Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features

Leci Payangan; Buah Dicari Pedagang, Akar dan Batangnya Diburu Seniman

09 Juli 2019, 21: 51: 14 WIB | editor : I Putu Suyatra

Leci Payangan; Buah Dicari Pedagang, Akar dan Batangnya Diburu Seniman

LECI PAYANGAN: Salah satu pohon leci Payangan yang masih tersisa hingga kini. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

Ketika melintas di Payangan, Gianyar akan masih melihat beberapa pohon leci di pinggir jalan. Ini adalah sisa – sisa dari jejak kejayaan leci Payangan. Pohon leci ternyata tak hanya diincar buahnya semata.

PUTU AGUS ADEGRANTIKA, Payangan

SEPERTI biasa, suasana Payangan begitu adem. Siang menjelang sore itu, suasana Jero Pengaji Payangan yang asri memang membuat nyaman berbincang dengan sosok yang punya cita – cita mengembalikan kejayaan Leci Payangan. Dia adalah Tokoh Jero Pengaji, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Dewa Rai Budiasa memaparkan dirinya semasa duduk di sekolah dasar sering membantu orang tuanya memanen buah leci. Ia pun menjelaskan leci yang dipanen ada di pekarangan rumahnya sendiri. Sehingga perubahan harga buah leci dari harga sen sampai rupiah ia ketahui.

“Kalau sekarang hanya sisa satu saja pohon lecinya, pohon yang lainnya terutama di halaman depan rumah tepat di pinggir jalan sudah pada ditebang. Ternyata tidak buahnya saja diburu, tetapi seniman juga memburu akarnya dijadikan meja namun diukir terlebih dahulu,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Rai Budiasa mengatakan akar yang dicari seniman biasanya yang menjalar dan sudah berumur. Karena semakin menjalar dan besar-besar bisa diukir dengan gampang. Sehingga dapat pula membuat ukiran yang begitu detailnya. Ia mengaku akar – akar leci di pinggir jalan setelah ditebang hampir semua sudah diburu seniman dan beberapa sudah jadi ukiran.

Dalam kesempatan itu, dia juga menyampaikan keberadaan leci di Payangan berawal dari ketidaktahuan masyarakat. Karena ditanam-tanam begitu saja tanpa mengetahui apa makna dan apa yang dihasilkan nanti. Mulai dari buah sampai batang hingg akar pohonnya tersebut.

“Dulu kan ditanam-tanam begitu saja pohonnya karena dapat ditunas dari Puri Payangan. Apapun yang ada di puri kalau ditunas warga sangat senang, makanya dulu asal tanam – tanam saja. Setalah besar, maka dikatakan kalau sering dilewati manusia akan sangat banyak berbuah. Maka ditanamlah pada pinggir jalan supaya buahnya banyak,” ungkapnya.

Dengan demikian pohon leci dan akar leci sampai saat ini banyak dapat ditemui pada sepanjang Jalan Raya Payangan. Buahnya untuk dijual dan dikonsumsi, batangnya bisa dijadikan meja atau kursi, akarnya apalagi yang kerap diolah oleh seniman ukir.

Leci Payangan menurutnya sangat memberikan pengaruh dengan keberadaan Payangan sendiri. Selain sebagai ciri khas, juga dapat menghidupi masyarakat setempat. Karena harga buah dengan batangnya dikatakan hampir mirip. Kalau buah bisa setiap tahun dipanen, sedangkan batang dan akarnya hanya bisa dinikmati hasilnya sekali saja.

“Kalau ada ke depannya agar Leci Payangan tetap tumbuh, sekarang kan sudah ada cara agar bisa pohon berapa tahun menghasilkan buah banyak. Seperti disilanglah, pohonnya supaya tidak terlalu tinggi. Sedangkan yang sudah terlanjur ditebang itu bisa dijual kayunya untuk tempat duduk maupun meja,” imbuh Rai Budiasa.

Jika memang ada pengembangan yang serius, bisa saja ada pengembangan leci untuk dipanen batang dan akarnya. Kemudian buat leci yang memang untuk dipanen buahnya. “Karena memang nilainya ternyata antara batang kayu dan akar, termasuk buahnya tinggi,” pungkasnya. (*)

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia