Rabu, 21 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Legian, Bermula dari Penemuan Pohon Ceremai yang Rasanya Manis

03 Juli 2019, 10: 04: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

Legian, Bermula dari Penemuan Pohon Ceremai yang Rasanya Manis

TELEK DAN REJANG: Salah satu penampilan Sanggar Seni Taksu Murti Kemanisan dalam pementasan di PKB Ke-41 di Kalangan Angsoka, Selasa kemarin (2/7). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Berada di tengah ingar-bingar aktivitas pariwisata Kuta tak membuat Desa Adat Legian lupa dengan tanggung jawabnya mengajegkan tradisi, budaya, dan kesenian yang dimiliki.

Itu dibuktikan dengan geliat Sanggar Seni Taksu Murti Kemanisan yang di tahun ini menjadi duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-41. Kemarin, Selasa siang (2/7), sanggar ini tampil di Kalangan Angsoka dalam sebuah pementasan tari Telek dan Rerejangan.

Legian, Bermula dari Penemuan Pohon Ceremai yang Rasanya Manis

TELEK DAN REJANG: Salah satu penampilan Sanggar Seni Taksu Murti Kemanisan dalam pementasan di PKB Ke-41 di Kalangan Angsoka, Selasa kemarin (2/7). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Setidaknya, ada empat materi pertunjukkan yang disuguhkan sanggar ini. Di antaranya komposisi Tabuh Bebarongan Legi Manis. Tarian Rerejangan Upasaksi. Tari Kreasi Tri Taksu. Dan Tari Telek sesuai ciri khas Desa Adat Legian.

Masing-masing materi ada cerita atau konsepnya. Seperti dituturkan Made Nova Antara selaku Ketua Sanggar Seni Taksu Murti Kemanisan di sela-sela pementasan timnya. “Tabuh Bebarongan Legi Manis itu berangkat dari sejarah desa adat kami,” ujarnya.

Berdasarkan sejarahnya, sambung dia, desa adat Legian bermula dari penemuan sebuah pohon ceremai yang rasanya manis. Sesuatu yang di luar kebiasaan. Karena ceremai pada umumnya memiliki rasa yang asam.

“Sejak saat itu, desa adat kami disebut Karang Kemanisan. Dari situ kami mengangkat sejarah tersebut ke dalam bentuk komposisi tabuh bebarongan klasik,” jelas Nova Antara.

Kemudian, Rerejangan Upasaksi yang menggambarkan penyambutan terhadap para dewa untuk menjadi saksi berjalannya rangkaian upacara keagamaan. Mulai dari turun sampai dengan kembali atau ngeluhur ke stananya.

 “Sementara Telek Barong Swari mengambil konsep rwa bhineda. Dan tari kreasi kami, Tri Taksu, mengambil konsep bayu, sabda, dan idep. Atau penjiwaan penari terhadap tiga konsep itu. Tokoh sentralnya Siwa Nata Raja,” sebutnya.

Untuk tampil di PKB, sanggar ini sudah mulai melakukan persiapan sejak dua bulan lalu. Itupun belum termasuk latihan rutin yang digelar setiap minggunya. Aktivitas inilah yang kemudian membuat sanggar ini terus berkreasi di tengah hiruk-pikuk aktivitas pariwisata di kawasan Legian yang tidak pernah sepi.

“Lewat sanggar ini juga kami mengikat tiga banjar adat di desa adat kami, Banjar Legian Kelod, Tengah, dan Kaja. Jadi setiap minggunya ada saja aktivitas kesenian yang dilakukan. Dan kami berharap, semua sanggar di Bali bisa tampil di PKB. Agar tidak sanggar-sanggar itu saja. Saya yakin sanggar-sanggar lainnya mampu,” pungkasnya.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia