Rabu, 21 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Features

Menengok Usaha Pembuatan Hiasan Penjor di Desa Kapal

08 Juli 2019, 10: 10: 10 WIB | editor : I Putu Suyatra

Menengok Usaha Pembuatan Hiasan Penjor di Desa Kapal

MEJEJAITAN: Penjual mulai membuat hiasan penjor lebih banyak untuk permintaan Hari Raya Galungan 24 Juli mendatang. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

Penjor sebagai sarana wajib yang ada di setiap Hari Raya Galungan dan Kuningan selalu menjadi ladang rejeki bagi sebagian orang. Salah satunya adalah warga yang membuka usaha di Desa Kapal, Badung yang kini terkenal menjadi sentra kerajinan hiasan penjor. Menyambut Galungan yang sebentar lagi, mulai banjir permintaan baik dari penjual maupun perorangan.

AGUS SUECA MERTA, Badung

DUA minggu sebelum Hari Raya Galungan, toko-toko di Jalan Denpasar Gilimanuk tepatnya Desa Kapal mulai menjajakan dagangan berupaya hiasan penjor sampai terlihat meluber di depan tokonya. Cuaca panas kemarin (4/7) tidak menjadi halangan bagi penjual menjajakan dagangannya untuk menarik perhatian pengguna jalan. Salah satunya toko milik Ni Made Sari, 54, yang terletak di kiri jalan jalur menuju Denpasar, hiasan penjor sudah meluber ke area luar toko. Anak dan saudaranya membantu membuat hiasan penjor. “Di sini kami membantu ibu membuat dan sekaligus meladeni pembeli,” ujar Ni Kadek Wahyuni, 26, sambil meladeni pembeli sembari menerangkan bahwa ibunya sedang keluar.

“Kami memang menekuni usaha menghias penjor ini, tetapi untuk menyambut Hari Raya Galungan produksi kami tingkatkan sampai empat kali lipat,” imbuhnya sambil menunjukkan hiasan penjor.

Hiasan penjor memang begitu sangat banyak di tokonya, sampai berdiri hanya bisa di area jalan masuknya saja. “Selain menjual hiasan penjor kami juga menjual jasa membuat penjor yang kalau kami selesaikan dengan bertahap secara berbarengan semua pesanannya dalam beberapa hari,” terang wanita yang sedang hamil ini.

Pemesanan penjor sendiri di tokonya bisa mulai dari Sugihan Bali atau tepatnya Hari Jumat, lima hari sebelum Hari Raya Galungan. Penjualan hiasan sendiri meningkat pesat pas akhir pekan sebelum Galungan dan paling ramai pas hari Minggu dan Seninnya. “Omzet bisa meningkat sampai bahkan lima kali lipat dari hari biasanya,” lanjut Wahyuni sambil memegang nota sehabis meladeni pembeli.

“Untuk hiasan penjor paling mahal itu janur kelopak lidah yang dipakai buat penjor paling bawah itu, harganya bisa sampai Rp 350 ribu per buah, kalau yang paling murah itu sampian penjor ada yang Rp 10 ribu dan paling mahal Rp 130 ribuan,” ucapnya sambil menunjuk nama hiasan saat menerangkan harganya.

“Kalau untuk penjor yang sudah jadi bisa dari yang paling murah Rp 500 ribu dan paling mahal bisa sampai Rp 5 jutaan. Itu semua tergantung dari harga hiasan yang dipakai dan diminta oleh pembeli,” tambah wanita yang sudah memiliki satu anak ini. Pemesan penjor sendiri di tempatnya berasal dari Dalung, Kuta, dan Buduk juga. “Pembeli kebanyakan dari orang yang tinggal di perumahan,” ujarnya lagi.

Senada dengan Ni Kadek Wahyuni. Toko Bu Ririn yang terletak di sebelah Balai Banjar Peken Baleran juga penuh dengan hiasan penjor. Ditemui berjualan bersama adik sepupunya, Putu Ririn Yuliana baru saja terlihat selesai meladeni seorang pembeli. “Oh ini punya ibu saya, sekarang saya diminta bantu jualan sama ibu,” ujarnya ramah mempersilahkan duduk.  

Ririn pun menjelaskan bahwa di tokonya sebagian dibeli dari pengepul di luar dan juga sebagian dibuat sendiri. “Iya di sini kami buat yang hiasan kecil-kecil seperti ceniga juga,” ujarnya menunjuk ke arah hiasan ceniga.

“Itu paling murah harganya yakni Rp 1.500-an perbuah dan paling mahal janur satu meter kelopak lidah bisa sampai kurang lebih Rp 300 ribuan,” tambahnya sambil menunjuk hiasan penjor yang dimaksud.

Kalau Hari Raya Galungan ini, menurutnya harga bisa naik, mengingat bahan mulai sedikit karena peningkatan permintaan. “Janur kelopak lidah bisa jadi naik kurang lebih dari Rp 325 ribu sampai Rp 340 ribuan,” jelas wanita berkacamata itu.

“Kalau untuk penjor yang sudah jadi kami juga ladeni, namun jika pesanan membludak saya bagi rejeki ke temen yang khusus hias penjor dan bahannya dari kami, hitung-hitung bagi rejeki juga ya,” sambungnya sambil memainkan ponsel.

Stok barang sendiri di tokonya menjelang Hari Raya Galungan juga dinaikkan hingga dua kali lipat. “Karena selain pembeli perorangan kami juga jual borongan untuk dijual kembali,” ucap lulusan Univesitas Udayana ini.

“Kalau borongan bisa dapat diskon per item yang dibeli, namun buat perorangan kita kasih potongan tergantung total jumlah yang dibeli, bisa lima sampai sepuluh ribu,” tambah Ririn.

Omzet sendiri kalau di Toko Bu Ririn ini mencapai Rp 500 ribuan sehari pada hari normal. “Kalau Galungan dalam tiga minggu kami bias meraup sampai Rp 15 juta,” ujar Ririn lulus kuliah 3 tahun lalu ini.

Senada dengan Wahyuni, Ririn juga mengakui harga penjor pesanan biasanya dari Rp 200 ribu paling murah sampai jutaan rupiah. “Biasanya orang selalu beli ingin yang bagus dan harga yang murah,” tutur wanita dua bersaudara ini sambil tersenyum.

Berjualan hiasan penjor sendiri juga memiliki resiko sama seperti usaha lainnya. Semakin banyaknya penjual dan pembuatnya, membuat persaingan cukup ketat walau ada permintaan naik menjelang Hari Raya Galungan. Ini disebabkan karena pembeli menjadi banyak pilihan untuk membeli hiasan penjor. Hal ini diakui oleh Ririn yang merupakan anak pemilik toko penjual hiasan penjor. “Sekarang sampai ke desa-desa juga banyak yang jualan dan membuat hiasan penjor jadi lumayan ketat juga persaingannya,” ujar lulusan S1 ini.

Sebagai penjual hiasa penjor tetap alias tidak musiman, baik Ni Kadek Wahyuni, maupun Putu Ririn Yuliana mengatakan musim sepi pembeli juga sering terjadi.  Wahyuni sendiri menjelaskan kalau momen paling sepi setelah Hari Raya Kuningan. “Sehabis hari raya Galungan dan Kuningan biasanya paling sepi, jarang orang mau beli hiasan penjor,” sahutnya ramah.

Berbeda dengan Wahyuni, Ririn justru pada bulan yang berbeda. “Kalau saya paling sepi dua bulan sebelum Hari Raya Nyepi seingat saya,” ucap Ririn sambil berusaha mengingat-ngingat.

Keduanya juga mengungkapkan toko mereka merupakan sebagai usaha keluarga. Jika Wahyuni produksi sendiri dengan membeli bahan di Pasar Batu Kandik, sedangkan Ririn membeli jadi dari pengepul dan juga buat sendiri. “Biasanya sebulan itu masih segar hiasan penjornya, namun setelah itu mulai memudar sedikit,” jelas Ririn yang lulusan Pariwisata di Unud ini. “Staplernya bisa lepas juga, jadi jika masih bisa diperbaiki ya saya perbaiki juga,” terangnya sambil menggerakkan tangannya untuk menjelaskan.

Jika masih bagus, namun warna memudar maka Ririn menjual kembali dengan harga lebih murah. Dia tawarkan ke pembeli saja, karena biasanya ada juga yang tertarik. “Sering banget orang ingin lihat dan justru tertarik karena masih bagus dan harganya jauh lebih murah,” terang wanita lulusan  jurusan Destinasi Wisata itu.

Rupanya selain masalah kurang awetnya hiasan penjor. Penjual sekaligus pembuat hiasan juga menggunakan masker untuk menutup hidung dan mulutnya. Hal ini dilakukan agar tidak batuk-batuk karena terlalu lama mencium bau hiasan penjor, yang lama-lama memang terasa membuat tenggorokan kering dan jadi ingin batuk. “Wah memang terasa kalau terlalu lama, makanya kami jualan pakai masker,” terang Ririn.

“Dulu sampai ada ibu-ibu yang gak mau keluar dari mobil dan meminta si suami untuk membeli ke toko saya, si suami ibu tersebut bercerita sang istri alergi dengan kerasnya bau hiasan penjor yang cukup keras sehingga memilih diam di dalam mobil,” tambah wanita yang lulus S1 tahun 2016 lalu. (*)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia