Rabu, 24 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Jineng Beralihfungsi Ikuti Arus Peradaban

21 Juni 2019, 09: 12: 06 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jineng Beralihfungsi Ikuti Arus Peradaban

EKSIS: Jineng tetap eksis di Tabanan, meski sejumlah warga tak lagi menyimpan padi hasil panennya. Jineng dibangun karena ingin mempertahankan tradisi, di samping bisa digunakan untuk tempat istirahat dan ngobrol, seperti Bale Bengong. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Keberadaan bangunan Jineng di daerah Tabanan sudah tidak asing lagi. Apalagi fungsinya bisa terbilang vital, sebagai tempat menyimpan padi setelah petani selesai panen. Bagaimana kini nasib bangunan yang juga dinamai Lumbung ini?

Jineng atau Lumbung atau ada pula yang menyebut Gelebeg ini, selalu ada di setiap pekarangan rumah, khususnya masyarakat Tabanan. Dari segi niskala, Jineng merupakan simbol Dewi Sri sebagai saktinya Dewa Wisnu yang merupakan Dewi Kemakmuran.


Namun di tengah peradaban zaman, fungsi bangunan yang bentuknya unik ini  mulai fleksibel. Bisa digunakan untuk menerima tamu, tempat bersantai layaknya Bale Bengong, hingga temoat membuat upakara.


Pada umumnya, Jineng yang ada di rumah warga posisinya terletak di  bagian kiri dari arah pintu masuk. Jineng punya  bentuk unik, sedikit memanjang dan mengerucut dengan memakai saka atau tiang bangunan berjumlah empat atau enam.


Ukuran Jineng pun bervariasi, tergantung dari luas sawah yang dimiliki warga tersebut. Selain ukuran yang membedakan, juga bentuk motif. Belakangan ini, bangunan Jineng yang dibuat dilengkapi juga dengan bermacam aksesoris, seperti ukiran. Dan, pembuatan Jineng pun biasanya menghabiskan waktu hingga 15 hari. 


Keberadaan Jineng hingga kini  masih eksis. Bahkan, masyarakat yang tidak memiliki sawah pun banyak yang membuat Jineng di rumahnya karena memang bernilai estetik tinggi. "Jineng tetap eksis sampai sekarang, apalagi di kampung-kampung, bisa dikatakan masih tetap lestari," ujar Kepala UPT Museum Subak, Ida Ayu Ratna Pawitrani kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Tabanan.


Terlebih saat ini Jineng juga berfungsi fleksibel. Bisa menjadi tempat bersantai, menerima tamu, tempat membuat upakara dan tempat untuk menyajikan makanan ketika dalam suatu rumah memiliki acara. "Jadi, ini juga salah satu penyebab Jineng di Tabanan masih bertahan," lanjutnya.


Sebenarnya sudah sejak lama fungsi Jineng tersebut fleksibel. Karena masyarakat di Tabanan usai panen padi tidak serta merta langsung disimpan di Jineng. Agar lebih praktis mereka akan menaruh di bawah (di lantai). Namun,  ada pula yang padinya langsung dijual di sawah tidak dibawa pulang. Tetapi yang melakukan hal tersebut hanya sebagian, lebih banyak mereka tetap menyimpan di Jineng sebagai stok pangan.  


Jineng masyarakat di Tabanan juga memiliki ciri khusus. Di masa lalu,  kebanyakan bangunan Jineng dirancang dua tingkat dan keseluruhanya dalam keadaan tertutup. Namun sekarang, karena memiliki fungsi yang fleksibel, maka di bagian bawah bangunan Jineng dibuka agar bisa dimanfaatkan, di samping terlihat lebih artistik.
"Kalau dulu bangunan Jineng kita di Tabanan, tertutup sesuai dengan tutur para tetua," sebutnya.


Makanya, tak mengherankan bila Jineng masih bertahan, meski sudah tidak lagi ada tradisi panen atau tidak punya lahan sawah.


Salah seorang warga asli Tabanan, Donny Darmawan mengaku tetap mempertahankan warisan budaya dengan membuat Jineng, meskipun tidak memiliki sawah.  Donny ingin menerapkan petunjuk dari ajaran Asta Kosala Kosali bahwa setiap rumah memang harus dilengkapi dengan Jineng. "Saya tidak punya sawah, tetapi membuat Jineng. Sebenarnya dulu saya sudah punya Jineng hanya saja dibongkar oleh orang tua saya, karena kami tinggal transmigrasi. Namun sekarang saya ingin kembalikan roh Jineng ini lagi," ujarnya.


Kendatipun tidak difungsikan sebagai tempat menyimpan padi karena tidak memiliki sawah, Dewa Nini atau puluhan tangkai padi yang diikat sebagai simbol Dewi Sri, tetap disimpan di dalam Jinengnya tersebut. Di samping itu, Jineng yang dibangunnya tersebut digunakan sebagai tempat menerima tamu, tempat makan dan tempat mencari inspirasi. "Kalau ada teman atau kolega datang ke rumah, saya ajak dulu duduk di Jineng. Karena saking nyamanya, teman kadang tidak mau pindah ke teras rumah, sehingga fungsinya seperti Bale Bengong," jelasnya. 


Bahkan, pria asal Banjar Bongan Gede, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan itu,  juga mempercayai sesuai dengan kepercayaan para tetua, tamu datang ke rumah harus dipersilakan lebih dulu ke Jineng untuk meminimalisasi aura negatif. "Secara logika tamu dan kolega tidak mungkin membawa aneh-aneh atau mencelakai, hanya karena mereka perjalanan jauh, hal-hal negatif pasti ada, sehingga perlu diminimalisasi atau dinetralisasi untuk istirahat sementara di Jineng," sambungnya.


Ia menyebutkan, Jineng dengan ukuran 1,5 meter x 2 meter itu,  dibeli seharga Rp 40 juta. Jineng yang dibeli polos tanpa ukiran, menggunakan kayu bingkrai karena  kuat, tahan panas serta hujan.


Ia pun tak menampik jika di era sekarang keberadaan Jineng masih eksis. Di samping itu,  vila ataupun bangunan yang lain sudah banyak membuat bangunan menyerupai Jineng. "Kalau saya sendiri memanfaatkan Jineng ini unik, saya jadikan tempat mencari inspirasi," sambungnya.


Menurutnya, tak sulit menemukan pembuat Jineng di Tabanan. Adapun sentra pembuatan Jineng diantaranya ada di wilayah Kecamatan Marga, Kecamatan Kerambitan, dan Kecamatan Penebel.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia