Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Serahkan Rambut Bukti Tulus Ngayah Saat Ngodak

02 Juli 2019, 11: 19: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Serahkan Rambut Bukti Tulus Ngayah Saat Ngodak

KHUSUS: Gadis hingga wanita dewasa turut menghaturkan rambutnya saat Ngodak, yang dipotong oleh orang yang ditunjuk khusus. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Ngidam sasuhunan atau yang dikenal dengan Ngodak untuk memperbaiki Barong dan Rangda, sudah lumrah dilakukan ketika sudah dinilai tak layak lagi. Momen  ini dimanfaatkan warga untuk menghaturkan rambutnya.

Saat Ngodak beberapa bagian sasuhunan ( sosok yang dipuja) berupa Barong maupun Rangda yang sudah dianggap tidak layak, memerlukan  komponen tambahan lagi. Mulai dari rambut, ukiran yang berbahan kulit, sampai topengnya yang dari kayu. Khusus untuk rambutnya, selain menggunakan olahan dari daun praksok, biasanya menggunakan bulu ekor kuda hingga rambut kramanya (warga) sendiri.

Jadi,  jauh-jauh hari sebelum ada prosesi Ngodak sasuhunan, proses ngaturin (memberikan) rambut sudah mulai dilakukan. Khususnya krama istri yang secara tulus ikhlas menghaturkan rambutnya yang panjang untuk dipotong, tanpa ada paksaan. 
Penggiat seni Dr. I Komang Indra Wirawan, S.Sn., M.Fil.H menjelaskan kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin, Ngodak sasuhunan biasanya dilakukan sesuai keputusan krama yang nyungsung (memuja). “Pada umumnya Ngodak dilakukan pada saat sasuhunan berupa Barong, Rangda maupun Pratima sudah rusak, yang juga 
berdasarkan keputusan dari krama yang nyungsung,” jelas Indra.

Setelah ada keputusan untuk Ngodak, maka dilanjutkan dengan menentukan undagi yang akan bertugas memperbaikinya.


Apa saja dan bagian mana yang diperbaiki, ada yang perlu ditambahkan maupun dikurangi. Namun, yang  paling sering adalah menambahkan rambut sasuhunan.  Sebelum Ngodak, sudah pasti ada prosesinya terlebih dulu yang disebut Nebes, supaya bisa mulai dikerjakan. Krama istri biasanya rebutan untuk menghaturkan rambutnya agar dipergunakan untuk sasuhunan. Mulai dari orang kecil, remaja, sampai orang dewasa sangat  antusias. 

Namun, tak sedikit orang yang bertanya-tanya, bisakah rambut orang yang sudah menstruasi  digunakan untuk Ngodak sasuhunan? “Sangat boleh, siapa saja bisa menghaturkan rambutnya. Kalau menyangkut kesucian, saya kira tidak ada pengurangan makna kesucian. Karena nanti ketika sudah selesai Ngodak akan ada prosesi sakraliasai lewat beberapa tahapan,” jelas pria yang dikenal sebagai Doktor Calonarang tersebut.

Dikatakan Indra,  seseorang yang hendak menghaturkan rambut yang terpenting layak. "Rambut yang akan dihaturkan memungkinkan dipergunakan, mulai dari segi warna, maupun panjangnya," ujarnya. Menurutnya yang terpenting juga, orang yang menghaturan rambutnya  berdasarkan niat untuk ikhlas ngayah (tak pamrih). Pemotongan rambut juga harus dilakukan pada areal pura maupun tempat suci sasuhunan tersebut distanakan.

Peralatan yang dipergunakan juga harus masih sukla (belum dipergunakan sebelumnya), mulai dari gunting maupun benda lainnya.

“Panjang rambut yang biasanya dipergunakan dan dipotong, tidak ditentukan khusus, disesuaikan kebutuhan. Kadang ada yang panjang, ada juga yang pendek. Tergantung seninya para undagi saja," terang Indra. 

Namun, sesuai dengan yang dibutuhkan untuk Barong, lanjut Dosen Seni IKIP PGRI Bali ini,  rambut biasanya ukurannya asiku (sekitar 40 cm), dan digunakan untuk jenggot dan ekor.


Ditanya soal prosesi, pria pemilik Yayasan Gases Bali ini mengatakan, harus menyediakan gunting sukla dan banten pajati yang dipersembahkan di pura maupun pada sasuhunan yang akan diperbaiki. Selanjutnya, rambut yang akan dihaturkan dibiarkan terurai, baru dipotong. Pemotongan pun harus dilakukan pemangku, undagi, maupun tokoh dan pangayah yang memang ditunjuk langsung untuk memotongnya. Jadi,  tidak bisa dilakukan sembarang orang. 


Menghaturkan rambut untuk sasuhunan  tentu berkaitan dengan diri sendiri. Khususnya kembali lagi pada rasa dan niat seseorang untuk ngayah dan bakti.  Ditegaskan Indra, konsep yadnya tidak boleh melarang orang yang menghaturkan secara tulus.
Meski demikian, ia sendiri menyampaikan ketika dicari proses yang patut bagi orang menghaturkan rambutnya, harus tau diri dan kelayakan dirinya sendiri. “Kalau dicari yang patut, orang yang menghaturkan rambut harus rambut anak – anak hingga remaja, belum menstruasi. Karena mereka dianggap belum kena kaletehan,” ujarnya.

Bagi yang akan menghaturkan rambut, lanjutnya,  tidak sedang kesebelan (kotor secara batin) waktu prosesi. “Tetapi sebuah istilah sebel, cuntaka, dan menstruasi itu hanya kembali pada diri yang menyikapi. Jika sudah dengan rasa tulus untuk menghaturkan, semua istilah sebel tidak ada artinya,” ungkap pria asli Sesetan Denpasar tersebut.


Ia menambahkan, semua prosesi terkait Ngodak  merupakan sebuah simbol. Barong maupun Rangda itu semua merupakan simbol yang diyakini umat Hindu untuk memudahkan 'memikirkan' ketika melakukan persembahyangan.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia