Selasa, 22 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Jejak Derita Prananda, Cucu Bung Karno yang Ditempa dari Rahim Mega

24 Juni 2019, 09: 45: 18 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jejak Derita Prananda, Cucu Bung Karno yang Ditempa dari Rahim Mega

DIGENDONG MEGA: Seorang pengunjung melihat lukisan Megawati Soekarnoputri menggendong Prananda Prabowo saat masih bayi. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Megawati hampir pasti kembali menjadi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang akan ditetapkan dalam Kongres PDIP Agustus mendatang. Namun, bakal ada regenerasi di tubuh banteng. Putra kedua Mega, Prananda Prabowo disebut-sebut memiliki kapasitas meneruskan kejayaan PDIP.

Ketika PDIP akan mempercepat Kongres menjadi bulan Agustus tahun 2019 ini, tepatnya 8 Agustus 2019 mulai muncul banyak wacana. Sejatinya Kongres V PDIP akan berlangsung pada tahun 2020, karena Kongres sebelumnya tahun 2015. Kongres sudah dipastikan akan berlangsung di Bali lagi. Dan disebut – sebut Megawati akan tetap menjadi ketua umum, namun mulai disebut akan regenerasi. Yang kemungkinan akan muncul dari anak – anak Megawati.

Jejak Derita Prananda, Cucu Bung Karno yang Ditempa dari Rahim Mega

Prananda Prabowo (istimewa)

Sosok Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri lebih akrab disapa Megawati Seokarnoputri, adalah Presiden ke-5 negeri ini. Megawati menjadi Ketua Umum PDIP sampai saat ini. Namun belum banyak yang tahu terkait dua anak Megawati dari suami sebelum Taufik Kiemas. Seperti diketahui, bersama Taufik, Mega punya anak Puan Maharani.

Megawati muda yang cantik, dipersunting Letnan Satu (Penerbang) Surindro Supjarso yang merupakan pilot pesawat AURI dan perwira pertama pada Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) Republik Indonesia, Megawati dianugerahi dua orang putra. 

Surindro Supjarso adalah seorang perwira pertama di Angkatan Udara Indonesia. Di kalangan rekan-rekannya, Surindro yang berasal dari Sulawesi kerap dipanggil Pacul atau Mas Pacul. Surindro adalah sahabat karib Guntur Soekarnoputra, kakak Megawati yang konon menjodohkan Megawati dengan Surindro. Resepsi pernikahan Surindro dan Megawati dilangsungkan pada 1 Juni 1968 dan kemudian pasangan ini dikaruniai dua orang anak, yaitu Muhammad Rizki Pratama dan Muhammad Prananda Prabowo.

Setelah Surindro wafat karena kecelakaan pesawat di perairan Pulau Biak, Irian Jaya, pada tanggal 22 Januari 1970, Megawati merawat kedua putranya seorang diri. 

Hingga akhirnya pada tahun 1973, Megawati menikah dengan Moh Taufiq Kiemas, rekannya sesama aktivis di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dulu. Dari pernikahan ini, lahirlah Puan Maharani, yang merupakan anak ketiga dari Megawati dan adalah anak Taufiq satu-satunya. Puan memilih jalur politik. Puan pernah menjabat sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan pada DPR RI untuk tahun 2012 hingga 2014. Hingga saat ini menjabat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI. 

Sedangkan anak Megawati pertama, yaitu Rizki selama ini dikenal sebagai simbol keluarga yang tidak terjun ke politik. Rizki lebih memilih berkiprah di dunia bisnis sebagai pengusaha. 

Sedangkan Prananda, juga aktif di panggung politik. Saat ini Prananda adalah Ketua DPP PDIP bidang Ekonomi Kreatif, kemudian menjadi Kepala Pusat Analisa dan Pengendali Situasi PDI Perjuangan. Namun Prananda, juga seorang musisi. Prananda memiliki band dan menjadi seorang bassist Band Rodinda (Romantika, Dinamika, Dialektika). Yang banyak lirik lagu – lagunya bertema nasionalisme dan Bung Karno. Band ini memiliki aliran cadas, mirip  Iron Maiden menjadi favorit Prananda. Prananda juga orang di balik pidato politik sang ibunda Megawati, adalah buah karyanya. Termasuk membuat Hymne PDIP.

Dan yang paling tidak diketahui publik, Prananda adalah cucu Bung Karno ini adalah anak yang mengalami penderitaan luar biasa. Bahkan dibandingkan dua saudara lainnya, Prananda memiliki jalan hidup yang paling miris. Bali Express (Jawa Pos Group) berusaha menggali fakta – fakta tentang jejak derita cucu Bung Karno bernama Prananda ini.

Museum Agung Bung Karno banyak menyimpan data dan fakta terkait jalan hidup Prananda. Ketua Yayasan Kepustakaan Bung Karno yang sekaligus Ketua Umum Museum Bung Karno Gus Marhaen membuka beberapa koleksi Museum Agung Bung Karno, khususnya catatan kliping – kliping menyangkut Prananda.   

Yang pertama dibuka adalah, berita koran Dwiwarna. (lebih jelas baca grafis), disebutkan bahwa Megawati kehilangan suaminya Surindro seorang penerbang karena pesawat hilang. Di perairan Biak, Irian Jaya. Dengan kondisi ini, dia mengaku menaruh harapan pada putranya. Sambil menggendong putranya yang masih bayi, Megawati mengungkapkan perasaannya.

Perasaan saja setelah dianuggerahi putra jang kedua ini tentu sadja bahagia bertjampur dengan rasa sedih dan terharu karena kelahirannja tanpa ditunggu oleh ajahnja. “Ini ungkapan yang luar biasa miris, ternyata anak kedua Megawati yaitu Prananda lahir tanpa ditunggu ayahnya. Karena Prananda masih dalam kandungan Megawati, ayahnya hilang di laut Biak,” kata Gus Marhaen.

Kemudian Megawati menjelaskan nama anak itu, Namanya adalah Muhammad Prananda Prabowo Sura Megendra Karna Djaja. Megawati berharap agar Prananda nantinya melanjutkan cita – cita perjuangan ayahnya yaitu Surindro dan kakeknya Soekarno. “Jadi rasa pedih Ibu Mega saat itu, bercampur bahagia karena lahir anaknya dengan sehat dan ada harapan kelak Prananda melanjutkan cita – cita ayah dan kakeknya,” sambung Gus Marhaen.

Nama Muhammad Prananda Prabowo Sura Megendra Karna Djaja, juga ada sejarahnya karena gabungan dari tiga pemberian. Pertama pemberian neneknya Fatmawati, kemudian kakeknya dr. Dedi dan pemberian dari pamannya Guruh. Itu dijelaskan oleh Megawati dalam wawancara tanya jawab itu.

Tak hanya itu, banyak kisah pilu diungkap media cetak era itu. Misalnya ada koran yang membuat judul “Setelah Bung Karno, Menyusul Menantunja” dijelaskan bahwa Surindro, suami Megawati tenggelam ke dasar laut. Dalam isi berita disebutkan, Letnan Satu Udara Surindro yaitu suami dari Megawati adalah salah satu dari 8 orang, awak pesawat SkyVan yang dikabarkan jatuh di antara Perairan Biak dan Irian Barat.

Diceritakan juga tentang proses kapal jatuh, tenggelam dan meledak. Kemudian ada juga berita yang menulis “Kemalangan Bertubi2 Menimpa Megawati” dengan sub judul, “Terakhir Suaminya Hilang Bersama Pesawat Sky Van’. Paragraf pertama beritanya juga sangat menyesakan. Tepat dua ulang tahunnya yang ke 24 (Megawati) 7 bulan kurang dua hari, setelah ayahandanya (Bung Karno) yang tercinta tiada kini kembali musibah besar menimpa keluarga Megawati. Yakni dengan hilangnya pesawat Sky Van,  T-701 type SC-7 dimana suaminya tercinta LU I Penerbang Surindro adalah pilotnya yang ikut hilang.  

Kemudian ada koran dengan nama “Sumber Karya” menurunkan tulisan,  dengan judul “Sembahjang Masal di Makam Bung Karno pada 1000 hari wafatnja” dengan sub judul “Megawati Ditinggal Dalam Mengandung 7 Bulan”. Diulas dalam beritanya, dalam persiapan untuk sembahyang masal di makam Bung Karno ada sesuatu yang sangat menyedihkan. Yang sangat menyedihkan dari keluarga Bung Karno adalah hilangnya suami Megawati yang adalah seorang pilot AU Surindro. Yang sampai hari ini belum mendapatkan keterangan yang jelas di mana suaminya itu berada. Setelah Megawati mengadakan hari ulang tahunnya, Bersama anaknya yang dipanggil Tham – Tham (anak pertamanya) dan calon putranya yang masih dalam kandungan 7 bulan (setelah lahir bernama Prananda).

Dan banyak lagi berita atau kliping yang menunjukan situasi yang menyedihkan menerpa Megawati. Yang menjadi hal penting, adalah anak kedua Megawati Prananda tidak tahu ayahnya saat lahir, karena lebih awal hilang di perairan Biak. Dan hamil Megawati baru 7 bulan. “Ada catatan yang tidak diketahui publik, bagaimana penderitaan saat itu, bagaimana kondisi labil yang menimpa Ibu Megawati dan bagaimana kandungan si jabang bayi yang baru 7 bulan, sedangkan ayahnya meninggal,” kata Gus Marhaen.

Dengan wajah serius Gus Marhaen mengatakan, sampai saat ini tidak pernah diketemukan mayat dari suami pertama Megawati itu. Sehingga ada beberapa catatan media cetak saat itu yang mengatakan bahwa Megawati tidak percaya jika suaminya hilang. Termasuk juga banyak berita yang diulas tentang pencarian itu.

Yang menjadi hal menarik adalah, ada juga ulasan – ulasan yang menyebutkan bahwa sosok janin dalam kandungan Megawati saat itu, sudah ditempa dengan cobaan yang berat sejak belum lahir. “Artinya cucu Bung Karno atau anak kedua dari Ibu Megawati, Prananda sudah ditempa bahkan bisa dikatakan ditempa dalam kawah candradimuka yaitu di rahim Megawati,” ungkapnya.

Karena penderiataan yang amat sangat dirasakan oleh Megawati dan Prananda yang masih dalam kandungan Megawati. Kemudian Prananda lahir menjadi anak yang tidak tahu wajah ayah yang asli dan kakek. “Megawati dalam wawancara Dwiwarna itu menyebutkan, anak ini lahir tanpa ayah dan kakeknya,” kata Gus Marhaen.

Apa makna ditempa kawah candradimuka? Menurut Gus Marhaen, kawah candradimuka ini merupakan tempat dimana Gatot Kaca direbus oleh para dewa. Sehingga memiliki tubuh dan tulang yang kerasnya seperti besi dan ototnya seperti kawat. Kebal akan segala senjata dan dapat terbang tinggi di Kahyangan. Kemudian kawah candradimuka ini juga kerap diartikan sebagai cara untuk menempa mental seseorang untuk mental yang hebat dan berjiwa besar. Sehingga bisa diandalkan bagi bangsa dan negara. Sehingga mampu memberikan sumbangsih kepada bangsa. “Jadi situasi yang begitu menyakitkan itu yang menempa Prananda. Bahkan setelah lahir, juga menjadi anak yang masih dalam tekanan – tekanan, apalagi tumbuh besar di era Orda Baru. Ya semua tahulah, apa yang terjadi bagi keluarga Bung Karno khususnya Megawati dan anak – anaknya,” ungkap Gus Marhaen. “Ini yang meyakinkan saya, selaku pegiat sejarah. Bahwa suatu saat Prananda akan menjadi orang hebat di negeri ini. Karena jejak hidupnya, bahkan sudah ditempa sejak di rahim ibu Mega,” pungkas pria yang selalu menggunakan peci ala Bung Karno ini.

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia