Rabu, 24 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ular Masuk Rumah dari Segi Mistis dan Realistis, Garam hanya Mitos

06 Juli 2019, 10: 48: 07 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ular Masuk Rumah dari Segi Mistis dan Realistis, Garam hanya Mitos

TANGKAP: Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah kini siap memberikan bantuan, jika rumah warga dimasuki ular. (BPBD DENPASAR FOR BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Ular masuk ke rumah kerap dikaitkan dengan urusan mistis (niskala). Bahkan, di Bali ada yang meyakini pekarangan rumah itu dinamai karang panes.  Sejatinya, tanda apa bila ular nasuk rumah, dan apa yang mesti dilakukan?

Rumah dengan halaman  luas dan dipenuhi banyak tanaman, memang rentan dimasuki ular. Ular juga  suka karena secara tidak langsung di sekitar rumah menunjukkan bahwa ekosistemnya memadai. 

Namun, tetap saja kehadiran binatang melata tersebut  bikin tak nyaman, apalagi jenisnya berbahaya. Lantas, bagaimana kalau akhirnya ular masuk pekarangan rumah?
Secara umum yang bisa dilakukan bila ular masuk halaman rumah, jangan panik, sehingga bisa tenang untuk mengusirnya ke luar halaman. Bisa jadi ular yang masuk karena tersesat, dan biarkan ular mencari jalan sendiri untuk keluar. Agar ular tidak lebih jauh masuk ke rumah. Biarkan ular tersebut bergerak keluar sendiri dari halaman.Meskipun takut, usirlah ular dengan pelan-pelan. Jika kita terlalu agresif dan bersemangat, justru ular akan berlari menuju ke tempat-tempat di rumah yang sulit dijangkau.

Namun, ada yang mengatakan bahwa untuk mengusir ular hanya perlu menaburkan garam di dekatnya. Cara tersebut adalah mitos, karena ular tidak takut dengan garam. Menaburkan garam hanya ampuh untuk mengusir hewan-hewan yang berlendir seperti bekicot atau lintah.

Ada cara yang cukup ampuh untuk mengusir atau mencegah ular masuk rumah dengan menyemprotkan parfum. Ular tidak suka dengan aroma wangi yang terlalu menyengat, sehingga akan selalu berusaha menjauhi wilayah yang mempunyai aroma wangi.

Cara lainnya adalah menggunakan sapu ijuk. Jika kita mengusir ular dengan  sapu ijuk, ular akan segera menyingkir karena kulit ular sangat sensitif terhadap benda yang permukaannya kasar seperti sapu ijuk. Tetapi, bagaimana kalau masuknya ular ke halaman rumah dilihat dari sisi umat Hindu di Bali?

Jero Gede Mangku Mahendra yang populer dengan panggilan Jero Agni Beradah mengatakan,berdasar Lontar Ceciren Karang Tenget dan Panes, salah satu pekarangan rumah dikatakan 'panes', ketika pekarangan rumah  dimasuki  ular. Apalagi ular itu sampai menggigit tuan rumahnya, tentu sangat bahaya.


Dikatakan Pemangku Pura Kahyangan Tiga di Karangasem ini, Lontar Ceciren Karang Tenget dan Panes menulis tentang ciri-ciri tempat karang yang agak angker ada beberapa cirinya, namun kali ini hanya pada ular. 


Dijelaskan pria yang juga  instruktur meditasi ini, dalam lontar tersebut tertuang kalimat : " Yan hana sarpa anglilit rasuk ring karang umah, iku ceciren bhuti salaji, wenang tebas haturhaken sesaji ring huluning karang." Maksudnya,  jika ada ular melilit dan masuk ke dalam rumah, itu ciri dari tidak baik, semestinya dinetralkan dengan sesaji di tengah pekarangan. Lebih lanjut lontar ini juga menulis, jika ular memasuki pekarangan janganlah dibunuh. Sebab, jika dibunuh, maka kesialan tersebut akan semakin menjadi-jadi.

"Cukup diusir dan lakukan sesajinya. Ketika ular dibunuh, maka kemungkinan besar akan dimasuki lagi oleh binatang sejenis. Sebab, darah ular yang menetes di tanah mampu tercium oleh binatang sejenis (temanya), sehingga kemungkinan besar suatu saat akan dimasuki lagi," urai Jero Mangku Dalem yang juga motivator dengan konsep Manacika Power ini.


Ketika ular masuk rumah secara mistis, lanjut pria asal Karangasem ini, dia sudah membawa gunakaki (kekuatan negatif), maka dari itu jangan dibunuh. Lantas, apa yang mesti dilakukan? 


Jero Mangku Gede Mahendra meminta agar mengusir ular tersebut keluar, dan setelah pergi buatlah nasi, diisi jahe, lalu arak tabuh, dan garam. Kemudian  sebarkan sarana tersebut ke seluruh pojok pekarangan dan lebuh depan rumah. Selanjutnya pada saat  Kajeng Kliwon lakukan sesaji sederhana dengan Canang madaging buah pinang dan sirih, lalu buatlah Nasi Sarpawindu ( adonan nasi berbentuk donat) beralaskan daun keladi, dihaturkan pas di tengah pekarangan.

"Sesaji ini bertujuan mengusir hawa negatif, apabila ular tersebut adalah ular jadi-jadian atau ular membawa energi mistis," urainya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin di Denpasar. 

Selain cara tersebut, ada juga cara lain yang tak kalah bergunanya. Jika  ada ular memasuki pekarangan, sebisa mungkin jangan sampai dibunuh, cukup diusir, namun segera siapkan Nasi Kepel dua tanding, Canangsari, sekeping Pis Bolong , sebutir taluh maencak. Kemudian  doa  dalam hati ditujukan kepada Hyang Naga Wangga, mangde mawali ke umahe jati mule ( kembali ke habitat aselinya dari mana berasal). Dengan cara tersebut, ular yang masuk pekarangan rumah akan pergi.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia