Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali
Lika-liku Kehidupan Pemulung TPA Suwung (1)

Setiap Hari Dapat Handphone, Pernah Temukan Uang USD 1.000

19 Juni 2019, 21: 48: 40 WIB | editor : Nyoman Suarna

Setiap Hari Dapat Handphone, Pernah Temukan Uang USD 1.000

KUMUH: Sunarmi, 40, dan Aldi, 6, anak bungsunya duduk di atas tumpukan sampah botol plastik. Menyortir setiap jenis sampah setelah dikumpulkan dari TPA Suwung sebelum disetor ke pengepul. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung di Denpasar jadi tempat mengais rezeki bagi sebagian orang. Ratusan orang ini memulung dan memilah sampah yang datang dari berbagai kawasan di Bali untuk menafkahi keluarga. Bagaimana rasanya tinggal dan bekerja di tempat yang naïf bagi sebagian orang ini?

AGUS SUECA MERTA, Denpasar

Bersebelahan dengan jalan masuk ke Pura Sakenan, terdapat jalan masuk menuju Tempat Pembuatan Akhir (TPA) Sarbagita Suwung atau lebih sering disebut dengan nama TPA Suwung. Memasuki jalan TPA, Rabu (19/6), debu begitu banyak beterbangan. Truk-truk pengangkut sampah tampak lalu-lalang masuk dan keluar TPA yang masih cukup jauh di arah selatan itu.

Mulai memasuki wilayah TPA, kita yang belum terbiasa, akan buru-buru menutup hidung karena bau menyengat yang bikin mual. Bagi yang hidungnya sangat sensitive, bau ini tentu tidak bakalan tahan dan menyebabkan muntah. Selain itu, dari kejauhan sudah tampak sebuah bukit tempat sampah menjulang tinggi. Selain itu, proyek revitalisasi kawasan TPA Suwung pun jelas terlihat.

Lurus mendekati jalan tanjakan ke bukit lokasi TPA, kita akan melihat betapa tingginya gundukan sampah di tempat itu. Kemudian berbelok ke kanan, sebelum tanjakan tersebut, kita akan melihat tempat para pemulung tinggal sekaligus juga gudang para pengepul. Pemukiman itu terlihat sepi sekali, hanya ada satu dua yang lalu-lalang.

Jalan cukup besar jadi akses masuk ke gang-gang tempat tinggal para pemulung. Bertemu di sana, dengan keluarga pemulung yang sedang memilah sampah bernama Sunarmi, 40, duduk di atas tumpukan botol plastik lebih dari semeter tingginya.

Ibu pemulung ini dengan ramah menceritakan bahwa ia tinggal di sini bersama suami dan dua anaknya. “Dua anak saya yang lain tinggal di Probolinggo. Mereka bersekolah di sana. Sedangkan dua lainnya bersama saya di sini, yakni si sulung Kiki, 17 tahun dan Aldi, 6 tahun,” ucapnya

Bekerja sebagai pemulung di TPA Suwung sudah dilakoni sejak 13 tahun lalu bersama suaminya, Siswanto, 39, karena diajak sama teman orang tuanya yang jadi bos pengepul di TPA Suwung. “Gak punya lahan bertani di Jawa mas, jadi saat ditawari kerja di sini, saya sama suami ikut dah,” ujarnya.

“Bos saya sih, bawain 50 orang mas, dan semuanya tinggal di satu bedeng. Satu keluarga dapat satu kamar di bedeng itu,” terangnya saat ditanya tempat tinggalnya.

Mengingat letak TPA Suwung dekat pantai, ibu dari empat anak ini pun mengaku kalau air untuk mandi yang di sumur rasanya asin dan warnanya kekuningan. “Pertama sampai sini, badan gatal-gatal mas pas mandi. Tapi sekarang, karena sudah biasa, jadi gak apa-apa,” ucapnya.

“Kalau untuk minum, kami sekeluarga pakai air galon isi ulang mas, ini anak bungsu saya dulu waktu kecil juga mandi pakai air galon isi ulang. Tapi sekarang sudah biasa dengan air di sini,” imbuhnya.

Soal pendidikan anak-anaknya, Sunarmi menjelaskan, semua disekolahkan di kampung halamannya, termasuk Aldi yang sekarang TK juga di Probolinggo. “Ini lagi libur, makanya sama saya mas. Cuman anak sulung saya si Kiki yang tetap di sini sekarang. Dia kerja di luar sama orang, gak ikut mulung,” terangnya.

Sambil memilah botol plastik, Sunarmi pun menerangkan bahwa pendapatannya sebagai pemulung bersama suami dibayar dua minggu sekali. “Kalau rata-rata itu Rp 1,3 juta mas. Itu sudah berdua sama suami mas, bukan sendiri-sendiri!” ucapnya.

“Gak cukup mas, apalagi buat biaya sekolah,” ujar Siwanto, 39, suami Sunarmi yang menjawab saat ditanyai apa cukup itu untuk keseharian.

“Makanya, suami saya cari kerja sambilan mas. Kayak cari botol-botol minuman merek luar negeri dan dijual sama orang,” timpal Sunarmi.

Sunarmi pun menjelaskan tentang benda yang ditemukan bersama suaminya di tempat tersebut. Mulai dari uang hingga ponsel yang masih bagus. “Pernah sekali nemu uang dollar (Amerika, Red) senilai 1.000, lalu kami tukar. Kalau ponsel mah tiap hari, bahkan dari yang sudah mati sampai masih bagus bisa nyala. Kemudian semua hal yang seperti itu kami jual untuk menambah biaya hidup sehari-hari dan bayar sekolah anak,” cerita Sunarmi sambil kembali memilah sampah.

Ditanya soal libur, ia mengaku tidak ada jadwal libur karena tergantung masing-masing pemulung. “Kalau saya, pulang tiap tiga bulan sekali selama dua minggu. Ini sekarang TPA masih sepi, karena masih libur Lebaran dan teman-teman banyak belum kembali dari kampung,” ujarnya seraya menambahkan, ingin berhenti jadi pemulung dan pulang kampung.

“Inginnya berhenti mas dan tinggal di rumah. Namun apa daya, di Jawa gak ada lahan buat digarap, jadinya mesti tetap geluti profesi ini karena untuk bayar tunggakan utang mas,” pungkasnya.

(bx/aim/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia