Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features
Jejak Panjang Leci Payangan (2)

Kejayaan Itu Pudar setelah Dibabat Saat Kunjungan Ratu Inggris

09 Juli 2019, 08: 43: 22 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kejayaan Itu Pudar setelah Dibabat Saat Kunjungan Ratu Inggris

KISAHKAN LECI PAYANGAN: Penglisir Puri Saren Kauh, Puri Agung Payangan, Tjokorda Made Rana (tengah). Dewa Rai Budiasa menunjukkan cara memanjat leci (kanan). (FOTO: PUTU AGUS ADEGRANTIKA - ILUSTRASI CHAIRUL AMRI S/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR- Pudarnya kejayaan leci Payangan Gianyar, tak terlepas dari kemajuan teknologi dan kunjungan orang besar. Salah satu tokoh Jero Pengaji, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Dewa Rai Budiasa menyebutkan pada tahun 1974 sempat ada kunjungan Ratu Inggris, Elizabeth II yang berkunjung ke Ubud. Kemudian ia hendak menuju daerah Payangan, namun waktu itu di Ubud listrik terbatas dan Payangan belum mengenal listrik.

“Ubud saja masih terbatas dengan listrik, apalagi Payangan. Sejak itulah sudah mulai ditebang agar bisa mendirikan tiang listrik menuju Payangan,” jelasnya.

“Semenjak itu pohon leci yang ada di Payangan secara drastis berkurang. Dulunya mungkin ada ratusan pohon, sedangkan sekarang tidak lebih hanya ada di bawah 10 pohon leci. Setahu saya yang paling tua yang di puri itu, karena pohon tersebut paling pertama ditanam di sini yang diberikan langsung oleh keluarga Lie,” paparnya.

Sedangkan ditemui Penglisir Puri Saren Kauh, Puri Agung Payangan, Tjokorda Made Rana mengungkapkan hubungan puri dengan keluarga Lie. Diungkapkan pemberian cangkokan atau bibit pohon leci yang pertama kali adalah sebagai hadiah untuk puri. Untuk menghargai pemberian tersebut, dan sebagai tanda memiliki rekanan sangat baik maka ditanamlah leci tersebut di areal puri.

“Dulu kan biasa di sini sebagai jalur perdagangan, barter waktu itu. Maka kenalah dengan keluarga Lie ini. Karena perjalanan zaman waktu itu, sehingga puri dekat dengan keluarga Lie yang dari Tiongkok tersebut. Saat balik ke negaranya dan balik ke sini lagi, maka kita diberikan kita oleh-oleh berupa bibit leci,” terang pensiunan guru tersebut.

Tjokorda Made Rana mengaku, salah satu keluarga Lie juga sempat membantu Raja Payangan waktu itu dengan membuat saluran irigasi. Karena aliran sungai dibatasi oleh batu besar, sehingga keluarga Lie membawa benda dengan cara dibom batu itu dan aliran air menjadi lancar ke Payangan. Sebagai ungkapan rasa terima kasih, keluarga Lie pun diberikan lahan untuk tempat tinggal di selatan Puri. Sedangkan untuk kuburan dan tempat sucinya ada di pinggir Sungai Ayung pada sebelah barat Puri.

“Awalnya tidak menyangka akan sebagai ikon Payangan buah leci itu. Karena ditanam begitu saja, tanpa memikirkan apa buah yang dihasilkan. Ketika tumbuh besar dan berbuah, di sanalah baru diketahui ada nilai ekonominya,” jelasnya. “Sehingga berlangsung diperjualbelikan, dan sampai dikenal leci Payangan hampir di Bali sampai di Indonesia. Pemasarannya juga dibantu oleh keluarga Lie ini, karena memiliki beberapa tempat berjualan di pasar-pasar waktu itu,” katanya.

Untuk diketahui, hadiah leci itu diberikan pada abad ke-18 oleh keluarga Lie yang memiliki hubungan pertemanan sangat baik dengan penglingsir Puri Payangan. “Kepastian tahun, memang ada catatan menyebutkan sekitar abad 18. Namun ada catatan yang menyebut tahun1901. Pemberian keluarga Lie asal Tiongkok (China),” kata Dewa Rai Budiasa.

Dikatakan waktu itu dari keluarga Lie membawa cangkokan pohon leci ke puri hanya satu cangkokan saja. “Zaman itu ibaratnya sebagai buah tangan dari negara asalnya di Cina. Maka dihaturkanlah kepada Raja Payangan sebatang cangkokan pohon leci dan ditanam pada halaman puri,” tutur pria yang era mudanya banyak dihabiskan di Jerman ini.

Karena tumbuh dan menjadi besar, maka berbuahlah leci tersebut dipengaruhi juga dengan suhu udara yang ada di Payangan. Sehingga mulai berbunga dan sampai berbuah sangat banyak. Ketika dicoba, buahnya pun sangat manis persis buah yang dihasilkan oleh pohon asli di negeri asalnya. (bersambung)

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia