Rabu, 24 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Pesiwan Pande Tempat Sucikan Bhuana Alit

24 Juni 2019, 12: 13: 40 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Pesiwan Pande Tempat Sucikan Bhuana Alit

MERAH: Suasana Pura Pasiwan yang terletak di Pura Penataran Pande Beng, Kelurahan Beng, Gianyar, didominasi warna merah. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Pura Pesiwan Pande di Kelurahan Beng, Gianyar, memiliki fungsi yang penting. Tempat suci yang menjadi bagian dari  Pura Penataran Pande Beng ini, diyakini sebagai pembersih secara sekala niskala Bhuana Alit.

Pura Pesiwan masih jadi satu areal dengan Pura Penataran Pande. Lokasinya berdampingan, hanya dibatasi tembok. “Ini merupakan kawasan Pura Penataran Pande, hanya saja Pura Pesiwan ini sebagai tempat  pendeta kami menyelesaikan setiap upacara yang dilaksanakana. Khususnya upacara yang dilakukan oleh trah Pande saja,” terang Panglingsir Pamaksan Pura Penataran Pande Beng, Pande Putu Puryata saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) pekan lalu. 

Pura Pesiwan Pande, yang menjadi tempat tinggal sulinggih trah Pande Beng, selain digunakan sembahyang, juga tempat melakukan panglukatan bagi warga Pande dan masyarakat umum, 
karena dipercayai memiliki kekuatan yang positif untuk membersihkan badan setiap orang (Bhuana Alit).

Dikatakan Pande Putu Puryata, biasanya pamedek yang malukat   semasih sulinggihnya ada, paling banyak saat Banyu Pinaruh dan Tumpek Landep. Namun kini, sulinggihnya sudah lebar ( berpulang), sehingga pura  hanya digunakan sebagai tempat sembahyang. “Kalau yang kabrebeh (mengalami musibah) secara sekala niskala biasanya malukat juga di pura ini, meski belum ada sulinggihnya sampai saat ini,” tutur Pande Putu Puryata.


Sarana yang biasanya digunakan untuk malukat sebuah pajati dan canang. Pamedek  dilukat menggunakan tirta yang sebelumnya sudah dipasupati oleh pemangku. “Kalau kabrebeh itu misalnya ada anggota pemaksan yang sakit, pasti akan nunas (mohon) panglukatan di Pura Pesiwan, selaian di Pura Penataran di sampingnya. Tempat malukatnya sesuai kepercayaan dan keyakinan saja, karena tempatnya sama,” tandasnya.


Pande Putu Puryata menambahkan, beberapa bulan kedepan pihaknya sudah menyiapkan calon sulinggih kembali, agar Pura Pesiwan digunakan kembali untuk melakukan nyuryasewana hingga prosesi upacara lainnya. Mengingat, Pura Pesiwan memang tempat khusus untuk sulinggih Pande yang ada di sana.


Pria mantan kelihan pemaksan ini mengatakan, berdasarkan cerita leluhurnya, pura awalnya hanya diempon oleh 17 orang saja. Ketika ada bencana Gunung Agung meletus pura hancur lebur, dan yang  hanya tersisa Palinggih Gunung Agung  di Pura Penataran yang utuh dan selamat. Sejak itu pula, palinggih itu  diyakini sebagai tempat nunas tamba (mohon kesembuhan) sampai saat ini.


"Kini  jumlah pemaksan 170 krama. Semuanya  berasal dari Kelurahan Beng, meskipun ada beberapa yang telah tinggal di luar Beng. Namun, saat piodalan mereka datang untung nangkil ke Pura Penataran dilanjutan ke Pura Pesiwan," urainya.


Pande Putu Puryata mengaku tetap mempertahankan ukiran kuno yang menghiasi pura, karena tampak lebih mataksu dan klasik. “Kita tetap pertahankan seni ukiran leluhur dulu dengan cara restorasi. Kita rehab  dan perbaiki mana yang perlu diperbaiki, tanpa menghilangkan taksu dari pura ini. Karena leluhur kita dulu di sini membangun pura dengan cara mengumpulkan uang dari buruh memanen padi. Bata membuat bersama, dan paras mencari di sungai,” jelasnya.


Pada tempat yang sama, Kelihan Pemaksan Penataran Pande, Pande Ketut Sudiana menambahkan,  untuk nunas tamba setiap saat bisa dilakukan karena  pura tidak terbatas dengan warga trah Pande saja. Dikatakan Sudjana, sudah cukup banyak yang berhasil, setelah memohon. "Biasanya mereka datang mengaku karena ada pawisik entah dari mimpi atau petunjuk lainnya. Selain itu, mereka tahu pura ini  dari mulut ke mulut,” pungkasnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia