Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Pisang Lokal Dikonteskan Langkah Pelestarian Buah Lokal

05 Juli 2019, 16: 44: 45 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pisang Lokal Dikonteskan Langkah Pelestarian Buah Lokal

JUMBO: Sejumlah tandan pisang lokal saat diikutkan dalam kontes buah pisang lokal di Wantilan Pura Danau Buyan serangkaian Twin Lake Festival. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SUKASADA - Pengembangan potensi buah lokal nampaknya bukan isapan jempol belaka. Termasuk menyasar pengembangan buah pisang lokal. Bahkan, dalam gelaran Twin Lake Festival, buah pisang lokal ini ikut dikonteskan.

Seperti terlihat di wantilam Danau Buyan, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kamis (4/7) siang. Sebanyak delapan tandan buah pisang super jumbo mengikuti kontes buah pisang lokal yang diselenggarakan Dinas Pertanian Buleleng.

Delapan peserta yang ikut kontes merupakan perwakilan kecamatan. Mereka membawa hasil perkebunan pisang terbaiknya. Artinya, dari sisi ukurannya pun jauh lebih besar dan wajib matang dipohon.

Seperti pisang yang dibawa Made Arya Bakti. Petani pisang asal Desa Les, Tejakula ini membawa satu tandan pisang jenis Kapok. Selain ukurannya yang super jumbo, jumlah buah dalam satu tandannya bahkan mencapai 200 biji. Bahkan pihaknya mengaku telah menghilangkan setengahnya, karena berat dibawa lokasi kontes. “Kalau dibiarkan panjang tandan bisa 1,5 meter, isinya sampai 400 buah pisang,” ujar dia.

Tak ingin kalah dengan Made Arya, komoditas pisang raja juga diperlihatkan kelompok petani asal Desa/Kecamatan Banjar. Ukuran pisang raja itupun tergolong jumbo. Mengingat selama perawatan menggunakan pupuk organik.

Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, Gede Subudi menjelaskan dalam kontes ini memang sengaja menyasar kontes pisang lokal. Pertimbangannya karena pisang sangat popular di masyarakat mengingat kerap digunakan sebagai sarana banten. Penilaiannya sebut Subudi mengacu dari sisi bentuk, ukuran dan tampilannya. Termasuk kualitas rasanya harus dicicipi oleh dewan juri.

Lanjutnya, dari hasil identifikasi Universitas Udayana (Unud) tercatat ada 42 jenis buah pisang lokal. Namun dari jumlah itu, hanya tiga jenis yang menjadi primadona di pasaran. Seperti pisang kapok, pisang raja dan pisang ketip. Tiga pisang lokal Bali itu disebut paling laris, karena selain enak dimakan juga enak untuk diolah menjadi beragam penganan.

Peluang petani pisang lokal Bali sebut Subudi sejauh ini masih aman, meskipun banyak pisang yang didatangkan dari Jawa. Pisang lokal Bali yang dibudidayakan rata-rata dengan organic. Sehingga memiliki ukuran, rasa dan tekstur lebih padat.

“Petani lokal tidak pernah takut dengan gempuran pisang dari luar.  Karena pisang lokal punya kualitas. Pembeli lebih memilih kualitas rasa. Selain itu pisang sering diolah menjadi beraneka ragam makanan” jelasnya.

Demi melestarikan sebanyak 42 jenis pisang lokal Bali, Dinas Pertanian sebut Subudi mulai melakukan pembibitan secara terprogram sebagai percontohan. Salah satunya dengan mengembangkan kebun pisang di Balai Benih, Gerokgak. “Kami sudah memesan dengan Unud nanti akan buat juga sebagai koleksi dan percontohan,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia