Selasa, 22 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

Banjar Workshop, Perkenalkan Wisawatan dengan Budaya Bali

23 Juni 2019, 15: 57: 17 WIB | editor : I Putu Suyatra

Banjar Workshop, Perkenalkan Wisawatan dengan Budaya Bali

CANANG : Belasan wisatawan asing praktik membuat canang di Balai Banjar Teges Kawan Yangloni, Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Gianyar, Minggu (23/6). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Aneh tapi nyata, hal itulah yang ada pada setiap benak orang ketika melihat balai banjar yang sehari-harinya sepi namun tiba-tiba dipenuhi oleh turis. Apalagi mereka melakukan kegiatan yang biasanya kita lakukan sebagai warga banjar setempat. Seperti yang dilakukan oleh 17 turis berbagai negara di Balai Banjar Teges Kawan Yangloni, Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Gianyar, Minggu (23/6). Mereka dengan asyiknya melakukan aktivitas layaknya krama banjar. Mulai ada yang menabuh, menari, membuat patung, hingga membuat sarana upacara berupa canang.

Sekretaris banjar setempat, Dewa Subawa menerangkan hal itu sebagai langkah memperkenalkan wisatawan tentang budaya Bali yang ada. Khusunya wisatawan yang tinggal pada penginapan di daerah banjar tersebut.

“Ini kita namakan Banjar Workshop, kita lakukan pengenalan budaya Bali kepada mereka melalui kegiatan-kegiatan apa saja yang biasanya kita lakukan di banjar. Kita juga lakukan empat kegiatan mulai nabuh, membuat patung, menari, hingga membuat jejahitan berupa canang,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Ia mengaku sampai saat ini pihaknya telah mendatangkan kelompok Banjar Workshop sekitar 10 group. Namun jumlah tersebut dalam setahun dengan masing-masing group terdiri atas 15 sampai 20 orang. Dengan dilakukan pada balai banjar, Subawa berharap dengan cara seperti itu kedepannya masyarakat setempat bisa melihat potensi yang ada.

“Kedepannya dengan kegiatan ini masyarakat bisa melihat potensi di dalamnya. Mulai merubah mainset, hingga yang lainnya. Seperti areal rumah ditata dengan rapi, penginapan bermunculan, tidak hanya membuka toko-toko. Melainkan agar yang masih membuat patung melanjutkan pekerjaannya, karena tidak dipungkiri turis ini nantinya akan belajar ke rumah-rumah warga,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, pelaksanaan workshop itu jadwalnya tidak menentu. Karena menyesuaikan dengan kesepakatan masing-masing group yang ada. Sedangkan yang dilakukannya hari itu hanya dua jam saja. Mulai dari pukul 10.00 sampai 12.00, selanjutnya mereka kembali ke beraktivitas baik ke penginapan maupun obyek wisata yang ada.

Disinggung dengan praktik pembuatan canang, Subawa mengaku dalam prosesnya sudah langsung diberikan pemahaman. Bagaimana dan apa saja yang berisikan pada canang tersebut. Ketika sudah selesai canang itu tidak dihaturkan, hanya saja dipajang dan difoto oleh masing-masing peserta workshop.

Begitu juga dengan menabuh, mematung dan menari. Ketika ada yang berkeinginan melanjutkan belajar dan medalaminya lagi ia mengaku dipersilahkan dengan masing-masing instruktur yang masih dari banjar setempat.

Ditanya apakah ada hubungannya dengan desa wisata?, Subawa menjelaskan akan mengarah kepada program desa wisata yang ada. Menurutnya, ketika desa wisata tidak didukung atau searah dengan program di banjar-banjar maka sangat susah mendirikan desa wisata tersebut. Sehingga dari banjarnya itu diharapkan juga bisa mempengaruhi banjar-banjar yang lain untuk membuat gebrakan serupa.

“Pariwisata yang bagus itu seperti inilah seharusnya, bisa kita langsung mengajak dan mempraktikkan langsung tentang budaya kita kepada wisatawan. Hal ini juga sebenarnya akan mengarah ke program desa wisata itu sendiri,” imbuhnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia