Rabu, 24 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Features
Jejak Panjang Leci Payangan (1)

Hadiah Keluarga Lie Abad 18, Pohon Pertama masih Ada di Puri Payangan

09 Juli 2019, 08: 21: 45 WIB | editor : I Putu Suyatra

Hadiah Keluarga Lie Abad 18, Pohon Pertama masih Ada di Puri Payangan

PERTAMA: Pohon Leci yang umurnya diperkirakan ratusan tahun terletak di areal Puri Agung Payangan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar (foto paling kanan). Buah leci yang manis (tengah). (FOTO: PUTU AGUS ADEGRANTIKA - ILUSTRASI CHAIRUL AMRI S/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Leci Payangan menjadi leci paling top di Bali. Bahkan menjadi ikon Payangan pada zaman kejayaannya. Buahnya sangat manis dan teksturnya kental. Dipastikan hampir sama rasanya, dengan leci dari negeri asalnya Tiongkok. Namun saat ini hanya tersisa beberapa pohon. Beruntung pohon yang pertama dengan umur ratusan tahun, masih kokoh di Puri Payangan.

Salah satu tokoh Jero Pengaji, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Dewa Rai Budiasa menjelaskan kepada Bali Express (Jawa Pos Group) terkait jejak leci Payangan. Dikisahkan, pada abad ke-18, ada hadiah pohon leci berawal dari keluarga Lie yang memiliki hubungan pertemanan sangat baik dengan penglingsir Puri Payangan. “Kepastian tahun, memang ada catatan menyebutkan sekitar abad 18. Namun ada catatan yang menyebut tahun1901. Pemberian keluarga Lie asal Tiongkok (China),” kata Tokoh Golkar Bali ini.

Dikatakan waktu itu dari keluarga Lie membawa cangkokan pohon leci ke puri hanya satu cangkokan saja. “Zaman itu ibaratnya sebagai buah tangan dari negara asalnya di Cina. Maka dihaturkanlah kepada Raja Payangan sebatang cangkokan pohon leci dan ditanam pada halaman puri,” tutur pria yang era mudanya banyak dihabiskan di Jerman ini.

Karena tumbuh dan menjadi besar, maka berbuahlah leci tersebut dipengaruhi juga dengan suhu udara yang ada di Payangan. Sehingga mulai berbunga dan sampai berbuah sangat banyak. Ketika dicoba, buahnya pun sangat manis persis buah yang dihasilkan oleh pohon asli di negeri asalnya.

Mengingat puri sebagai pemimpin rakyat waktu itu, dan apapun ada di puri setidaknya masyarakat akan nunas (meminta). Dengan demikian dari satu warga meminta cangkokkan pohon leci tersebut, dan menyebar lagi ke warga lainnya hingga ke seluruh masyarakat di Payangan. Mulai dari ujung selatan sampai ujung utara setiap rumah warga terdapat satu pohon leci.

“Selain rumah warga, di sepanjang jalan juga terdapat pohon leci. Dulunya sangat rindang sekali pohon leci di sini, karena dianggap sebagai pemberian dari raja. Sedangkan keluarga Lie juga memberikan cangkokan leci di sini, di rumah kami Puri Pengaji. Leluhur saya menanamnya di halaman belakang rumah,” ungkap Dewa Rai sambil menunjukkan pohon leci berumur tersebut.

Karena sebagai pemberian dari raja waktu itu, sehingga warga menanamnya hampir di sepang jalan. Selain itu iklimnya sangat cocok dan terlalu banyak buahnya, maka dibarter dengan kebutuhan pokok warga zaman tersebut. Mulai saat itu leci Payangan pun mulai dikenal di wilayah Gianyar dan luar Gianyar.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengaku pada ratusan tahun dan puluhan tahun lalu leci Payangan sedang  masa jayanya. Hingga pada akhirnya mulai ditebang akibat dari kebutuhan masyarakat dengan keberadaan listrik agar masuk ke daerah Gianyar bagian atas tersebut. (bersambung)

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia