Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Kesenian Tradisional dan Penonton Tradisional di PKB

Oleh: Made Adnyana Ole

22 Juni 2019, 08: 25: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kesenian Tradisional dan Penonton Tradisional di PKB

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

"ORANG tradisional itu udik, tani dusun, pondokan, kuno, dan selalu berpikir tentang masa lalu." Begitu suatu hari ujar seorang teman sekampung ketika saya ajak nonton joged bumbung dalam ajang Pesta Kesenian Bali di halaman depan panggung Ardha Candra Art Canter Denpasar.

Ujaran berlagak intelektual dusun itu keluar ketika saya menegurnya tepat pada saat sebatang rokok nangkring di mulutnya sementara tangannya  sedang kesulitan  mengeluarkan korek api dari kantong celana jins-nya yang ketat.

"Tidak boleh merokok di sini. Dendanya 500 ribu," dengkik saya. 

"Lho, kenapa tak boleh?  PKB itu kan tempat khusus pelestarian kesenian tradisional!?" kata dia mendelik.

"Apa hubungannya?" tanya saya

"Kesenian tradisional itu ditonton oleh orang tradisional. Orang tradisional itu, ya, seperti aku ini. Nonton joged duduk maplisahan, boleh juga jongkok, santai, sambil ngerokok atau mencet-mencet  kacang tanah dan kinyuk-kinyuk. Kalau bosan langsung pergi," katanya nyerocos.

Kalau sudah nyerocos si teman ini pastilah sulit ditahan. Jadi, saya biarkan ia ngerokok. Saya juga ikut keluarkan rokok, sambil cemas sekaligus jaga-jaga kalau ada Sat Pol PP yang iseng mendekat.

Peristiwa itu terjadi dua tahun lalu ketika Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sedang diterapkan dengan segencar-gencarnya. Saya tak tahu pada PKB tahun 2019 ini, apakah merokok dilarang dengan begitu ketat atau diterapkan dengan biasa-biasa saja. Seorang teman penyair sempat memberitahu saya: "Gubernurnya beda, kini boleh-boleh saja merokok. Kalau pun dilarang, Sat Pol PP-nya tak segalak dulu," katanya. Saya tak begitu percaya, tentu karena teman penyair itu memang perokok berat. Ia bisa saja ngarang-ngarang.

Tapi, di luar soal apakah merokok boleh atau tidak di Art Center, saya sebenarnya tertarik mengingat pendapat teman sekampung  saat menonton joged dua tahun lalu. Bahwa orang tradisional terbiasa menonton kesenian tradisional dengan amat santai, tanpa banyak aturan yang dibuat manusia modern, seperti dilarang makan dan minum, dilarang bunyikan HP dan tentu dilarang merokok. Jadi, dari pendapat itu, bolehlah disimpulkan; jika ingin melestarikan kesenian tradisional, maka penonton tradisional yang duduk maplisahan sambil ngerokok dan makan kacang juga perlu dilestarikan. Sebuah pendapat yang kedengarannya masuk akal, tapi tak masuk pada logika zaman yang terus berkembang.

Tapi sesungguhnya apa yang tradisional dan apa yang modern di PKB saat ini? 

Kata "tradisional" dan kata "modern" seringkali jadi warna lain dalam perdebatan dan kritik PKB dari tahun ke tahun, sejak dulu. Ketika teater modern masuk PKB, sejumlah orang seperti tak rela karena kesenian itu dianggap bukan seni tradisional warisan leluhur. Begitu pula ketika sastra berbahasa Indonesia masuk juga, dan kemudian film menghias PKB. 

Selain yang kontra, pendapat mendukung masuknya kesenian modern juga datang dari sejumlah seniman. Kesenian yang dianggap modern diyakini bisa memberi gesekan dan gosokan agar "panas" juga kesenian tradisional, sehingga mandegnya sejumlah bentuk kesenian yang dianggap tradisional seperti wayang, arja, juga drama gong, bisa hidup kembali. Entah lelah berdebat soal mana tradisional mana modern, atau karena sadar perdebatan tak banyak guna, maka semua bentuk kesenian itu  berjalan kemudian dengan biasa-biasa saja. Tak ada suara pro yang terdengar keras terhadap seni modern dan tak ada juga yang kontra terlalu ekstrem. Semua pertunjukan punya penonton sendiri-sendiri. Semua gembira dalam pesta aneka menu kesenian.

Saya senang, amatlah senang, karena batas definisi antara modern dan tradisional akhirnya kabur. Itu bagus. Karena perdebatan tentang definisi-definisi bisa dihindari, yang terjadi kemudian adalah perdebatan tentang kualitas ciptaan dan karya yang dipergelarkan. Jika pun ada kriteria untuk seni yang layak pentas, itu bisa dirumuskan secara lebih luas, bukan lagi rumusan kaku tentang apakah ia seni tradisional atau bukan.

Lebih senang lagi ketika kemudian masuk kesenian tamu dari daerah lain di nusantara dan kesenian "impor semalam" dari luar negeri. Semua kesenian tamu itu tentu saja mendobrak rumusan tentang seni tradisional. Pertanyaan-pertanyaan setelah itu tak mendapat jawaban, dan itu tak apa-apa, asalkan bisa ditonton dengan menyenangkan. Misalnya, apakah kesenian tradisional di Jepang bisa dianggap sebagai seni modern di PKB? Musik atau tari dari negara lain yang dianggap modern saat dipentaskan di PKB bisa saja sesungguhnya musik tradisional di negara asalnya. Penonton tak perlu tahu itu.

Yang tak disadari lambat laun adalah banyak terjadi pe-modern-an bentuk-bentuk kesenian tradisional di PKB atau bentuk kesenian yang berkembang di desa-desa. Wayang Cenk-Blonk meninggalkan cahaya blencong untuk menciptakan bayangan di kelir. Tentu karena cahaya dari  tata lampu modern dianggap lebih menggetarkan pada zaman yang hingar-bingar dan penuh warna ini. Bahkan gong kebyar, sendratari, apalagi lagu pop Bali, kini tak bisa lepas dari lampu-lampu yang ditata dengan pola-pola hiburan modern.

Dalam penciptaan bentuk, komposisi gerak dan musik, melodi, dan hal-hal yang berhubungan dengan penciptaan karya seni baru, patut diduga kesenian tradisional banyak menimba ilmu dari seni modern yang seakan tak rela dipentaskan di PKB. Gesekan untuk menciptakan api semangat kesenian sesungguhnya sudah berjalan, namun banyak orang seakan tak rela kesenian tradisional bergerak maju ke zaman modern. Masih ada yang memberi definisi sempit pada pelestarian kesenian tradisional, bahwa ia harus seperti zaman dulu, padahal di sisi lain ia sendiri tak kuasa menghadapi zaman.

Kembali soal rokok, pada PKB dua tahun lalu, sebuah grup seni janger dari Buleleng menampilkan adegan di mana sekaa gongnya yang menyanyi sambil merokok. Petugas dari Dinas Kebudayaan sempat melakukan tawar menawar sebelum pentas, agar adegan merokok dihilangkan. Itu dilakukan tentu karena Perda KTR saat itu sedang diterapkan dengan segencar-gencarnya.

Tapi grup kesenian itu bersikukuh tetap menampilkan adegan merokok. Sepertinya grup janger itu punya prinsip pelestarian yang lebih kuat dan lebih kaku dari jargon-jargon milik pemerintah urusan kesenian yang seringkali tak konsisten.

"Katanya kesenian tradisional harus dilestarikan, maka kami tak berani menghilangkan bagian merokoknya. Karena itu peninggalan leluhur kami," Begitu kata si seniman. 

Maka, adegan merokok muncul dalam pentas, dan penonton bersorak. (*)

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia