Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Tradisi Nyaum di Desa Adat Buahan

Berawal dari Janji Upah Uang se-Bale Agung untuk Pembuat Terowongan

09 Juli 2019, 22: 25: 57 WIB | editor : I Putu Suyatra

Berawal dari Janji Upah Uang se-Bale Agung untuk Pembuat Terowongan

SAPI : Krama Subak Gede, Desa Adat Buahan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, memotong daging Sapi Cula untuk tradisi Nyaum, pekan lalu. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Krama Subak Gede Buahan, Desa Adat Buahan, Kecamatan Payangan, Gianyar, punya  tradisi unik yang dinamakan Nyaum. Ada histori khusus, kenapa tradisi ini dipertahankan di Gianyar.

Pekaseh Subak Gede Buahan, I Wayan Sabar menerangkan, tradisi Nyaum telah berlangsung  turun temurun di lingkungan subak setempat.


Bahkan, Subak Gede Buahan sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.  "Mitosnya itu zaman dahulu krama subak membuat sebuah terowongan untuk saluran irigasi ke subak yang ada di sini.  Karena terkendala bebatuan besar, krama terhambat membuatnya," tutur Wayan Sabar  kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Ketika masalah tersebut mengganjal, ada orang yang datang mau membuat terowongan. " Bila  bisa membuat terowongan, maka dijanjikan uang sepenuh Bale Agung oleh krama," jelasnya.


Sabar mengaku cerita itu ia dapatkan melalui lelingsirnya terdahulu. Meski generasi saat ini belum bisa menemukan sejarahnya secara tertulis, lanjutnya, namun bukti-bukti secara nyata masih dapat ditemui. Mulai dari terowongan, nama lokasi subak, hingga pura yang berkaitan dengan tradisi Nyaum tersebut. "Nyaum itu  bermakna upacara yang tujuannya untuk membayar sesuatu menggunakan prosesi upacara," ujarnya.


Dikatakannya, saat terowongan sepanjang ratusan meter berhasil dibuat dan air sudah mengalir ke areal persawahan, justru krama subak belum bisa memenuhi janjinya. Yaitu membayar pembuat terowongan dengan uang sepenuh Bale Agung.  Lantaran itu pula, krama subak dianggap lalai dengan janjinya.


Seiring berjalannya waktu, pembuat terowongan terus menagih janji krama surak, dan pada akhirnya enggan beranjak pergi dan tinggal di sana. Namun, ia mau pergi dengan catatan sebagai penggantinya krama subak harus menyediakan Sapi Cula. Belum permintaannya itu dipenuhi, si pembuat terowongan meninggal dunia. Sapi yang diminta tersebut kemudian dijadikan Caru (persembahan), karena Sapi Cula itu dianggap sebagai pengganti dari dana yang dijanjikan oleh krama subak uang  sebale Agung tersebut.

"Jadi,  tujuan dari tradisi Nyaum ini dilakukan untuk membayar kewajiban krama subak yang sudah menggunakan Sapi Cula. Mengingat, apa yang sudah pernah dilakukan dan dijanjikan oleh krama subak gede terdahulu," tuturnya.


Dijelaskannya, Sapi Cula merupakan sapi jantan, atau anak sapi yang jantan dikebiri sehingga warnanya menjadi coklat. Biasanya setiap tahun ada krama yang menghaturkan Sapi Cula.  Namun sekarang pihaknya hanya menunjuk krama subak yang dapat menghaturkan sapi secara bergiliran. Sehingga setiap tahun, tepatnya pada Tilem Kasa, sapi itu sudah siap dijadikan yadnya dan disemblih dalam prosesi tradisi Nyaum.


Tradisi Nyaum hanya berlangsung  setengah hari saja. Berawal dari pagi hari, pada Tilem Kasa dilakukan di jaba Pura Bale Agung dengan menyemblih Sapi Cula. Dagingnya dipotong menjadi beberapa bagian, darahnya dipercikkan juga pada beberapa titik, dan lungsurannya ( dagingnya seusai dipersembahkan) dibagikan ke semua krama subak yang ada di Subak Gede Buahan.
"Prosesinya mulai dari pagi pukul 07.00. Setelah upakaranya lengkap, siang hari pukul 12.00 baru digelar  Nyaum di Pura Jero Pasek. Karena dahulu yang membuat terowongan konon bernama Jero Pasek, sehingga di sana dibuatkan pura, tepat di atas terowongan yang dibuat," ungkap Sabar.


Makanya prosesi Nyaum dipusatkan di pura tersebut, dan  dagingnya serba daging sapi. Krama subak istri bertugas menghaturkan banten di jeroan pura dan dipuput oleh pemangku pura. Sedangkan krama lanang (laki) berada di jaba pura menghaturkan caru, selanjutnya Nyaum dilakukan ke beberapa titik di sekitar persawahan dengan menghaturkan sesajen.

"Pura Jero Pasek merupakan pura khusus untuk tradisi Nyaum. Bukan Pura Ulun suwi, bukan juga termasuk dalan Pura Kahyangan Tiga. Lokasinya memang ada di areal desa dan pangemponnya hanya krama subak yang berjumlah 500 kepala keluarga,"paparnya.


Tradisi Nyaum tidak pernah tidak dilaksanakan. Diakuinya hanya sempat sekali terlambat, karena lama tidak mendapatkan Sapi Cula, sehingga mengakibatkan suara gemuruh dan seperti adanya longsoran di terowongan tersebut.


"Kalau lambat melakukan sempat sekali, tepatnya dua tahun lalu. Penyebabnya karena lama tidak dapat Sapi Cula, sehingga kita geser prosesi Nyaum menjadi dua minggu setelah Tilem Kasa. Akibatnya saat prosesi terdengar gemuruh keras dan seperti ada terowongan yang jebol di bawah pura," paparnya.


Berdasarkan pengalaman tersebut,  sampai saat ini  krama subak enggan menunda tradisi itu. Bahkan, akibat pengalaman tersebut krama semakin percaya akan keberadaan dan makna dari prosesi Nyaum tersebut. Dengan demikian kehidupan mereka yang sehari-harinya bertani dapat berjalan dengan baik, karena aliran irigasi tidak ada yang longsor maupun menghambat aliran air.


"Sampai saat ini kehidupan krama subak  tidak ada halangan, khususnya soal aliran air dari sungai ke persawahan warga.  Kalau saja lambat atau tidak dilakukan tradisinya, pasti ada saja saluran irigasi jebol sehingga membuat persawahan mengalami kekeringan. Sejauh ini belum pernah terjadi yang sampai membuat sawah kekeringan, " pungkas Sabar. 

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia