Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Lembu 3 Ton di Bitera akan Digotong 500 Krama, Juga Undang Gamang

05 Juli 2019, 16: 21: 23 WIB | editor : I Putu Suyatra

Lembu 3 Ton di Bitera akan Digotong 500 Krama, Juga Undang Gamang

LEMBU: Lembu yang digunakan prosesi ngaben dan berukuran 7,5 meter di Banjar Dauh Uma, Kelurahan Bitera, Kecamatan/Kabuapaten Gianyar, Jumat (5/7). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Prosesi upacara Pitra Yadnya berupa ngaben massal di Banjar Dauh Uma, Kelurahan Bitera, Gianyar kali ini menggunakan lembu raksasa. Undagi lembu, Gusti Made Armada, Jumat (5/7) menjelaskan sarana ngaben itu tingginya 7,5 meter dan berat mencapai 3 ton.  Sehingga akan digotong dengan 500 krama secara estapet sepanjang 1 kilometer.

Dalam kesempatan tersebut, pria asli Banjar Pekandelan, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh itu menjelaskan proses pembuatannya selama satu bulan. “Pembuatannya selama satu bulan, yang membuat saya sendiri dan dibantu oleh lima orang rekan saya. Mereka masing-masing sudah memiliki tugas, ada yang membuat hiasannya, tatakan lembu, hingga pembuat kerangka,” tuturnya.

Karena waktu pembuatan pertama kali diminta agar menjadi berat, sehingga ia sengaja mendesain lembu tersebut supaya besar dan berat. Dengan demikian ia menyampaikan lembu yang berukuran 7,5 meter tersebut memiliki berat sekitar 3 ton. Sehingga lembu itu merupakan terbesar dan terberat yang pernah dibuat di Dauh Uma.

“Kalau dulu di Puri Ubud saya pernah buat yang berukuran 8,5 meter sekitar tahun 2006 lalu. Makanya dalam proses pembuatannya ini saya tidak terlalu menemukan kendala yang berarti. Tepat dalam sebulan sudah siap untuk digotong menuju setra saat ngaben besok (hari ini),” ungkapnya.

Prosesi pengabenan di sana pun ia memaparkan akan berlangsung hari ini, Sabtu (6/7). Sekitar pukul 13.00 lembu raksasa itu akan digotong oleh ratusan krama menuju setra yang jaraknya sekitar 1 kilometer. Tentunya proses peggotongan dengan cara estapet menggunakan pos-pos yang sudah ditentukan jaraknya.

“Dalam sanan itu 70 orang bisa masuk dan cukup untuk mengangkatnya, belum lagi yang di samping-sampingnya bisa mencapai 80-an orang. Selain krama secara sekala (nyata) bisanya saat prosesi akan ngundang penyandang secara niskala. Yaitu dengan mengundang yang disebut dengan gamang (bhuta) di areal sungai maupun jurang yang ada di sana,” ungkap Armada.

Ia menambahkan lembu tersebut merupakan tempat sawa yang berjumlah delapan sawa. Karena prosesi ngaben di desa setempat masih secara ngagah, sehingga sengaja dibuatkan lembu yang berukuran besar tersebut.

Disinggung proses pembuatanya, Armada mengungkapkan terdapat prosesi menghaturkan banten undagi. Tujuannya pun dijelaskan agar selama pembuatan berjalan dengan lancar. “Sebelum membuat lembu itu biasa menghaturkan banten undagi, saat dibakar, tiga harinya juga menghaturkan banten yang sama. Tujuannya sebagai simbol pemutus antara undagi dengan lembu yang telah dibakar itu,” imbuh dia.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia