Kamis, 18 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Features

Pabrik Korek Terbakar, 30 Orang Tewas Terpanggang, Ibu Anak Berpelukan

21 Juni 2019, 20: 58: 58 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pabrik Korek Terbakar, 30 Orang Tewas Terpanggang, Ibu Anak Berpelukan

EVAKUASI: Petugas melakukan evakuasi korban kebakaran pabrik korek api di Binjai, Langkat, Sumur, Jumat (21/6). (SUMUT POS)

Share this      

BALI EXPRESS, BINJAI - Tangis histeris pecah ketika api membakar sebuah pabrik rumahan merakit mancis (korek api gas), di Jalan Perintis Kemerdekaan, Pasar 4, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Langkat, Jumat (21/6) siang pukul 11.30 WIB. Sebanyak 30 orang tewas terpanggang dalam kobaran api. Sepuluhan jenazah ditemukan menumpuk dalam satu ruangan. Ada juga beberapa jenazah ditemukan di ruangan lain, seperti kamar-kamar di dalam pabrik tersebut.

Mereka yang tewas terbakar merupakan pekerja di pabrik rumahan yang diduga ilegal tersebut. Para korban yang tewas terdiri dari ibu-ibu dan anak-anaknya. Empat orang pekerja dikabarkan selamat dari kobaran api.

Keluarga korban yang datang melihat ke TKP tak kuasa menahan air matanya. Mereka berteriak histeris. Satu diantaranya, Irma. Wanita berusia 40 tahun ini terus menangis. Air matanya jatuh membasahi pipi. "Saya kemari karena ada adik sepupu, Fitri (36) kerja di sini. Tadi pulang sekolah, anaknya Sifa yang masih kelas 4 SD datang bawa air minum untuk ibunya. Mereka meninggal berdua berpelukan di sudut (ruangan) itu," kata Irma kepada Sumut Pos di lokasi kejadian.

Menurutnya, Fitri dikaruniai dua orang anak perempuan yakni Sifa dan Aliya. Nahas, Sifa ikut menjadi korban dalam peristiwa kebakaran hebat itu. "Saya tahu jenazah mereka berpelukan, karena ada tanda cincin di jari anaknya (Sifa). Anaknya pakai cincin. Adik sepupu saya sudah 9 tahun kerja di situ," ungkap Irma sambil menyeka air matanya.

Tidak hanya Fitri, Yunita Sari juga meninggal dunia bersama dua anaknya yakni Pinja dan Sasa. Ada lagi Desi, juga menemui ajal bersama kedua anaknya Juna dan Bisma di dalam pabrik mancis tempatnya bekerja.

Dalam proses evakuasi, Kapolres Binjai AKBP Nugroho Tri Nuryanto langsung terjun ke TKP. Sedikitnya 9 unit ambulan dikerahkan untuk membawa seluruh jenazah yang sudah hangus terbakar ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan, Jalan KH Wahid Hasyim.

Informasi dihimpun, pabrik rumahan yang tidak diketahui namanya ini sudah memulai usahanya sejak 2002 atau 2003. Karyawan yang bekerja pertama kali kerja di sana saat itu diupah Rp1000 per kotak.

Satu kotak berisi 50 mancis. Di pabrik itu mereka bekerja memasang batu mancis. Disebut-sebut, usaha itu milik seseorang warga keturunan Tionghoa.

Lantas, mengapa para pekerja itu bisa terjebak dalam kobaran api di pabrik rumahan itu? Menurut informasi dari warga sekitar, pintu bagian depan rumah yang dijadikan pabrik itu memang selalu dalam keadaan terkunci. Sehingga akses keluar masuk karyawan pabrik dari pintu belakang.  (ted/bam/jpg)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia