Selasa, 19 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features

Derita Dadong Puspa, Hidup Sendiri, Derita Penyakit Gondok

19 Juni 2019, 20: 07: 14 WIB | editor : I Putu Suyatra

Derita Dadong Puspa, Hidup Sendiri, Derita Penyakit Gondok

HIDUP SENDIRI: Kondisi Dadong Puspa dengan penyakit gondoknya. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Nasib kurang beruntung dialami Dadong Nyoman Puspa, 80. Di usia senjanya Dadong Puspa hidup di bawah garis kemiskinan sejak berpuluh-puluh tahun. Malangnya lagi kondisi kesehatannya terganggu lantaran mengalami penyakit gondok.

Lansia asal Banjar Pugpug, Lingkungan Sangket, Kelurahan Sukasada, Buleleng keseharaiannya tidur disebuah gubuk, tanpa beralaskan kasur. Bahkan, tempat tinggalnya kini tergolong jauh dari kata layak.

Penyakit gondoknya kini ukurannya mencapai  dua kepalan tangan orang dewasa. Penyakit yang dideritanya sejak masih berusia 20 tahun itu semakin menggerogoti tubuhnya. Akibatnya, Dadong Puspa pun kian sulit untuk bicara.

Dadong Puspa menceritakan sejatinya ia memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang diserahkan oleh pihak Dinas Sosial Buleleng. Sayangnya, Dadong Puspa enggan memeriksakan penyakitnya itu ke dokter. Ia lebih memilih mengonsumsi obat-obatan tradisional seperti jamu.

Di gubuk itu, Dadong Puspa hanya tinggal seorang diri. Ia telah lama bercerai dengan suaminya. Perceraian itu terjadi saat anak pertamanya yang sejatinya kembar, meninggal dunia saat masih berada di dalam perut. Sialnya, Sang suami pun tega meninggalkannya.

"Uling pidan kalian kurnan. Pedidian megarapan. Maan ngadep keranjang, bedeg adep ke kota. Jani be sing kuat. Sesak nafas (Selama ditinggal suami, berjuang sendiri. Sempat bikin keranjang dan bedeg, dijual disekitar kota. Sekarang sudah tua sering sesak nafas, jadi diam saja di gubuk," urainya dengan terbata-bata.

Sejatinya, di sebelah gubuk milik Dadong Puspa, terdapat rumah sang adik, bernama Made Susila 65. Namn rumah tersebut juga sangat jauh dari kata layak. Tidak memilki jamban, serta dihuni oleh dua kepala keluarga (KK). Kondisi inilah membuat Dadong Puspa memutuskan untuk tidur di gubuk reotnya.

"Rumah saya ini kecil. Dihuni dua KK. Saya sebenarnya tidak tega liat kakak (dadong Puspa,red) tidur di gubuk itu, hanya dengan beralaskan tikar. Tapi mau bagaimana. Kondisi ekonomi kami juga sangat pas-pasan. Hanya cukup untuk menanggung makan anak, cucu-cucu dan kakak," terang Made Susila.

Kondisi inipun mendapat perhatian dari Dinas Sosial. Melalui Kabid Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Buleleng, Luh Emi Suesti setiap bulan Dadong Puspa sudah diberikan bantuan sembako melalui yayasan setiap bulannya.

Rencananya, Pihak Dinsos akan membantu  Dadong Puspa dengan memberikan kasur atau bedah rumah. "Kami akan arahkan Kasur dan bedah rumah ke sana. Supaya tempat tidurnya layak. Biar ada kamar mandi juga, karena selama ini dadong itu mandinya di sungai," jelasnya.

Sedangkan terkait penyakit gondoknya, pihaknya pun akan melakukan cek medis agar bisa ditangani. "Nanti cek medis dulu apa mungkin bisa ditangani karena sudah tua juga ya, agak rentan. Nanti akan kami bawa ke RSUD untuk dicek seberapa jauh penyakitnya itu bisa ditangani," tukas Suesti.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia