Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Tradisi Mapengenduh di Desa Kekeran

Haturkan Segehan Rangda hingga Uled di Tempat Pembakaran Jenazah

22 Juni 2019, 11: 20: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Haturkan Segehan Rangda hingga Uled di Tempat Pembakaran Jenazah

SEGEHAN: Segehan cicing (kiri) dan segehan durga. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Desa Kekeran, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, memiliki sebuah tradisi unik yang wajib hukumnya dilaksanakan saat jelang Pujawali di Pura Kahyangan Tiga. Sebab, jika tidak dilaksanakan, pelaksanaan pujawali dewa yadnya di Pura Kahyangan Tiga diyakini akan mengalami hambatan dan diserang wabah penyakit.

Tradisi itu disebut krama dengan upacara Mapengenduh. Tradisi ini dilaksanakan di Setra Desa Pakraman Kekeran. Tepatnya dilaksanakan di tempat pembakaran jenazah atau pamuwon yang merupakan stana dari Dewi Durga.

Haturkan Segehan Rangda hingga Uled di Tempat Pembakaran Jenazah

MAPENGEDUH: Tradisi Mapengenduh digelar di tempat pembakaran jenazah, Desa Kekeran, Busungbiu, Buleleng. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Menurut tokoh masyarakat Desa Kekeran Ketut Agus Nova, S.Fil.H, M.Ag atau Jro Anom, tradisi Mapengenduh berasal dari kata ‘enduh’ atau ‘endah’ yang berarti mapiuning atau memberitahu. Jadi tradisi Mapengenduh ini dilakukan bertujuan untuk memberitahu kepada Dewi Durga ketika krama akan melaksanakan kegiatan pujawali di Pura Kahyangan Tiga maupun Dadia yang ada di Desa Kekeran.

Menurut Jro Anom, pujawali yang dimaksud tersebut adalah piodalan dewa yadnya seperti Pengebek, Karya atau Ngusabha yang ada di pura kahyangan tiga, maupun pujawali di Pura kahyangan Panti, dadia maupun kawitan.

“Nah beberapa hari sebelum pujawali digelar itulah diawali dengan tradisi Mapengenduh. Setelah itu barulah dilakukan dengan negem dewasa,” kata Jro Anom kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Jumat (21/6) siang.

Dikatakan Jro Anom, prosesi upacara Mapengenduh diawali dengan mapiuning di Pura Kahyangan Tiga dan Pura Prajapati. Barulah dilanjutkan dengan prosesi di Pamuwon yang dipimpin oleh Jero Mangku. Baik Jero Mangku yang ada di merajan maupun di Pura Kahyangan Tiga.

Prosesinya diawali dengan ngastawa tirta. Setelah itu barulah ngemargiang perersik. Saat itulah dilaksanakan mepiuning kepada Dewi Durga dan Ancangannya di Pamuwon. Kemudian dilanjutkan dengan persembahayangan bersama. Setelah itu menuju ke Beji untuk memohon tirta penglukatan

“Banten yang digunakan seperti banten suci, sorohan, sesipatan, peras pejati, segehan agung, caru biing,” beber Jro Anom.

Menariknya ada sejumlah segehan yang digunakan dalam upacara Mapengenduh ini. Seperti segehan macan, segehan rangda, segehan samong, segehan bulan-bulanan, segehan bianglala, segehan uled, segehan semut, angsa, cicing, naga dan segehan tulak.

Diungkapkan Jro Anom, segehan berasal dari kata “suguh” yang berarti menyuguhkan. Dalam hal ini segehan dihaturkan kepada  Bhutakala dan  juga Ancangan atau Iringan Betara dan Betari agar tidak mengganggu. Dengan segehan inilah diharapkan dapat menetralisir dan menghilangkan pengaruh negatif. Segehan juga dapat dikatakan sebagai lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan “Segehan dalam Mapengenduh ini merupakan lelabaan untuk Ancangan Beliau dengan harapan agar tidak mengganggu saat pujawali dewa yadnya yang dilaksanakan di Kekeran,” imbuhnya.

Selain menggunakan beragam segehan, yang menarik dari tradisi mapengenduh ini adalah penggunaan sanggah Durga. Sarana ini dipasang di pintu masuk pura atau kahyangan saat pujawali digelar. Tujuannya agar Ancangan atau Iringan dari Ida Bhtara tidak masuk ke dalam pura dan sudah dihaturkan lelabaan segehan di depan pura.

Lalu apa dampak jika saat pujawali tidak melaksanakan upacara mapngenduh? Lanjut Jro Anom dari penuturan para pendahulunya, konsekuensi yang timbul saat tidak melaksanakan Mapengenduh adalah upacara pujawali tidak berjalan lancar. “Sarana banten bisa saja diserang semut, diserang ulat. Bahkan banyak anjing yang masuk ke pura. Intinya tak bisa berjalan maksimal,” tuturnya.

Nah saat itulah muncul pawisik agar krama menggelar upacara Mapengenduh. Sebab apabila tidak melakukan upacara mapengenduh ini Dewi Durga akan menyebarkan mara bahaya seperti wabah penyakit baik saat pujawali maupun di luar pujawali.

Disinggung terkait pemimpin upacara mapengenduh, dikatakan Jro Anom jika pujawali dilaksanakan di pura kahyangan tiga, maka pemimpin upacara saat mapengenduh dilakukan oleh pemangku Pura Prajapati. Sedangkan jika dilaksanakan di Pura Panti, atau Dadia maka dipimpin oleh pemangku Dadia.

“Kalau padewasan saat Mapengenduh biasanya dilaksanakan saat Kajeng Kliwon, Tilem. Tapi yang jelas dilakukan beberapa hari sebelum pujawali dilaksanakan. Intinya hanya dilksanakan khusus untuk Upacara Dewa Yadnya yang besar,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia