Rabu, 21 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Nyepi Kasa, Berawal dari Bayar Kaul di Desa Adat Buahan Payangan

05 Juli 2019, 13: 38: 51 WIB | editor : I Putu Suyatra

Nyepi Kasa, Berawal dari Bayar Kaul di Desa Adat Buahan Payangan

NYEPI : Susana Jalan Raya Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Gianyar lengang, saat tradisi Nyepi Kasa, Selasa (2/7) lalu. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Sesuai tradisi yang ada di Bali,  Nyepi pada umumnya hanya berlangsung setahun sekali. Namun berbeda dengan Desa Adat Buahan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, yang dua kali melaksanakan Nyepi. Bagaimana muasal ini terjadi di Buahan?

Warga Desa Adat Buahan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, melaksanakan dua kali Nyepi.  Nyepi pertama dilakukan  sehari paska Tilem Sasih Kasanga, dan yang kedua adalah Nyepi Kasa, sehari paska Tilem Kasa, Selasa (2/7) lalu.

Secara umum Nyepi Kasa memang tidak banyak dikenal  masyarakat di Bali pada umumnya. Namun, di Kecamatan Payangan, Gianyar, tradisi  itu sudah lumrah, khususnya bagi Desa Adat Buahan. Mereka menutup akses seperti Nyepi yang telah berjalan biasanya.  Bahkan Catur Brata Panyepian juga berlaku, tapi dilaksanakan selama 12 jam saja. 


Bendesa Adat Buahan I Nyoman Parwata menjelaskan kepada Bali Express (Jawa Pos Group)  baru baru ini,  Nyepi Kasa  telah dilakukan secara turun – temurun oleh leluhurnya terdahulu, dan  sampai saat ini pihaknya hanya melanjutkan tradisi tersebut.  “Tradisi ini khusus dilakukan oleh Desa Adat Buahan saja selama 12 jam. Prosesinya sama seperti pelaksanaan Catur Brata Panyepian pada Sasih Kasanga, dan tujuannya untuk keselamatan lingkungan beserta warganya juga,” jelasnya.


Ditanya soal muasal Nyepi Kasa dilaksanakan, Parwata mengatakan, konon Desa Adat Buahan mengalami grubug (banyak wabah penyakit) kala itu. Banyak warga sampai meninggal dunia, sakit tanpa sebab secara mendadak, dan hal yang buruk lainnya. Sehingga, masyarakat setempat merasa tidak nyaman tinggal di sana.


Warga setempat kemudian berinisiatif untuk memohon kepada Bhatara yang bersthana di Pura Kahyangan Tiga. Mohon pertolongan dengan doa agar desa mereka terbebebas dari grubug dan bencana. Bila permohonan tersebut dikabulkan,  lanjutnya, maka warga akan masesangi (membayar janji) dengan melaksanakan Nyepi Kasa yang dilakukan setiap tahun sekali setelah Tilem Kasa.


Rupanya harapan warga tersebut dikabulkan, beberapa hari setelah berdoa, grubug pun menghilang. Warga sudah tidak ada yang meninggal mendadak, wabah penyakit pun  tidak menyerang warga lagi, dan  aktivitas di desa tersebut normal kembali.
"Warga selanjutnya memenuhi janjinya, membayar sesanginya dengan melaksanakan Nyepi Kasa," ujarnya.


Parwata menuturkan, prosesinya berlangsung mulai dari tiga hari sebelum Nyepi dilakukan. Yaitu dimulai dari tradisi Nangkep Sari, semacam persembahan berupa ajengan nasi berukuran besar dan warga magibung ( santap bersama) di Pura Dalem setempat. 


Tiga hari sebelum Nyepi, dipersembahkan anak sapi pukul 07.00 Wita. “Anak sapi atau disebut dengan godel dibiarkan lepas begitu saja, badannya ditusuk sampai darahnya menetes di sepanjang perjalanan menuju Pura Dalem. Sesampainya di Pura Dalem akan langsung diupacarai, disemblih dan dagingnya dibagikan kepada 360 kepala keluarga yang ada,” paparnya.
Tradisi tersebut dikatakan hanya berlangsung sampai siang hari, sedangkan sorenya, sehari sebelum Nyepi belanjut dengan Jorogan. Tradisi Jorogan adalah saling dorong mendorong sesama warga untuk rebutan lungsuran banten ( buah dan makanan seusai dipersembahkan). 

"Jorogan adalah nunas lungsuran sesajen yang dihaturkan, yang penting dapat, meskipun sedikit," ujar pria yang juga guru di SMA Negeri 1 Payangan ini.


Prosesinya berlangsung di Pura Dalem sekitar pukul 17.00 Wita. Sambil menunggu prosesi upacara,  krama lanang (laki) biasanya menggelar tabuh rah (aduan ayam) di areal Pura Dalem. Selanjutnya dilaksanakan maprani di catus pata desa setempat sampai sandikala (sore hari). Setelah prosesi menghaturkan caru dan tawur dilakukan, dilanjutkan  pengarakan ogoh-ogoh. Suasananya pun sama seperti pangrupukan pada umumnya.  Selesai prosesi itu, masyarakat kembali menunggu tradisi Nyepi Kasa yang berlangsung keesokan harinya dari pukul 06.00 sampai 18.00.


Soal pengalihan arus selama Nyepi Kasa, lanjut Parwata,  sudah koordinasi dan bersurat kepada masing-masing perbekel tetangga, Kapolsek, Koramil dan Camat Payangan. "Setiap tahun pelaksanaan Nyepi Kasa  berlangsung lancar. Bahkan, tidak ada warga yang  melanggar.
Kalau melanggar itu ada sanksinya, didenda dengan asepel uang kepeng asli, jika dirupiahkan sekarag bisa mencapai Rp 6.300.000. Dikatakan Parwata, kalau yang bekerja itu bisa menyiasati saat Nyepi berangkat sebelum pukul 06.00, begitu juga pulangnya harus setelah pukul 18.00 Wita. "Leluhur kami di sini memastikan, setelah muncul bintang di langit baru boleh beraktivitas seperti baisa,” imbuh pria yang sudah dua tahun menjadi bendesa adat.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia