Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features

Gede Komang, Kadisbud Buleleng yang Juga Penari Wayang Wong

24 Juni 2019, 12: 02: 58 WIB | editor : I Putu Suyatra

Gede Komang, Kadisbud Buleleng yang Juga Penari Wayang Wong

PERSIAPAN: Gede Komang saat melakukan persiapan dan menunggu giliran tampil di panggung Kalangan Angsoka, PKB ke-41, pada Selasa (18/6) lalu. (CHAIRUL AMRI SIMABUR/BALI EXPRESS)

Share this      

Di tengah kesibukannya di dunia birokrasi, Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Buleleng Gede Komang, tetap menyisakan waktu untuk ngayah sebagai penari Wayang Wong. Termasuk tampil untuk kepentingan upacara keagamaan.

 

PEMENTASAN Wayang Wong dari Sekaa Wayang Wong Guna Murti, Desa Tejakula, Buleleng di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali, pada Selasa (18/6) lalu, sudah berlangsung separo jalan. Di belakang panggung, di bawah naungan beberapa jenis pepohonan, Gede Komang sudah siap dengan pakaian Patih Prahasta. Sosok patih senior Kerajaan Alengka pimpinan Rahwana.

Kebetulan pementasan Wayang Wong duta Kabupaten Buleleng ini mengambil judul Gugurnya Patih Prahasta dalam pementasan di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 itu. Dengan kata lain, Gede Komang saat itu berperan sebagai tokoh utama cerita yang dipentaskan.

Tapi, saat itu belum waktunya bagi Gede Komang untuk masuk ke tengah panggung. Dia mesti menunggu untuk beberapa saat. Sehingga dia pun memilih duduk di tempat yang teduh.

Di kesempatan itulah, Gede Komang menyempatkan diri bercerita mengenai awal mula dirinya terlibat dalam seni pertunjukan Wayang Wong. Sebuah kesenian yang kini sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

Sejurus kemudian, seorang anggota sekaa datang mengantarkan properti lainnya untuk dikenakan Gede Komang. Yakni sebuah rambut palsu. Properti itu kemudian digamit sembari siap untuk dipakai di kepalanya. “Cerita Wayang Wong sekarang ini (saat itu), Gugurnya Patih Prahasta. Kebetulan saya yang sekarang ini jadi Patih Prahasta,” tutur Gede Komang sembari memasang rambut palsunya yang panjangnya sebahu.

Semestinya, sambung dia, di kelompok seni Wayang Wong Guna Murti, ada dua yang berperan sebagai Patih Prahasta. Dia sendiri dan seorang temannya lagi yang dia sebut Pak Sujana. “Syukurnya (saya) bisa tampil di tengah begitu banyaknya kegiatan PKB yang harus dikawal. Di Sekaa Guna Murti, Patih Prahasta dimainkan oleh dua orang. Tapi (kebetulan) Pak Sujana sedang sakit. Jadi saya yang maju,” tuturnya.

Menurutnya, tokoh Patih Prahasta merupakan satu di antara beberapa tokoh utama dalam pementasan Wayang Wong. Di luar Patih Prahasta, ada Prabu Rama, Laksamana, Rahwana, Kumbakarna, Subali, Sugriwa, Maruti Suta atau Hanoman, atau Kumbakarna.

Tokoh-tokohnya memang diangkat dari wiracarita Ramayana. Bahkan Ramayana bisa dikatakan sebagai sumber utama cerita dalam setiap pementasan Wayang Wong. “Peran ini (Patih Prahasta) agak berat. Letak kesulitannya itu ada pada adegan-adegan rapat agung. Terutama saat Rahwana dan Patih Prahasta berunding. Bahasa yang dipakai Bahasa Kawi. Bahasanya susah. Karena jarang orang bisa menggunakannya,” beber birokrat yang juga Ketua Yayasan Teja Kukus ini. Yayasan itu sendiri menaungi berbagai jenis kesenian yang berkembang di Desa Tejakula.

Salah mengucapkan dalam Bahasa Kawi, sambung dia, bisa berdampak pada salah arti. Konsekwensinya pun ada. Kalau untuk pertunjukan hiburan seperti yang dipentaskan di arena PKB, tentu akan memberi rasa malu. “Tapi kalau dalam pertunjukan untuk kegiatan agama, risikonya sudah pasti ada. Bisa jadi sakit. Apalagi sampai salah menyebutkan nama Tuhan atau Dewa. Minimal mesti ada izin untuk menyebutkannya,” imbuh Gede Komang sembari bertanya kepada anggota sekaa lainnya, apakah sudah waktunya untuk masuk ke tengah panggung. Tapi kode yang dia terima menyebutkan masih belum waktunya.

Gede Komang lantas menuturkan, dirinya sudah mulai ikut terlibat sebagai penari Wayang Wong sejak sembilan belas tahun lalu. Atau sekitar tahun 2000 lalu. Itupun karena bermula saat dirinya ngayah di pura yang ada di desanya.

Sejak saat itu, proses belajar yang dijalaninya mengalir begitu saja. Baik gerak tarinya maupun Bahasa Kawi yang dalam beberapa adegan pasti dipergunakan. Selain proses yang mengalir begitu saja, dia pun mendapatkan tuntutan secara spiritual. Kuncinya ada pada taksu. “Kalau tidak ketakson (tidak memiliki taksu) ya tidak bisa. Dituntun secara spiritual,” ujar Gede Komang yang pernah menjadi kepala dinas termuda di Indonesia ini.

Ditanya soal bagaimana dirinya mengatur waktu di sela-sela kesibukannya sebagai birokrat. Gede Komang mengaku berusaha menyempatkan diri. Baik untuk latihan sampai dengan pementasan. “Sepanjang tidak sampai tugas keluar (daerah), saya berusaha menyempatkan diri. Kalaupun lagi di luar daerah, misalnya dapat tugas ke Jakarta, lalu saya ditunjuk berperan sebagai apa, saya berusaha untuk siap. Kebetulan untuk kisah Ramayana saya sudah paham,” ujarnya.

Sehingga, lanjutnya, begitu sampai dari luar daerah, dia tinggal meluangkan waktu dua sampai tiga jam selama enam hari sebelum pementasan untuk ikut latihan bersama anggota sekaa lainnya. “Nyetel dulu. Misalkan sekarang ini pentas, enam hari sebelumnya kami sudah latihan. Kalau untuk tari wali (pertunjukan sakral), latihannya di pura. Tapi kalau pertunjukan hiburan biasanya latihan di kantor desa,” ungkapnya.

Dia lantas menuturkan, Wayang Wong yang dipentaskan dalam arena PKB saat itu merupakan duplikasi dari yang aslinya. Untuk aslinya hanya dipentaskan pada saat ada upacara keagamaan di desa. “Tempat penyimpanannya juga berbeda. Kalau yang sakral disimpan di Pura Maksan. Kalau yang duplikasi disimpannya di Balai Desa Tejakula,” imbuh Gede Komang saat itu sudah terlihat gondrong. Karena pakai rambut palsu.

Aktivitasnya sebagai penari Wayang Wong inipun bisa jadi akan lebih meningkat, setelah dirinya pensiun nanti. Kebetulan saat ini usianya sudah 60 tahun. Dan, enam bulan lagi dia akan pensiun.

Menariknya, dia sudah menjadi kepala dinas sejak usia belia. Waktu itu, pada 1989 dirinya sudah bertugas sebagai Kepala BKKBN pada usia 29 tahun. “Sempat jadi kepala dinas termuda di Indonesia,” kenangnya.

Kemudian dia bergeser menjadi Kepala Dinas Sosial selama tujuh tahun. Lalu baru sepuluh bulan yang lalu, dirinya ditunjuk sebagai Kepala Dinas Kebudayaan di Buleleng. “Sebelumnya jadi Kadis Sosial tujuh tahun. Selebihnya Kepala BKKBN. Enam bulan lagi saya pensiun,” tutur Gede Komang seraya bersiap mengenakan topeng Prabu Prahasta yang dilakoninya saat pementasan siang itu. Kebetulan gilirannya untuk tampil sudah tiba.

Dibantu dengan anggota sekaa lainnya, dia mengenakan topeng lakon utama di cerita Gugurnya Prabu Prahasta. Setelah kokoh pemasangannya, dia berdiri dan bersiap untuk masuk panggung.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia