Kang Cing We dan Dewi Danu.

Sebab, dua sosok tersebut diperankan oleh satu orang. Di bagian depan penarinya menampilkan sosok Dewi Danu, sementara bagian belakangnya menampilkan sosok Kang Cing Wei.

Tentu tidak mudah untuk melakonkan dua sosok sekaligus. Terutama dari sisi penghayatannya. Namun penampilan sosok Kang Cing We dan Dewi Danu tersebut sukses dibawakan oleh Kadek Ayu Era Pinatih. Sosok penari yang harus gonta-ganti peran tersebut.

Penggarap sekaligus penari, Era, merasa tertantang dalam membawakan tarian tersebut. Dia menuturkan,  tarian tersebut tercetus pada 2015 lalu. “Saat itu saya sedang ujian di ISI Denpasar,” ujar Era.

Sejak saat itu, Era terus bereksperimen, sembari meningkatkan elastisitas tubuhnya dengan latihan secara terus-menerus. Terutama untuk “menghidupkan” dua karakter yang mesti ditarikan.

Sebagai refrensinya, Era menyebut nama seniman tari Didi Nini Thowok, sang maestro tari Indonesia. Selama ini, Didi kerap menari dengan memainkan dua peran sekaligus.

“Saya terinspirasi beliau (Didi Nini Thowok). Namun saya mengemas geraknya dengan kisah dan pakem khas Bali,” jelas Era sembari tersenyum.

Sebelum kedua garapan tari kreasi yang memukau tersebut, sebagai pembukan dipersembahkan sebuah tabuh bebarongan bertajuk Ewer. Umumnya, masyarakat Bali mengenal istilah ewer sebagai arti dari jahil.

Meski ewer dipandang sebagai perilaku buruk, namun sang penggarap yakni I Wayan Bayu Antara menganggap bahwa ewer merupakan tingkah kreatif yang dapat mempererat keyakinan dan kerja sama dalam sebuah komunitas maupun keluarga.

Dari Ewer, Anglayang, hingga Semara Dudu memadukan pola tingkah, spirit melayangan, dan kisah asmara membuat ketiga garapan tersebut menjadi satu kesatuan yang unik dan dinamis.

Sementara itu, Adi Pranata pun mengungkapkan bahwa untuk membuat garapan kreasi harus senantiasa melihat kondisi sekitar dan menerjemahkannya dalam pola gerak yang khas dan mengakar pada budaya Bali. “Boleh kita berinovasi, tapi jangan lupa dengan tradisi,” pesan Adi sambil tersenyum.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia