Rabu, 24 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Pertama Kali di PKB, Kembang Waru-Shanshin Shitamchi Berkolaborasi

20 Juni 2019, 22: 15: 23 WIB | editor : Nyoman Suarna

Pertama Kali di PKB,  Kembang Waru-Shanshin Shitamchi Berkolaborasi

KOLABORASI: Sanggar Seni Kembang Waru berkolaborasi dengan Shanshin Shitamchi, Jepang, Kamis (20/6) di PKB Ke-41. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Pada usianya yang ke-41 tahun, Pesta Kesenian Bali (PKB) kian mendunia. Hampir tiap tahun ada saja partisipan seni dari provinsi lain maupun dari luar negeri yang turut serta. Beberapa di antaranya bahkan sudah rutin ikut tiap tahunnya.

Negara Jepang, terhitung sudah beberapa kali ikut serta sebagai partisipan. Baik saat pawai pembukaan maupun dalam pementasan. Bahkan ada yang sampai mengkhususkan diri untuk bisa tampil di PKB. Salah satunya, Sanshin Shitamchi dari Tokyo.

Kali ini, Sanshin Shitamchi akhirnya berkesempatan untuk berpartisipasi dalam PKB tahun ini, berkolaborasi dengan Sanggar Seni Kembang Waru, Denpasar.

Kolaborasi seni musik ini terwujud dalam pementasan yang berlangsung, Kamis (20/6) di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali. Kolaborasi tersebut menyuguhkan beberapa komposisi musik yang dihasilkan dari perpaduan instrumen musik tradisional dari masing-masing kelompok.

Sanggar Seni Kembang Waru hadir dengan gamelan Semara Pegulingan, Rindik, dan Gender Rambat. Sementara dari Sanshin Shitamchi hadir dengan alat musik petik, Shitamci, sesuai dengan nama kelompok seni tersebut.

Setidaknya ada 18 komposisi lagu yang mereka mainkan, di antaranya Hanjobushi, Yutaka Bushi, Jyuku no Haru, Yazaki no Shirushi, Agaroza, Hamachidori, Tsukinukaisha, Katanaika, Kehitori Bushi, Kanayo, Agitikuten, Iyuhaitikuten, Asadoya Yunta, Shindensa, Danjyukariyushi, Yugagunke, dan Kachashi.

Komposisi lagu-lagu itu dihasilkan dari perpaduan instrumen gamelan Semara Pegulingan dengan Shansin. Perpaduannya menghasilkan nuansa musik yang kalem dan lembut.

Shansin sendiri merupakan alat musik petik tradisional Jepang, sejenis gitar yang terdiri dari tiga senar. Sementara Semara Pegulingan yang didominasi gender memiliki karakter menenangkan.

Di balik pementasan itu, rupanya ada proses kolaborasi yang tidak instan. Berbagai penyesuaian mesti dilakukan dalam beberapa kali sesi latihan. Seperti dituturkan Pembina sekaligus Ketua Sanggar Kembang Waru, Ketut Radita.

“Jelas ada kesulitan. Karena dua kutub yang berbeda,” jelas Radita usai pementasan.

Kesulitan ini dilatarbelakangi karakter musik yang berbeda, misalkan dari segi tempo. Menurutnya, karakter musik gamelan Bali yang dinamis cenderung memainkan tempo yang cepat. Meskipun sesekali ada yang lambat. Sementara karakter musik Japang lebih pelan dan cenderung monoton.

Meski begitu, titik temu dari perbedaan dua karakter tersebut bisa dicapai melalui proses latihan dalam beberapa kali sesi. Ditambah lagi “toleransi” dalam mengolah karakter musik dari masing-masing budaya yang terlibat dalam proyek kolaborasi ini.

“Hal  bisa disesuaikan melalui proses latihan. Sesekali kami mengikuti ritme mereka, atau sebaliknya,” sambungnya.

Untuk proses latihan diawali dengan mempelajari materi musik yang akan dibawakan kelompok Sanshin Shitamchi. Itu pun tidak langsung latihan bersama, melainkan dengan mengirimkan file musik terlebih dulu untuk proses penyesuaian dengan gamelan Bali.

“Selanjutnya guru mereka datang ke Bali untuk latihan bersama. Pertama, Maret, kemudian Mei. Dua hari baru seluruh member latihan bersama. Jadi perlu waktu tiga bulan untuk membuat kolaborasi ini,” imbuhnya.

Radita sendiri menyebutkan, ini merupakan koloborasi perdana mereka dengan kelompok musik lainnya, khusunya dari negara Jepang. Kendati di sanggar mereka tidak sedikit juga warga Jepang yang belajar gamelan Bali.

Gayung bersambut, kelompok seni Shanshin Shitamchi tersebut juga sudah lama ingin tampil di PKB. Meskipun di awal mereka kesulitan mengakses informasi bagaimana caranya untuk bisa tampil di PKB.

“Awalnya mereka tidak mengetahu bagaimana caranya (tampil di PKB). Kemudian ada penghubung. Orang Jepang juga yang kebetulan tinggal di Bali. Mereka (kelompok Shanshin Shitamchi) dihubungkan dengan kami,” beber Radita.

Sementara itu, salah seorang anggota Sanggar Kembang Waru, yakni Yoko Ogawa, mengaku senang dapat terlibat dalam pentas kolaborasi ini. “Saya senang, jadi banyak belajar,” tutur Yoko.

Belajar memainkan alat musik gender wayang telah dilakoni Yoko selama tiga tahun terakhir ini. “Saya diajak Pak Tut Radita dan teman saya pun ikut,” terang Yoko.

Keinginannya untuk mempelajari gamelan Bali sekaligus menetap di Bali membuat Yoko mengambil kuliah khusus mahasiswa asing di Universitas Udayana guna memperlancar kemampuannya berbahasa Indonesia.

Dari pengamatan Yoko, orang Jepang cukup banyak yang mempelajari budaya Bali, khususnya tari dan gamelan Bali. Dengan belajar gamelan Bali, Yoko mengatakan, bahwa dirinya dapat mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia