Selasa, 15 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Features
Eksistensi Keluarga Lie Di Payangan (2-Habis)

Pembawa Leci Itu Asalnya Hokkian, Masuk Payangan Nikahi Gadis Lokal

11 Juli 2019, 06: 29: 22 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pembawa Leci Itu Asalnya Hokkian, Masuk Payangan Nikahi Gadis Lokal

BERANAK-PINAK: Lie Eggy yang tinggal di Banjar Gria, Desa Melinggih, Payangan menunjukkan silsilah keluarga. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

Keluarga Lie memang sudah menjadi warga adat Payangan, keturunan Tiongkok. Keberadaan mereka sudah ratusan tahun, dan sudah sekian generasi memang lahir di Payangan.

 

PUTU AGUS ADEGRANTIKA, Gianyar

 

SALAH satu tokoh Keluarga Lie I Made Sujana, atau yang memiliki nama Lie Eggy merupakan keturunan Tiongkok di Payangan. Leluhurnya yang diketahui bernama Lie Sing Cie merupakan anak angkat dari Cie Giong. Yaitu orang yang pertama kali datang ke Payangan dan membawa pohon leci pada abad ke - 18 Masehi.  Ia mengaku Cie Giong tersebut berasal dari Desa Hokkian, Provinsi Fujian, Tiongkok.

“Setelah runtuhnya kerajaan Payangan para Cie (orang Tiongkok) sudah ada di sini. Mereka berawal dari tiga orang saja, salah satunya Cie Giong. Yakni dari Desa Hokkian, Fujian, bagian tenggara selatan Tiongkok. Sampai akhirnya mereka hidup di sini dan diberikan tempat tinggal di selatan Puri Payangan, supaya tidak bolak-balik ke negeri asal,” jelasnya.

Ketiga orang yang asli Tiongkok itu pun dikatakan sudah berbaur dengan masyarakat setempat. Sehingga ketiganya menemukan jodohnya di Payangan dan memperistri istri orang asli Payangan. Seingatnya dari cerita yang diketahui dari leluhurnya ada dari Ponggang Payangan, dan banjar lainnya yang ada di Payangan.

Mulai dari sanalah hubungan kekerabatan dengan warga setempat yakni di Payangan sudah mulai menyatu. Karena diberikan tempat tinggal di selatan Puri Payangan, sehingga keturunannya ada yang ikut mabanjar di Banjar Gria, dan Banjar Sema. “Kalau sekarang dari keturunannya itu sudah banyak juga saling menikahi antara Cie (orang Tiongkok) dengan orang Bali. Begitu juga sebaliknya,” ujar dia.

Karena sudah ikut mebanjar, mereka pun berkewajiban melakukan aktivitas selayaknya krama banjar yang lain. Sedangkan hak yang didapatkan juga sama, tidak ada perbedaan. Makanya sempat ikut memiliki kuburan di Banjar Sema, karena semua banjar yang ada di Payangan terdahulu dikatakan kuburannya di Banjar Sema.

Namun hanya dalam proses pembakaran saja, sedangkan mereka memiliki keyakinan kalau masih ada keluarganya harus dikubur. Setelah kuburannya pisah, masing-masing desa maupun banjar sehingga keluarga dari keturunan Tiongkok diberikanlah lahan oleh Puri waktu itu.

“Kita diberikan lahan untuk kuburan itu atuluk, yaitu di atas tanah yang menyerupai ujung tebing. Lokasinya juga di dekat Pura Dalem Pekung, Desa Payangan Desa. Selain pura dalem juga ada setra banjar setempat,” terang Lie Eggy.

Disinggung dengan kegiatan sehari-harinya di banjar, ia menuturkan sama persis dengan warga setempat. Tidak ada yang dibedakan, mulai dari ikut menjadi banjar adat dan dinas. Dengan demikian peturunan dan semua kegiatan adat yang ada mereka juga ikut menyatu.

“Patut e ngayah, bareng ngayah (kalau ngayah, kita tetap juga ikut ngayah). Gimana sama seperti masyarakat banjar pada umumnya. Menyatu di banjar sejak leluhur saya memang begitu adanya,” tandas dia.

Selain ngayah di banjar, ketika ada kematian dan orang menikah mereka juga ikut. Begitu juga ketika dari pihak keluarganya memiliki upacara pernikahan maupun orang meninggal krama banjar juga tedun. Prosesinya pun sama menggunakan banten namun dikatakan lebih sederhana.

Ditanya terkait kuburan, Lei Eggy mengaku yang dikubur di sana sudah ada ratusan. Namun ada yang sudah diupacarai layaknya ngaben bagi yang tidak ada penerusnya. Sedangkan yang ada penerus dan keturunannya dibuatkan kuburan dan dibeton.

“Kalau kuburannya banyak dari dulu di sini, kadang ada yang dikubur bersama suami istri jadi satu. Kadang ada juga sendiri, kalau penuh itu sama ada kayak di Hindu seperti ngaben. Dibuka kuburannya, dikremasi, dan dihanyut di sungai. Banten juga kita menghaturkan di konco,” ungkapya.

Sampai saat ini hubungan di banjar maupun warga setempat ia menyampaikan sangat baik. Sehingga kehidupan mereka di Payangan meski beda banjar dikatakan berjalan normal. Walaupun sekarang generasi yang ada sudah sangat jauh di bawah dari leluhurnya yang pertama kali datang ke Payangan tersebut. Ia berharap agar tidak melupakan leluhurnya itu.

“Kalau saudara di sini ada, tapi kan yang dekat-dekat saja masih diingat. Begitu juga keluarga di Tiongkok semestinya ada, tapi kan sudah ratusan tahun mungkin lebih jadi di generasi kami sudah tidak saling ingat. Memang pokoknya dari Tiongkok, istilahnya kawitannyalah kalau di Hindu,” imbuh Lie Eggy. (habis)

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia