Rabu, 24 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Politik

Prananda Berpeluang Jadi Ketua Harian PDIP, Jokowi Juga Punya Peluang

24 Juni 2019, 11: 10: 09 WIB | editor : I Putu Suyatra

Prananda Berpeluang Jadi Ketua Harian PDIP, Jokowi Juga Punya Peluang

LUKISAN: Lukisan Megawati dan Prabanda yang ada di Museum Agung Bung Karno. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Harus diakui bahwa tangan dingin Megawati Soekarno Putri menjadikan PDIP menjadi partai pemenang di negeri ini. Bahkan mampu menjadi partai yang mengusung Capres – Cawapres menjadi pemenang di Pemilu 2019. Namun ketika umur Megawati yang kelahiran 23 Januari 1947 atau masuk 72 tahun, tentu mulai ada yang menggalang opini untuk regenerasi di partai banteng moncong putih itu.

Menurut Pengamat Politik Dr. Nyoman Subanda, nama Megawati awalnya dikultuskan menjadi penerus dinasti atau trah Soekarno. Nama Megawati menjadi sebuah alternatif atau harapan publik untuk menjadikan pemimpin setelah Orda Baru mulai oleng. “Nama Megawati awalnya dikultuskan untuk menjadi penerus dinasti Bung Karno, bahkan menjadi alternatif publik setelah Orda Baru akan runtuh,” jelas Kepala Program Studi Magister Administrasi Publik (KPS MAP) Undiknas ini kemarin.

Bagi Subanda, ketika orda baru tumbang akhirnya nama Megawati memang melesat untuk menjadi pemimpin negeri ini. Sempat terhalang, ketika akhirnya Gus Dur jadi Presiden. Namun akhirnya Megawati menjadi Presiden juga. Kesuksesan luar biasa, bagi Mega adalah ketika mampu membawa PDIP kuat sampai sekarang. Bahkan dipastikan sangat kokoh hingga saat ini. “Sukses tertinggi dari Megawati adalah mampu menjadikan PDIP kuat dan kokoh hingga saat ini,” ungkap Mantan Dekan FISIP Undiknas tiga periode ini.

Subanda mengatakan, memang jika diawal regenerasi muncul subur. Nama – nama seperti Arifin Panigoro, Laksamana Sukardi dan banyak lagi nama – nama kuat yang bisa sebenarnya menjadi Ketua Umum di internal PDIP. Namun belakangan nama Megawati seperti sulit tergantikan. Karena keberhasilan Megawati menjadikan dirinya symbol partai yang menjadi pemersatu. “Megawati mampu menjadi symbol partai, artinya ketika Megawati memutuskan A, secara langsung jajaran terbawah partai mengikuti keputusan itu,” kata Subanda. “Walaupun diawal misalnya ada beda pandangan, beda dukungan dan lainnya. Namun ketika sudah ada rekomendasi dari Megawati, langsung disambut dengan semangat untuk memenangkan perintah partai,” sambung Subanda.

Namun dengan posisi seperti ini, nama Megawati sepertinya sulit untuk tergantikan. Hingga Kongres yang akan digelar di Bali Agustus ini, sepertinya nama Megawati tetap menjadi Ketua Umum PDIP. Kongres akan lebih banyak melakukan konsolidasi internal PDIP. Namun kabar yang berkembang, akan ada kursi baru dalam kepengurusan PDIP kedepan. Akan muncul kursi Pengurus yaitu Ketua Harian dan Wakil Ketua Umum (Waketum). “Jadi kursi Ketua Harian atau Wakil Ketua Umum ini, bagi saya akan menjadi langkah Megawati untuk memasukan kader yang bisa nanti menjadi penggantinya dikemudian hari. Bahkan bisa saja nanti yang masuk menjadi Ketua Harian atau Waketum adalah salah satu dari anak Megawati,” urainya.

Tak hanya itu ia, juga menyebutkan yang berpeluang kedepan itu ada dua anak Megawati. Yaitu Puan Maharani dan Prananda Prabowo. Memang jauh lebih awal nama Puan yang lebih menonjol. Bahkan sampai akhirnya Puan menjadi Menteri di Kabinet Kerja Jokowi. Namun belakangan malah ada peran besar nama Prananda yang muncul, bahkan beberapa rekomendasi – rekomendasi PDIP untuk calon Bupati/Walikota atau Gubernur atas keputusan Prananda. “Jadi nama Prananda disebut – sebut beberapa teman saya, sudah cukup lama dipercaya Megawati untuk menentukan rekomendasi Bupati/Walikota atau Gubernur. Jadi sudah diberikan kepercayaan,” tambah Subanda.

Dengan kata lain nama Prananda sepertinya akan menonjol di hasil Kongres untuk kepengurus DPP PDIP selanjutnya. Bahkan nama Prananda bisa saja nanti akan ditempatkan diposisi Ketua Harian DPP PDIP. “Kalau saya melihat Prananda bisa saja akan menjadi Ketua Harian DPP, dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya memang politik negeri ini masih dominasi laki – laki,” cetusnya.

Ketua Harian dan Wakil Ketua Umum ini akan menjadi langkah untuk memberikan porsi lebih kewenangan – kewenangan Megawati yang selama ini melekat secara dominan pada dirinya.

Namun jika bicara sebagai Ketua Umum PDIP pasca Megawati, selain dari generasi langsung Megawati seperti Prananda. Bisa juga nanti dari luar generasi Megawati misalnya nama Jokowi, tentu setelah Megawati memang tidak bisa melanjutkan memimpin PDIP karena umur.

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia