Rabu, 24 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Bali Under The Moon

Jadi Dancer, Ni Kadek Atik Trisna Dewi:Orang Awam Akan Menilai Negatif

21 Juni 2019, 14: 28: 24 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jadi Dancer, Ni Kadek Atik Trisna Dewi:Orang Awam Akan Menilai Negatif

TERGANTUNG TEMA: Menyangkut dengan pakain, namanya Dancer pasti menyesuaikan dengan tema. Jika memang harus seksi, wajib seksi. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, KUTA - Sukses malang melintang di jagat seni tari, tak membuat semangatnya redup untuk tetap tampil menghibur. Malah, sosok Ni Kadek Atik Trisna Dewi membulatkan tekat untuk serius melatih skill demi pengembangan bakat. Lebih dari itu, motivasinya pun kian kuat, meski banyak stigma negatif dari sebagian masyarakat tentang profesi dancer. 

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, hobi yang dijadikan profesi ini tampak mantap bagi dara cantik yang akrab disapa Atik. Bagaimana tidak, ketekunan serta kerja keras untuk bisa sampai pada titik sekarang, tidak semudah membalikan telapak tangan. Membuka jejaring relasi dan ikut aktif dalam serangkaian gigs, event atau acara di sejumlah tempat, kian menghantarkan namanya ikut ‘mengudara’.
Sejumlah konsep tarian dengan beragam jenis kostum pun sangat profesional dilakoninya. Sebut saja salah satu contoh, sosok Atik kerap tampil di sejumlah tempat atau veneu panggung hiburan malam di Bali. Tentu tampil di tengah nuansa yang sangat kental dengan ingar-bingar euforia para party lovers ini, Atik dan sejumlah kawan-kawan lainnya ‘unjuk gigi’ dengan kostum seksi. Bersama dengan agency dance performace ternama di Bali yang berdiri sejak tahun 2000 silam yaitu Neny Dancer, atik tampil begitu energik dan profesional.

Meski demikian, ia tak memungkiri jika profesi tersebut kerap mendapat stigma buruk atau anggapan miring dari sebagian masyarakat. Mengingat, dunia malam sangat rentan dengan gaya ‘pergaulan bebas’. Tidak hanya itu, mengenakan kostum seksi pun kerap dianggap ‘murahan’. Terkait persoalan itu, perempuan kelahiran Denpasar, 11 September 1997 ini pun mengaku untuk enggan memikirkannya. 
“Saya tidak terlalu menanggapinya ya. Saya sih cuek aja. Saya mengerti, mereka yang menanggap buruk dan negatif itu hanya orang awam saja. Kalau mereka tau seni, tidak akan menanggapnya buruk,” kata dia. “Contohnya dengan kostum seksi. Kalau tariannya sudah pakemnya seperti itu. Dan kostumnya juga seperti itu. Ya mau gmna? Dan tidak semua dance itu bernuansa seksi juga. Ada dance yang glamor dan exstreme. Kalau orang yang paham tidak akan berkomentar buruk,” tutur Atik dengan sedikit tertawa saat diwawancarai Bali Express (Jawa pos Group).

Dalam prakteknya, Atik menceritakan jika peran dancer selalu tampil sesuai dengan konsep event. Termasuk style kostum yang dikenakan pun mengikuti permintaan. Sehingga, ketika apa yang diperlihatkan betul-betul sesuai dengan profesi dan track yang ditentukan. 
“Tidak semua dance yang tampil buka-bukaan. Tergantung seorang dancer-nya gimana. Dan untuk kostum sendiri, tergantung tema juga. Kalau yang seharusnya tertutup, ya tertutup. Kalau yang harusnya seksi, ya harus seksi. Bukan yang buka-bukaan, tapi seksi dalam kostum yang seharusnya dan sesuai. Contohnya, belly dance. Tarian belly dance ya harus memperlihatkan perut. Jadi kita sesuaikan kostum untuk belly dance,” jelasnya. 

Perempuan berusia 21 tahun ini juga menambahkan, meski peran dancer yang mampu mendongkrak karir serta finansial ini masih dianggap sebelah mata, namun Atik masih tetap semangat untuk terus bertahan di jalur seni tari. Apalagi, dukungan dari orang tua dan keluarga sangat berpengaruh besar terhadap pilihannya. “Ya orang tua sangat-sangat mendukung. Dan juga gini, Yang membuat saya tertarik pada dunia dance itu ialah dance itu hal yang sangat menyenangkan. Kita bisa mengekspresikan diri kita ke dalam sebuah tarian melalui gerak tubuh kita. Terlebih, di usia saya yang masih 21 tahun ini, manfaat positifnya menggelutin dunia dance yaitu Saya sudah berpenghasilan sendiri,” Pungkasnya. 

“Selain itu, dance bukan sekedar dance aja. Tapi juga sebagai olahraga tubuh dan tubuh kita bisa menjadi lebih sehat. Sekarang kan banyak olah raga dance yang modern. Seperti Aerobic, Zumba yang lagi hits sekarang ini. Jadi ya, selagi sifatnya masih positif, kenapa ngga kita lakoni,” turup Atik. 

(bx/vir/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia