Selasa, 19 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Ketika Daun Kelor Diolah Jadi Laklak dan Cendol, Moringa Diserbu

25 Juni 2019, 21: 39: 07 WIB | editor : Nyoman Suarna

Ketika Daun Kelor Diolah Jadi Laklak dan Cendol, Moringa Diserbu

LAKLAK KELOR: Laklak terbuat dari daun kelor, hanya ada di Angkringan Moringa, Desa Dencarik, Kecamatan Banjar. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BULELENG -  Daun kelor kian melejit. Tak hanya lazim dimasak sebagai sayur. Namun daun kaya manfaat untuk kesehatan ini mulai dilirik karena dapat diolah menjadi cendol dan laklak.

Di tangan Ketut Darmada, 42, daun kelor menjelma menjadi penganan yang membuat lidah tak sabar untuk mencicipinya. Melalui ide kreatifnya, cara menikmati kelor pun kian beragam. Sebab, selama ini kelor hanya lumrah diolah menjadi sayur yang kerap dipadupadankan dengan ikan teri dan sambal terong sebagai lauk.

Pria asal Banjar Dinas Bajangan, Desa Dencarik, Kecamatan Banjar Buleleng  itu pun cukup pintar membaca peluang. Ia menuturkan, bisnis penganan berbahan dasar kelor ini baru digelutinya sejak sebulan yang lalu.

Ide itu muncul saat dirinya melihat selama ini daun kelor hanya diolah sebagai sayur oleh masyarakat. Padahal khasiat yang terkandung di dalam daun kelor sangat baik untuk tubuh, seperti mengandung vitamin C, vitamin A, dan kalsium.

“Awalnya saya diperkenalkan cara mengolah kelor menjadi tepung dan diolah menjadi laklak. Itu selama setahun saya belajar. Mulai cara mengolah, menyajikan, sehingga menjadi olahan makanan yang dinikmati secara santai,” ujar Darmada Selasa siang (25/6).

Tak ingin menyia-nyiakan ilmu yang diterima, Darmada pun tancap gas. Terlebih daun kelor di sekelilingnya begitu mudah didapat. Hal itu pun membuatnya semakin yakin untuk membuat usaha kecil-kecilan. Dari hasil berguru dengan rekannya, Darmada mencoba mengolah daun kelor, tidak hanya sebagai sayur, tetapi juga dapat dinikmati sebagai teman ngopi.

Ia menuturkan, untuk membuat olahan menjadi laklak dan cendol, harus melalui sejumlah proses. Daun kelor yang sudah dibersihkan dari tangkainya, dicuci lalu disimpan selama 14 hari di dalam suhu ruangan. Selanjutnya, daun kelor yang sudah kering dihancurkan hingga menjadi tepung, kemudian dicampurkan ke dalam adonan kue laklak, makanan tradisional khas Bali yang sangat melegenda.

 "Komposisi adonannya hampir sama dengan membuat kue laklak pada umumnya. Begitu juga dengan cendol. Hanya adonanya saya tambahkan beberapa gram tepung daun kelor, sehingga aroma dan rasanya menjadi khas," jelasnya.

Hasil olahannya itu pun dijual oleh Darmada di sebuah warung sederhana miliknya, yang diberi nama Angkringan Moringa, terletak di Banjar Dinas Bajangan. Satu porsi kue laklak dengan isian enam potong, dijual seharga Rp 5.000. Pun dengan es cendolnya, ia jual dengan harga Rp 5.000 per gelas.

 "Peminatnya lumayan. Sehari saya mengabiskan dua kilogram adonan. Nah ini secara tidak langsung membawa manfaat ekonomi. Ini yang menjadikan saya termotivasi membuat olahan kelor ini," tuturnya.

Sementara itu, Perbekel Dencarik Putu Budiasa mengapresiasi angkringan unik yang menjual penganan berbahan kelor milik Darmada. Terlebih angkringan ini akan menciptakan lapangan kerja baru bagi warganya. Sebab, saban hari kian ramai yang berkunjung untuk mencicipi gurihnya laklak dan cendol kelor.

“Mudah-mudahan muncul angkringan lain yang memutar perekonomian,” jelasnya. Ia berharap Darmada tak hanya mengenalkan olahan kelor yang bertransformasi menjadi laklak dan cendol, tetapi mencoba menggali penganan bernama suweg, sejenis umbi-umbian yang kian langka ditemui di pasaran.

 “Secara tidak langsung akan membuat perekonomian berputar. Karena ada yang menyuplai bahannya, kemudian ada konsumennya. Masyarakat merindukan makanan tradisional zaman dulu,” singkatnya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia