Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Eksepsi Wayan Angker Soal Sengketa Tanah di Tukadmungga Ditolak

09 Juli 2019, 19: 54: 30 WIB | editor : I Putu Suyatra

Eksepsi Wayan Angker Soal Sengketa Tanah di Tukadmungga Ditolak

SIDANG: Sidang putusan sela soal sidang gugatan sengketa lahan Desa Adat Dharmajati Tukadmungga, Kecamatan Buleleng, Selasa (9/7) siang. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Eksepsi Wayan Angker ditolak Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Singaraja. Penolakan eksespsi itu terjadi dalam sidang gugatan sengketa lahan Desa Adat Dharmajati Tukadmungga, Kecamatan Buleleng. Dalam sidang itu, Hakim memutuskan untuk melanjutkan perkara gugatan.

Sidang yang berlangsung sekitar 20 menit dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Anak Agung Sagung Yuni Wulantrisna. Namun Wayan Angker selaku pihak tergugat tidak hadir dalam sidang tersebut. Ia hanya diwakili oleh kuasa hukumnya, Ketut Ngurah Sentanu.

Sementara dari pihak penggugat, yakni Desa Pakraman Dharmajati, Tukadmungga dihadiri oleh Kelian Desa Adat Dharmajati Tukadmungga, Ketut Wicana. Ia datang bersama kuasa hukumnya Ketut Suartana.

Dalam putusan selanya, majelis hakim memutuskan untuk menolak eksespi tergugat Wayan Angker. Ia pun menyatakan Pengadilan Negeri Singaraja berhak mengadili gugatan atas perkara yang dimaksud, melanjutkan pemeriksaan pokok perkara, dan menangguhkan biaya perkara hingga putusan akhir. Majelis Hakim kemudian memutuskan untuk melanjutkan sidang dengan agenda penyampaian pembuktian surat oleh penggugat yang rencananya akan dilaksanakan Selasa pekan depan.

Dari putusan  Majelis Hakim itu, kuasa hukum Wayan Angker, Ketut Ngurah Sentanu menjelaskan, jika dalam eksepsinya menyesuaikan dengan isi dari gugatan yang dilayangkan oleh pihak penggugat. Pasalnya, dalam gugatan disebutkan untuk membatalkan sertifikat.

Padahal menurutnya, kompetensi dan kewenangan yang berhak untuk membatalkan sertifikat adalah Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). “Tapi karena keputusan Majelis tadi menolak, ya kami akan ikuti sidang. Kalau nanti gimana selanjutnya apakah akan mengajukan banding, tentu setelah ada putusan dari majelis hakim,” ujarnya.

Di sisi lain, kuasa hukum penggugat, Ketut Suartana optimis dapat memenangkan sidang sengketa tersebut. Pihaknya mengaku memiliki sejumlah bukti-bukti yang akan diajukan dalam persidangan. Mulai dari Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) atas lahan yang kini menjadi objek perkara.

Suartana juga akan mengajukan sejumlah saksi yang akan menguatkan jika lahan tersebut memang sudah sejak lama dimanfaatkan oleh Desa Adat Dharmajati Tukadmungga.“Kalau bukti fisik berupa sertifikat kami tidak punya. Tapi kami akan ajukan enam orang saksi hidup yang pernah tinggal di tanah itu, yang merabas tanah itu yang menunjukkan bahwa tanah itu memang milik Desa adat. Jadi lengkap bukti kita,” tutupnya.

Seperti diketahui, lahan yang terletak di wilayah Pantai Happy desa setempat, telah lama disertifikatkan oleh Wayan Angker. Namun warga desa adat mengkalim jika tanah tersebut berstatus laba desa, dan sering dimanfaatkan untuk kegiatan upacara melasti sejak turun temurun. Memasuki tahun 2017 saat sedang Nganteg Linggih, warga pun dibuat terperangah saat melihat lahan tersebut telah dipasangi pagar. Saat itu lah pihaknya baru menyadari jika tanah tersebut telah dimiliki dan disertifikatkan oleh Wayan Angker.

Proses mediasi pun sudah beberapa kali dilakukan, terhitung sejak 2017 lalu. Terkahir masyarakat Desa Adat Dharmajati Tukadmungga mencoba melakukan mediasi ke Negeri Singaraja, pada Selasa (7/5). Bahkan pada Senin (8/7) krama Desa Adat Dharmajati Tukadmungga juga sempat melurug DPRD Buleleng untuk ikut turun tangan melakukan mediasi.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia