Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Kesenian Bumbang, Lahir dari Bambu Sisa dan Ikan Hias

10 Juli 2019, 08: 48: 06 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kesenian Bumbang, Lahir dari Bambu Sisa dan Ikan Hias

PENTAS: Pementasan Bumbang Banjar Tengah Sesetan di Pesta Kesenian Bali Ke-41 pekan lalu di Kalangan Angsoka Art Centre Denpasar, mendapat apresiasi khusus dari pecinta seni. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pada tahun 1985 seorang tokoh seni Karawitan Bali, I Nyoman Rembang, menciptakan seperangkat gambelan yang terbuat dari bambu diberi nama Bumbang. Seperti apa prosesnya?

Bumbang berasal dari kata Bumbung dan Rembang. Bumbung yang dalam bahasa Bali berarti potongan bambu yang dibentuk sedemikian rupa dan menghasilkan suara. Sedangkan  Rembang adalah I Nyoman Rembang atau seperangkat gambelan yang dibuat dari Bumbung oleh I Nyoman Rembang.

Kesenian Bumbang, Lahir dari Bambu Sisa dan Ikan Hias

BUMBANGl Kesenian yang lahir dari eksplorasi bambu dan ikan hias di akuarium ini, muncul di Banjar Tengah Sesetan, Denpasar sejak 1985. (istimewa)

Musik Rembang sendiri terinspirasi oleh suara alam pada masa itu. I Nyoman Rembang menuliskan suara-suara alam ke dalam rangkaian nada-nada yang menghasilkan beberapa lagu. Ia mengolah bambu sebagai media untuk mengungkap lagu-lagu tersebut sehingga dapat dinikmati oleh orang lain.


Anak terakhir dari I Nyoman Rembang, I Gede Putra Widyutmala yang  ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Banjar Tengah Sesetan, Denpasar, mengatakan bahwa awal penciptaan Bumbang sebenarnya diawali kebiasaan Rembang membuat alat musik bambu. “Dahulu beliau adalah guru di SMKN 5 Denpasar. Dulu sekolah itu bernama Kokar. Sekitar tahun 1984-an, Kokar digabung dengan sekolah lain dijadikan satu dan  dipindah ke Batubulan, Gianyar ” jelasnya.


Setelah pindah ke Batubulan, jelas Gede Putra, I Nyoman Rembang sudah memasuki masa persiapan pensiun. “ Bapak kala itu mulai sulit menggunakan sepeda motor,  agak susah dan tidak berani, bahkan harus diantar.  Akhirnya beliau minta mengajarnya di rumah saja, kalau anak-anak atau mahasiswa ingin belajar bersama dengannya. Sembari memasuki masa pensiun, ia mencoba membikin alat-alat musik bambu. Awalnya kan rindik,  joged bumbung, geguntang pakai bambu semua. Sekarang kan alat musik sudah pakai logam,” jelasnya.


Menurut Gede Putra, kegiatan membuat alat musik tersebut untuk mengisi waktu I Nyoman Rembang. Dan,  kebetulan murid-murid Rembang menyukai hasil karyanya.
“Setelah lama bergulat dengan bambu, panca inderanya kian terlatih untuk membikin nada,” jelasnya. Karyanya pun tercipta dari perjalanan keseharian dan tak terduga.
Saat I Nyoman Rembang diundang ke hotel untuk pentas, ia melihat akurium besar dipenuhi ikan hias berwarna warni di salah satu pojok ruangan.


Setelah duduk, ia tertarik untuk membuat tarian ikan. “Karena waktu tahun 1984-1985, koreografer sedang senang membuat tema binatang untuk tarian. Akhirnya ia terinspirasi membuat tarian ikan. Selain itu, ia memang sangat suka  dengan warna,” jelasnya.


Setelah terinspirasi oleh ikan di akuarium, lanjut Gede Putra,  ayahnya kembali gundah karena  tarian kebanyakan  menggunakan gong kebyar. Akhirnya pada momen tersebut ia mencoba untuk mencari suara-suara air karena ikan hidup di air. Masalahnya, apakah bambu  bisa digunakan untuk menghasilkan bunyi air. Namun, ia tetap mencoba dengan gambelan bambu.


I Nyoman Rembang kerap rugi saat bereksperimen, sehingga banyak bambu yang  terbuang.
Nah, bambu bambu sisa itulah kembali dimanfaatkan. “Yang penting ketemu dulu warna suaranya, pengembangan bisa kemudian. Kalau di gong kan rapi. Kalau Bumbang ini agak sulit, satu dua nada tidak bisa bagus urutannya. Yang penting  suaranya. Setelah ketemu, akhirnya diuji coba dibuat komposisi yang mudah,” ungkapnya.


Setelah rampung, I Nyoman Rembang pada waktu itu memutuskan untuk mengembangkan Bumbang di Banjar Tengah, bukan memulai dari kampus.“ Waktu itu bapak berpikir jika dikembangkan di kampus, ia merasa tidak peduli dengan banjarnya sendiri. Makanya Bumbang dihidupkan mulai dari Banjar Tengah Sesetan. Bukan di rumah, tetapi di banjar. Supaya semua orang bisa menikmati, sekaligus untuk merangsang generasi muda untuk berkesenian,” jelasnya.

Ketika ada lomba desa, ada  tokoh adat yang mengusulkan agar Bumbang tampil saat pawai budaya.  Namun, pada waktu itu banyak yang belum siap.


Dalam perjalanan berikutnya muncul ide memakai tari ibing-ibingan, tetapi temanya tari keluarga berencana. Jadi, tariannya tidak pakai patokan, hanya tari improvisasi. Ceritanya tentang perempuan dan laki-laki. Sepasang keluarga yang baru  punya anak yang sedang menimang bayinya dengan sukacita, riang gembira menyambut bayinya. Jadi, ini digunakan sebagai tarian pertama. Filosofinya Bumbang ini dianggap seperti bayi yang baru lahir. Lagunya masih sederhana, penyajiannya pun sederhana, tapi sudah disambut gembira. “Akhirnya banyak yang tertarik dan menawarkan untuk pentas di tempat lain," akunya.


Tarian tuntas karena dibantu koreografinya Ibu Arini Alit. Hingga saat ini hak cipta dari tarian ini masih diperjuangkan.


Diakuinya, Bumbang pernah mengalami masa surut sekitar tiga tahunan. Selanjutnya bangkit lagi karena dibantu disosialisasikan budayawan Komang Astika, juga Walikota Denpasar  Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra hingga kesenian Bumbang eksis sampai saat ini.


I Nyoman Rembang sendiri pada tahun 1939 untuk pertama kalinya menjadi penabuh gender termuda, mengiringi pementasan seorang dalang terkenal di masanya. Berkat kecintaannya pada seni, I Nyoman Rembang  mendapatkan banyak penghargaan, diantaranya Piagam Kerti Budaya (1980), Piagam Dharma Kusuma Madia (1981), Piagam Hadiah Seni dari Depdikbud RI (1985). I Nyoman Rembang lahir di Sesetan, 15 Desember 1930 dari pasangan I Wayan Pineh dan Ni Nyoman Kusni. I Nyoman Rembang memiliki seorang istri dan lima orang anak. (akd)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia