Minggu, 15 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Sang Hyang Penyalin, Tari Sakral, Rotan Bergerak Sendiri seperti Ular

03 Juli 2019, 21: 52: 04 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sang Hyang Penyalin, Tari Sakral, Rotan Bergerak Sendiri seperti Ular

SANG HYANG PENYALIN: Penari saat menyolahkan Sang Hyang Penyalin dalam acara pembukaan Twin Lake Festival di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Rabu (3/7) sore. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

Pementasan Tarian Sang Hyang Penyalin menjadi magnet saat acara pembukaan Twin Lake Festival VI, Rabu sore (3/7). Tarian sakral yang dibawakan oleh Sekeha Sang Hyang Puspa Bala Giri ini diyakini sudah ada sejak era Pra Hindu, dan dibawa oleh krama dari Bugbug, Karangasem ke Desa Pancasari sejak tahun 1958. Meski sebagai tarian sacral, namun sejumlah tamu undangan dan pengunjung diberikan kesempatan menjajal kesakralan dari Penyalin tersebut. Seperti apa?

I PUTU MARDIKA, Sukasada

Sang Hyang Penyalin, Tari Sakral, Rotan Bergerak Sendiri seperti Ular

SANG HYANG PENYALIN: Penari saat menyolahkan Sang Hyang Penyalin dalam acara pembukaan Twin Lake Festival di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Rabu (3/7) sore. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

ACARA pembukaan Twin Lake Festival ke-VI berlangsung meriah. Setelah pementasan Tari Rejang Renteng massal oleh ratusan ibu-ibu dari Catur Desa, para penonton dan undangan kembali disuguhkan oleh tarian sacral, bernama Sang Hyang Penyalin pada Rabu sore, sekitar pukul 17.00 Wita.

Ya. Sesuai namanya, tarian Sang Hyang Penyalin ini menggunakan Penyalin (rotan, Red) sebagai media utamanya. Namun rotan ini memiliki kekuatan magis yang di luar nalar. Karena bergerak-gerak sendiri tanpa harus dikomandoi saat dipegang oleh anggota sekeha.

Ritual pementasan tarian Sang Hyang Penyalin tak boleh sembarangan. Sebelum dipentaskan anggota Sekeha Sang Htang Puspa Bala Giri Desa Pancasari melalukan sejumlah ritual. Seperti mapiuning (mohon ijin, Red) agar dilancarkan ketika dipentaskan.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) ada dua orang khusus yang memegang rotan sepanjang 2 meter tersebut dengan posisi tergulung. Sedangkan anggota yang lain bertugas membawa pasepan dan sesajen. Ada pula anggota secara khusus menyanyikan kekidungan berbahasa Jawi dan Bahasa Bugbug sebagai tanda memohon ijin.

Mereka bergerak ke atas panggung. Sesampai di panggung para sekeha mekukan ritual. Nah saat itulah dua buah rotan lanang wadon (Laki-Perempuan, Red) yang dianalogikan sebagai simbol widyadara dan widyadari merangsuk ke dalam rotan.

Rotan yang ujungnya berisi gangsing dan tetuesan janur itu seolah hidup. Bergerak-gerak, berputar maju mundur, meliuk-liuk tanpa komando. Persis seperti ular yang hendak mematuk. Sangat terlihat garang Meskipun pada bagian pangkal rotan dipegang oleh anggota sekeha.

Begitu hidup, anggota sekeha pun turun ke panggung. Suasana kian terasa magis tatkala anggota sekeha lainnya terus mengumandangkan kidung khas Sang Hyang Penyalin. Sedangkan kedua rotan itu selanjutnya dibawa ke tepian danau untuk matur piuning.

Rotan yang bergerak-gerak membuat para penonton dan pengunjung penasaran. Tak hanya ditarikan oleh anggota sekeha. Para penonton juga diperkenankan merasakan kesakralan dari rotan tersebut. Namun, sebelum dan sesudah menarikan, mereka wajib diperciki tirta dan didampingi oleh anggota sekeha.

“Tenaganya (rotan, Red) sangat besar. Seperti ditarik-tarik. Dibuat sedikit kewalahan,” ujar Komang Yudha, wartawan Bali TV yang ikut menjajal kesakralan Tari Sang Hyang Penyalin.

Kelian Sekeha Sang Hyang Puspa Bala Giri, Gede Adi Mustika mengungkapkan Tarian Sang Hyang Penyalin sejatinya merupakan tarian yang berasal dari Desa Bugbug, Karangasem. Namun dibawa oleh krama ke Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng pada tahun 1958. Tarian ini sudah ditarikan hingga generasi ketiga.

Dikatakan Adi Mustika, Sang Hyang Penyalin merupakan tarian yang sudah ada sejak jaman pra Hindu. Namun kini dilestarikan oleh masyarakat Pancasari. Sekeha Sang Hyang Puspa Bala Giri, dan wajib dipentaskan saat Sasih Kenem.

“Tarian ini dipersembahkan untuk Dewa-Dewi dan nyomia para Bhuta Kala, khususnya saat Tilem Kenem, Tilem Kesanga baik di Catus Pata. Artinya dilaksanakan saat pecaruan untuk menetralisir Kala agar tidak mengganggu manusia. Ya tujuanya untuk menolak bala,” ujar Adi Mustika kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Menurutnya, para penari tidak hanya berasal dari anggota sekeha. Adi menyebut, para pengiring dari penyalin ini boleh dari siapa saja. Tetapi syaratnya harus berjodoh. “Kalau tidak mejodo, maka rotannya tidak akan bergerak,” imbuhnya.

Kedua penyalin itu sebut Adi Mustika memang rutin diganti. Namun harus tetap melalui prosesi sakral. Mulai dari proses nunas rotannya di hutan, wajib menggunakan upacara. Waktu penggantiannya pun tidak boleh sembarangan, yakni bertetpatan dengan Soma Kliwon Pemacekan Agung.

“Selama ini penyalin distanakan di Gedong Simpen, Kantor Kepala Desa Pancasari. Kami meyakini yang berstana adalah widyadara-widyadari yang merupakan tapakan dari Ida Betara Taksu ring Dalem Dasar Pancasari,” tuturnya.

Adi menyebut, ngiringang Sang Hyang Penyalin bertujuan untuk menyomia bhuta demi keharmonisan alam. Bahkan, jika tidak disolahkan, Desa Pancasari pun mengalami grubung yang mengakibatkan kebrebehan.

“Hewan piaraan banyak mati tak jelas, kambing, sapi mati semua. Kejadiannya dulu tahun 2006. Sehingga setelah rutin ditarikan, kejadian seperti itu astungkara tidak terulang kembali. Karena Bhuta Kala sudah disomya sehingga tidak meminta tumbal,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia