Selasa, 15 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali
Sanggar Penyandang Cacat Rwa Bhineda

Ada Kaum Tuna Netra di Balik Pementasan yang Bikin Penonton Tertawa

09 Juli 2019, 21: 18: 27 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ada Kaum Tuna Netra di Balik Pementasan yang Bikin Penonton Tertawa

PENGIRING PREMBON: Para penyandang tuna netra yang tergabung dalam Sanggar Rwa Bhineda saat memainkan gamelan pengiring Prembon yang dipentaskan saat Pesta Kesenian Bali Ke-41 di Kalangan Angsoka, Selasa (9/7). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Pementasan Prembon oleh Sanggar Penyandang Cacat Rwa Bhineda tak henti-hentinya mengundang tawa para penonton yang berjejal di Kalangan Angsoka, Selasa kemarin (9/7).

Berbagai humor membuat suasana menjadi cair. Tidak ada sekat antara penonton dan pemain Prembon dengan kisah yang berjudul Wak Prana itu. Bahkan, dalam sebuah sesi, pemeran liku mengundang dua penonton naik ke panggung. Ngigel atau menari joged bumbung.

Belum lagi joke yang dilontarkan pemeran lainnya. Tanpa terasa, dari pukul 14.00 sampai dengan 16.30, penonton terlihat terhibur. Dari yang tua sampai yang muda.

Tapi dibalik kekocakan tersebut, peran para penabuh dalam pementasan itu tak bisa diabaikan begitu saja. Terlebih para pemain gamelan yang mengiri pementasan itu merupakan kaum difabel : tuna netra.

Spirit dalam berkesenian yang begitu besar seolah mendobrak keterbatasan pada indera penglihatan mereka. Dengan mengerahkan indera pendengaran dan peraba, mereka berusaha menyuguhkan gamelan untuk mengiri pementasan Prembon yang kocak tersebut.

Semangat para penabuh itulah yang membuat I Made Gede Mandra bertahan sebagai pelatih. Malah, Mandra dengan para penabuh itu seolah sudah menjadi keluarga. Sejak dirinya pertama melatih mereka pada 1997 lalu.

“Saat itu, pertama kali melatih mereka, saya sampai mau menangis. Tidak tahan lihat mereka dengan kondisi seperti itu. Mereka jalan dari bawah, kebetulan tempat latihannya di lantai dua. Mereka jalan beriringan seperti semut, naik ke lantai dua,” kenang Mandra dengan nada suara terbata-bata menahan tangis lantaran mengingat kenangan itu.

Namun lambat laun, Mandra akhirnya bisa menyesuaikan diri dengan dunia para penabuh yang tuna netra tersebut. Malah, dia mendapatkan teori bagaimana mengajar kaum difabel. Khususnya mereka yang tuna netra. “Dan sampai sekarang, astungkara kami akhirnya dapat belajar bersama,” sebutnya.

Bahkan, sambung dia, mereka tidak hanya bergulat pada dunia seni lainnya. Genjek pun mereka lakoni. Begitu juga dengan kesenian Taman Penasar.

“Tidak tentu kalau mereka mempelajari satu tetabuhan. Tergantung tetabuhannya juga. Tapi mereka rata-rata memang sudah punya keterampilan di bidang seni tabuh. Bahkan mereka punya kelompok musik atau band juga. Malah kadang saya sendiri yang belajar sama mereka,” imbuhnya.

Saat disinggung soal proses pertama yang dilalui mereka saat belajar menabuh, Mandra mengungkapkan tekniknya. Menurut dia, teknik yang dia pakai saat itu adalah dengan mengenalkan bunyi nada pada alat musik yang mereka mainkan.

“Saya pukul dulu alat musiknya. Kemudian saya suruh dengar bunyinya sambil tangan mereka memegang alat musik tersebut,” jelasnya.

Sehingga referensi nada dan gamelan yang mereka mainkan murni didasari kepekaan indera pendengar dan peraba. “Kalau urusan kepekaan, kita yang normal ini bisa jadi kalah. Malah di situ justru letak kelebihan mereka,” pungkasnya.

Pementasan Sanggar Rwa Bhineda yang dirintis Petrus Gunadi kemarin bukanlah yang pertama kalinya di PKB. Menurut Mandra, sanggar tersebut setidaknya sudah belasan kali tampil.

Di kesempatan itu, Mandra berharap agar eksistensi sanggar ini tetap bertahan. Dia juga berharap adanya bantuan agar para anggotanya tak terkendala lagi soal ongkos transportasi setiap kali akan latihan. “Kadang kami sampai patungan untuk nyarter kendaraan,” pungkasnya.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia