Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Lomba Kuliner PKB Bangkitkan Spirit Cinta Makanan Tradisional

23 Juni 2019, 23: 24: 51 WIB | editor : Nyoman Suarna

Lomba Kuliner PKB Bangkitkan Spirit Cinta Makanan Tradisional

KONSENTRASI: Lomba kuliner PKB ke-41, Minggu (23/6). Duta Jembrana, yakni SMAN 1 Mendoyo dengan karyanya berupa lima warna laklak bahan alami. (ARI KESUMA FOR BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 tahun 2019 kembali menampilkan materi lomba kuliner. Dalam lomba kuliner yang berlangsung Minggu (23/6), menampilkan ragam makanan khas Bali, seperti jajan laklak, jajan cerorot, tum ayam, jukut ares, dan masakan serba ikan. Untuk masakan serba ikan tersebut, taste-nya tradisional. Bumbu-bumbu yang digunakan adalah tradisional khas Bali. Total ada lima jenis materi masakan yang ditampilkan dalam lomba.

Kepala Bidang Kesenian dan Tenaga Kebudayaan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Ni Wayan Sulastriani menjelaskan, tujuan lomba ini yakni untuk melestarikan makanan khas yang ada di Bali. “Tentunya kami juga ingin memberikan pemahaman dan pengetahuan yang lebih luas kepada generasi muda untuk lebih mencintai dan menyantap makanan-makanan tradisional Bali. Untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman tersebut, peserta itu terdiri dari generasi muda. Umur mereka 16-21 tahun,” jelasnya.

Laklak dipilih menjadi salah satu materi perlombaan, karena menjadi salah satu kesenangan masyarakat. Hal itu terbukti dengan kuliner laklak yang sangat digemari. Selain laklak, cerorot dipilihan karena keunikan bentuk dan cara makannya.

 “Di Bali ada jajan yang bungkusnya dengan janur dan tergulung-gulung. Untuk makannya, harus didorong salah satu bagian. Itu kan unik dan menarik untuk disajikan pada wisatawan mancanegara sebagai destinasi pariwisata. Itulah alasan memilih materi tersebut untuk tahun ini,” terangnya.

Semakin tahun, tambahnya, semakin banyak peminat makanan tradisional Bali. Apalagi dalam rapat instansi pemerintah, kini juga menampilkan jajanan tradisional Bali. Selain itu, juga sudah didukung dengan adanya Pergub terkait dengan pemanfaatan industri lokal. “Ini kan merupakan industri kecil yang dibuat di Bali. Maka dari itulah, bagaimana kami bisa memanfaatkan ini. Tidak lagi mengimpor makanan seperti buah impor. Sekarang memakai buah lokal, menyantap buah lokal, dan menyajikan buah lokal pada event yang ada di Bali,” jelasnya.

Dengan hal tersebut, keinginan generasi muda untuk mengonsumsi makanan modern dapat dikurangi. Sekaligus menjadi cara melestarikan kuliner khas Bali, termasuk menyajikannya pada setiap hajatan.

Pada lomba Minggu (23/6), rata-rata peserta untuk masing-masing perlombaan diikuti 13 tim. Khusus untuk materi lomba sayur ares dan jajan laklak, tampil sebagai juara yakni duta Kota Denpasar.

(bx/wid/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia