Selasa, 19 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Rawat Sastra Bali Modern, Yayasan Made Sanggra Diresmikan

20 Juni 2019, 17: 19: 47 WIB | editor : I Putu Suyatra

Rawat Sastra Bali Modern, Yayasan Made Sanggra Diresmikan

YAYASAN: Peresmian Yayasan Wahana Dharma Sastra Made Sanggra, di Balai Banjar Gelulung, Desa/Kecamatan Sukawati, Gianyar, Kamis (21/6). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Untuk mengenang dan merawat sastra Bali Modern, Yayasan Wahana Dharma Sastra Made Sanggra, Kamis (20/6) dieresmikan. Peresmiannya pun dilakukan pada Balai Banjar Gelulung Desa/Kecamatan Sukawati. Selain dihadiri oleh keluarga besar Made Sanggra, beberapa muridnya pun hadir sebagai rasa penghormatan jasa almarhum.

Salah satu putra almarhum, I Made Suarsa menjelaskan keinginan mendirikan yayasan merupakan cita-cita almarhum semasa hidupnya. Sehingga baru terwujud setelah 12 tahun meninggalnya Made Sanggra. Pendirian yayasan itu pun dikatakan baru digagas pada setahun sebelumnya. Tepatnya pada keluarga besar almarhum meluncurkan sebuah buku kumpulan cerpen dan puisi Bali anyar yang berjudul “Bir Bali”.

“Setelah peluncuran buku Bir Bali itu, kita mulai ngobrol serius untuk mendirikan yayasan. Tepatnya di Rumah Budaya Penggak Men Mersi, Kesiman, Denpasar,” jelasnya di sela-sela peresmian yayasan, tersebut.

Dalam kesempatan itu pun ia mengatakan, alrmarhum Made Sanggra selalu berpesan agar ikut menghidupkan sastra Bali modern kepada genarasi yang ada saat ini. Dijelaskannya juga mengapa yayasan tersebut diresmikan pada 20 Juni, mengingat 20 Juni sangat bersejarah bagi keluarga besar almarhum.

Diungkapkan Made Sanggra meninggal pada usia 81 tahun, tepatnya pada tanggal 20 Juni 2007. Sebagai penerusnya, 5 putranya kini bergulat pada bidang sastra. Terdiri atas Prof Dr I Wayan Windia (guru besar di Fakultas Pertanian Unud), I Made Suarsa (dosen Fakultas Sastra Unud), Putu Suarthama (seorang penulis dan jurnalis), Made Suarjana (mantan jurnalis Majalah Tempo), serta Ketut Gde Suaryadala (Kepala Bidang Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Kota Denpasar).

“Almarhum memiliki tujuh anak, lima laki-laki dan dua perempuan. Sedangkan dua anak perempuan almarhum lebih memilih menjadi pelaku usaha di Pasar Seni Sukawati,” imbuhnya.

Pada tempat yang sama, Ketua Yayasan  tersebut, I Made Suarjana mengatakan yayasan ini akan menjadi tempat untuk berdiskusi, membedah dan melahirkan karya sastra Bali. Putra keempat almarhum itu juga menyebutkan salah satu pesan yang masih dikenang saat ini adalah berbahasa Bali agar jangan menjadi wacana, namun menjadi laksana dan bila tidak akan menjadi bencana.

Menurutnya, menjalankan misi dari almarhum untuk melestarikan bahasa dan sastra Bali dengan membentuk wadah.  Sehingga seni sastra Bali bisa bangkit sejalan dengan perkembangan kebudayaan Bali yang juga dilandasi sastra-sastra Bali.

Almarhum selain sebagai veteran, juga pernah duduk sebagai anggota DPRD Gianyar.  Membukukan Cerpen Berbahasa Bali, yakni Ketemu Ring Tampaksiring dan pupulan Puisi Ganda Sari. Yayasan tersebut diresmikan oleh Kadisbud Bali, Wayan Kun Adnyana dan dihadiri oleh beberapa murid idiologisnya seperti Prof Wayan Dibia, Mas Ruscita Dewi dan seniman lain seperti Abu Bakar, Nyoman Erawan, Jengki Sunarta, Made Manda serta seniman lain dan masyarakat.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia