Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Lontar Roggha Sanghara Bhumi, Mitigasi Bencana Orang Bali

08 Juli 2019, 10: 35: 56 WIB | editor : I Putu Suyatra

Lontar Roggha Sanghara Bhumi, Mitigasi Bencana Orang Bali

BANJIR : Pura Belatung di Desa Banyupoh yang rusak akibat diterjang Banjir Januari 2016 silam, hanya menyisakan Palinggih Ganesha. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Sejarah mencatat Pulau Bali merupakan pulau yang sangat rawan bencana alam. Hal ini terbukti pernah terjadi  gempa bumi besar di tahun 1815. Pusat gempa  diperkirakan berada di laut sebelah utara Kerajaan Buleleng di Bali Utara. Bahkan, Kota Singaraja sempat rusak parah. Gempa bumi tersebut menggetarkan seluruh Pulau Bali, sehingga disebut juga Gejer Bali yang artinya Bali bergetar.

Selain di Bali, getaran Gejer Bali yang sangat kuat itu, juga dirasakan hingga Surabaya, Lombok, bahkan Bima. Demikian rawannya Pulau Bali akan  bencana alam. Kondisi itupun membutuhkan upaya mitigasi secara fisik maupun non fisik. Sebab, manusia tidak bisa menolak terjadinya bencana alam,  hanya bisa melakukan pengurangan terhadap risiko bencana yang terjadi.

Menariknya, upaya melakukan mitigasi secara spritual di Bali sudah dilakukan dengan berbagi ritual seperti Mapakelem di segara,danau, gunung. Bahkan, perlindungan secara niskala kian paripurna dengan mendirikan Pura Segara di pesisir pantai sebagai wujud permohonan perlindungan kepada Dewa Baruna.

Secara filosofi  masyarakat Bali sejatinya memiliki naskah yang berbicara khusus untuk membaca tanda alam, sebab malapetaka yang terjadi di dunia, jenis bencana, dan beberapa ciri akan datangnya bencana. Mitigasi tersebut tertuang dalam Lontar Roggha Sanghara Bhumi.


Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali, yang sekaligus pemerhati Lontar, Nyoman Suka Ardiyasa mengungkapkan, Lontar Roggha Sanghara Bhumi secara tekstual merupakan naskah tradisional yang mengandung upacara penyucian bumi sebagai suatu kearifan lokal. Secara intrinsik tergolong lontar tutur yang disusun dalam bentuk teks menggunakan Bahasa Kawi.

Dikatakan Suka, dalam Lontar Roggha Sanghara Bhumi disebutkan ada beberapa jenis bencana yang terjadi. Dimana, bencana yang akan terjadi berulang pada setiap sasihnya dan bencana yang akan terjadi  melihat tanda atau isyarat yang tidak baik (Durmanggala).

Dalam lontar juga tersurat, jika gempa bumi yang terjadi secara terus-menerus harus diupacarai atau dipersembahkan caru sesuai dengan sasih pada saat terjadinya gempa tersebut. Sebagian besar gempa yang terjadi merupakan pengundang wabah penyakit atau sebagai suatu pertanda yang mengarah pada hal yang tidak baik.

Dalam Lontar Roggha Sanghara Bumi juga berisi tentang bencana alam gempa beserta baik buruknya berdasarkan sasih (bulan). Misalnya bila sasih Kapitu (Januari) datangnya gempa secara terus-menerus, menandakan akan terjadi perang tidak henti-hentinya. Berbagai penyakit akan menimpa masyarakat. Kemudian bila sasih Kaulu (Februari), dan sasih Katiga (September) datangnya gempa secara terus-menerus, ramalannya akan terjadi wabah penyakit sampai banyak orang meninggal.
Bila sasih Kasanga (Maret) datangnya gempa secara terus-menerus, ramalannya negara tidak akan menentu. Para pembantu meninggalkan tuannya. Bila sasih Kadasa (April), ramalannya negara akan menjadi baik. Ini berarti sebagai pengundang Bhatara berbelas kasih kepada manusia.

Sedangkan bila sasih Jyesta (Mei) dan sasih Sada (Juni), ramalannya akan terjadi banyak orang sakit tidak tertolong. Bila sasih Kapat (Oktober), sasih Kalima (November) ramalannya sebagai pengundang dewata. Para dewa senang tinggal di bumi. Bumi akan mendapat karahayuan. Segala yang ditanam akan hidup subur dan berhasil (saphala sarwa tinandur). Raja atau pemimpin bijak dan berbudi rahayu. Begitupun bila sasih Kanem (Desember), ramalannya banyak orang akan jatuh sakit tidak tertolongkan. Untuk menetralisasi patut segera dibuatkan upacara persembahan caru selamatan.

“Sedangkan kalau Durmangala dalam Lontar Roggha Sanghara Bhumi merupakan tanda-tanda alamat tidak baik yang diberikan oleh Sanghyang Druwaresi, yaitu Dewa yang berstana di atas langit sebagai pertanda bahwa malapetaka akan segera datang,” imbuh pria yang pernah menjadi Fasilitator Desa Tangguh Bencana BNPB ini kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) akhir pekan.kemarin.

Mislanya ada pelangi yang masuk ke keraton dan minum air pada saat hujan. Ini pertanda raja atau pemimpin akan berumur pendek. Untuk mengantisipasi hal seperti itu, harus dibuatkan caru (kurban) keselamatan. Ada binatang kijang, menjangan, berlari-lari masuk ke desa, masuk ke rumah-rumah berkeliling. “Ini pertanda buruk bahwa desa itu katadah kala (dimakan bhutakala). Para satwa itu diperintahkan oleh para dewa karena desa itu kotor, tidak ada rohnya bagaikan hutan belantara. Untuk mengantisipasi hal itu, penduduk harus segera membuat upacara selamatan,” bebernya.

Begitu juga jika ada Parahyangan (tempat pemujaan) ditimpa pohon, terbakar, diterjang angin puyuh, apalagi saat melaksanakan upacara yadnya. Ini pertanda buruk dan akan terjadi bencana yang lebih dahsyat. Masyarakat harus segera membuat upacara prayascita (penyucian).

Kemudian jika ada fenomena bintang berekor (bintang kukus) di langit. Ini isyarat raja atau pemimpin akan kena musibah besar seperti ajal dalam sebuah pertempuran. Segala hewan piaraan manusia seperti sapi, kerbau, kambing, dan sebagainya terjadi salah pasangan. Artinya terjadi perkawinan bukan sesama hewan sejenis, umpamanya sapi kawin dengan kerbau, ayam dengan itik, anjing dengan babi, dan sebagainya. Hal salah pasangan juga dapat terjadi pada diri manusia, seperti paman kawin dengan kemenakan, ayah dengan anak, saudara kawin dengan saudara. Ini pertanda bhutakala telah merasuk ke tubuh manusia. Ini harus segera dinetralisasi dengan upacara penyucian jagat agar bhutakala kembali ke alamnya.

Ada orang melahirkan dengan wujud yang tidak normal atau aneh, pohon kelapa di halaman disambar petir, pintu gerbang juga disambar petir. “Semua tanda-tanda yang disebutkan di Lontar Roggha Sanghara Bumi ini menandakan dunia telah kotor dan rusak. Untuk menetralisasi segera dibuatkan upacara selamatan,” ungkap Suka.

Apabila terjadi bencana alam secara insidental, dan masyarakat Bali menginginkan karahayuan jagat, maka dalam Lontar Roggha Sangara Bumi disebutkan ada beberapa jenis upacara keselamatan yang dapat dilakukan, seperti  Upacara Prayascita, Guru Piduka, dan Labuh Gentuh.

"Dialam implementasinya terhadap upaya pembersihan bumi dari malapetaka disikapi dengan memanfaatkan kearifan lokal sesuai dengan desa kala dan patra. Sehingga muncul beberapa sebutan istilah dalam pelaksaan ritual tersebut yang merupakan terjemahan dari implementasi lontar Roggha Sanghara Bhumi, seperti Peneduh Jagat, Pamilayu Bhumi, dan Nangluk Merana,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia