Rabu, 21 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Bali Under The Moon
Di Balik Gemerlapnya Dunia Modelling (2)

Mengaku Style Glamor Hanya di Depan Kamera

28 Juni 2019, 08: 51: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mengaku Style Glamor Hanya di Depan Kamera

LARIS: Oli banyak mengupload foto di instagram sekaligus sebagai promosi. (ISTIMEWA)

Share this      

Menjadi model, harus siap dengan segala konsekuensinya. Banyak sisi lain yang “mengejutkan” di balik gemerlapnya dunia modeling. Hal ini dipahami betul oleh Oli.

VIRGILIUS NGALONG, Denpasar

BANYAK orang yang mendambakan bisa menjadi seorang model. Pekerjaan yang satu ini dianggap sesuatu yang tidak sulit untuk dilakukan. Yang nampak, hanya berlenggak-lenggok ataupun berpose dengan kostum menarik, lalu uang mengalir. Di media sosial juga, biasanya akun seorang model menampilkan foto-foto yang menyenangkan. Mereka terlihat memiliki hidup yang bebas dan sepertinya apa yang dia lakukan menarik. Sehingga tak heran, jika tidak sedikit dari ribuan perempuan yang bermimpi ingin menjadi model profesional.

Sosok Ni Komang Julianti atau yang lebih dikenal dengan nama Oliolie pun termasuk salah satu talent model yang ikut dalam gaya hidup tersebut. Di akun instagram pribadinya yang kini tampak ekonomis jika dimanfaatkan sebagai media promosi, kerap memperlihatkan sosok oliolie yang selalu tampil glamour, Sejumlah foto-foto menarik, baik itu hasil dokumentasi sesi pemotretan di beberapa tempat mewah dan menarik dengan mengenakan beragam kostum seksi, hingga foto liburan. Tentu bukan tanpa alasan, cara tersebut dijadikan sebagai strategi untuk bisa menarik perhatian pasar.

Dan buktinya pun berbuah hasil. Tampil instagramable dan berani dengan mengenakan kostum seksi, bajang jegeg asal Karangasem ini pun kebanjiran job serta tawaran foto endorse dengan beragam brand fashion dan produk kecantikan. Bahkan tak hanya foto, Oliolie pun menerima endorse video dengan konsep seksi. “Sejak follower mulai ramai di instgaram, Bahkan konsep video banyak banget view-nya. Kira-kira pertengahan 2018 ya. Dan sejak instagram makin ramai, tawaran untuk tampil live pun ikut naik,” tutur Olieolie kepada Bali Express (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu. 

Awalnya, terang Oliolie, hampir setiap hari dirinya sibuk dengan jadwal padat sesi foto. Bahkan, sejumlah event turut diikutinya. lewat dunia modeling tersebut dia juga bisa mendapatkan relasi yang menyambungkannya ke pekerjaan yang lain. Seperti sebagai Live PA dan harus bolak-balik dari kota ke kota. Sehingga, untuk sekarang Olie pun mulai menjadwalkan untuk bisa merangkap perannya itu. Dalam semingu tawaran untuk foto dirinya mengambil jadwal 2 kali. Dan sisanya, di isi dengan aktivitas lain. “Karena aku ada kerja lain makanya aku mulai jadwalkan agenda aku. Tapi tiap minggu selau pasti ada permintaan untuk job foto. Bahkan sampai sekarang pun tawaran foto, kalau mau ambil tiap hari selalu ada,” jelasnya.

Di samping itu, keseriusannya untuk menggeluti profesi di industri entertaiment ini memang dikarenakan pengasilnnya sangat besar. Secara vinansial, diakuinya sudah sangat mencukupi. Bahkan, lebih dari apa yang diharapkan. “Jadi kalau ditanya enaknya apa, ya pastinya uang lah ya. Karena kerjanya sebentar uangya bisa tiga kali lipat gaji bulanan aku waktu di zaman SPG. Dan memang motivasi aku juga, ya karena udah terjun ‘kecebur’ terus dapat penghasilan jadi makin lama makin termotivasi buat makin serius untuk jalanin. Mumpung umur masih mendukung, kenapa tidak hobi dan passion aku dijadikan profesi?,” imbuh Oliolie. 

Meski demikian, perempuan bertubuh mungil dan seksi ini tidak memungkiri jika menggeluti dunia foto model dan Live PA masih sangat privasi. Dalam artian, secara kultur, budaya yang sangat kental dengan nilai budi pekerti ini memang masih dianggap negatif dan sangat bertolakbelakang dengan perannya sebagai seksi model. “Kadang kan sebagai foto model seksi itu sudah ngga ada yang namanya privasi. Terkadang kebablasan kan, kalau pas photo itu suka ada jail-jail tangan tukang foto pas ganti baju atau ada sesi foto seksi. Ya, memang  secara penampilan juga kita kurang bisa diterima dan kadang sama orang tua juga khususnya,” kata Oliolie.

Apalagi, pada kenyataannya juga seorang model itu memiliki kesulitan dalam pekerjaan yang bahkan tidak pernah dipikirkan oleh orang-orang sebelumnya. Sebut saja, model rentan dengan perbuatan kurang layak. “Jujur saja, awalnya malu, tapi zaman sekarang malu itu sama dengan nggak makan. Jadi udah biasa aja. Begitu juga tentang style glamor yang sebenarnya cuman di depan kamera saja. Justru kehidupan asli jauh dari kata glamor. Hanya saja, kebetulan oliolie suka tantangan. Jadi makin bisa atasi rasa takut itu makin puas. Jadi bersahabat aja deh sama rasa takut itu, biar nggak bikin depresi,”,” terangnya. 

Sementara itu, terkait tantangan terbesar yang kerap dihadapi seorang talent model. Olie dengan tegas mengaku bahwa melawan rasa stres dan ketakutan ketika sudah tidak lagi ‘laku’ di pasaran adalah tantanganya. “Oli rasa semua model punya rasa ketakutan itu. Melawan stres dan ketakutan ketika sudah tak dipakai lagi.  Belum lagi stres tentang tangung jawab ke keluarga karena terlalu berani mengambil keputusan untuk terlibat di dunia seperti itu. Tapi, bagi aku, Itu bukan alasan oli buat behenti. Karena di setiap profesi perempuan memang rentan pelecehan seksual.  Jadi kalau pun nanti harus berhenti, bukan karena takut tapi karena usia yang ngak memungkinkam buat tampil  seksi dan termakan usia,” tutup Oliolie. (habis)

(bx/vir/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia