Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features
Eksistensi Keluarga Lie di Payangan (1)

Keturunan Pembawa Leci Payangan Masih Ada 50 Orang

10 Juli 2019, 08: 28: 50 WIB | editor : I Putu Suyatra

Keturunan Pembawa Leci Payangan Masih Ada 50 Orang

JURU SAPUH : Lie Eggy berpose di depan rumah dengan pernak-pernik khas Tionghoa. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

Sekitar abad 18, keluarga Lie masuk Payangan. Sampai saat ini keluarganya tetap dikenang. Karena ada jejak yang dibawa saat itu. Yaitu pohon leci. Yang membawakan bernama Cik Giong. Sampai saat ini Keluarga Lie masih menjadi warga Payangan.

PUTU AGUS ADEGRANTIKA, Gianyar

SEPANJANG perjalanan menuju Pasar Payangan yang memperhatikan sisi timur jalan pasti melihat hal yang beda. Tepat sekitar 500 meter sebelum pasar dari arah selatan terdapat gerbang yang bernuansa Tiongkok. Mulai dari tulisannya hingga terpasang lampion dengan nuansa kental Tiongkok.

Beberapa rumah tersebut ada yang masuk di Banjar Gria, dan Banjar Sema, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan. Rumah itu ditempati oleh keturunan Tiongkok dan tepatnya keluarga Lie yang menanam pohon leci di Puri Payangan. Hingga akhirnya sampai dikenalnya Payangan sebagai penghasil Leci terbesar di Bali pada zamannya.

Dengan demikian keberadaan keluarga Lie di Kecamatan Payangan sangat berpengaruh sekali dengan keberadaan leci Payangan. Hal itu disebabkan dengan profesinya sejak zaman terdahulu adalah pedagang. Sehingga pemasaran buah leci Payangan begitu cepat, selain pedagang  saat ini keturunan keluarga Lie pun banyak yang menjadi sopir.

Salah satu keturunan yang masih menetap di Payangan, Lie Eggy saat ditemui menjelaskan profesi leluhurnya waktu itu. “Sejak leluhur kami di sini memang pekerjaannya dagang, zaman itu kan awalnya dari Pelabuhan Buleleng datang untuk berjualan. Sampai Kintamani dan turun sampai di Payangan ini,” terangnya.

Jejak leluhurnya pun hingga kini tidak bisa dilepaskan begitu saja. Karena sebagian besar dari keturunan Tiongkok di Payangan sekarang masih tetap sebagai pedagang. Dikatakan juga rata-rata mereka sampai saat ini masih sebagai pedagang bahan pokok sehari-hari. Mulai beras, lauk, dan kebutuhan lainnya. Selain sebagai pedagang, mereka juga ada yang mengambil pekerjaan sebagai sopir.

Lie Eggy menyampaikan ketika menjadi sopir mulai pengangkut bahan material maupun sopir transport. “Kalau saya sendiri pekerjaan apa sudah sempat lakukan, supaya bisa saja menyambung hidup di sini. Mulai dari buruh di salah satu toko penjual bahan pokok, hingga sopir pengangkut pasir. Karena sudah umur, maka saya disuruh ngayah di sini di Konco Kuburan sebagai juru sapuh,” ungkapnya.

Pria yang memiliki nama Bali I Made Sujana saat ditanya, sekarang ini sudah keturunan keberapa, ia mengaku tidak bisa dihitung. Hal itu keturunan keluarga Lie yang ada di Payangan berpencar. Bahkan beberapa sudah ada yang menetap di daerah Denpasar.

“Kalau sekarang generasi keberapa saya tidak bisa pastikan, karena sejak dulu kan sudah berapa tangga (generasi) itu dilalui. Yang jelas di Payangan keturunannya ada sekitar 50-an orang saja. Sedangkan orang Tiongkok yang lainnya belakangan datang, entah mencari keluarganya atau untuk merantau di sini,” tandasnya. (bersambung)

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia