Rabu, 20 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Kasus HIV di BulelengTembus 3.019 orang

11 Juli 2019, 20: 39: 34 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kasus HIV di BulelengTembus 3.019 orang

Ilustrasi (jawapos.com)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Kasus HIV/AIDS di Buleleng jumlahnya kian bertambah. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali, hingga Desember 2018 lalu, jumlah pengidap virus mematikan ini mencapai 3.019 orang. Akumulasi itu disebut-sebut sejak tahun 1999.

Mirisnya, di tahun 2018 lalu saja dari sejumlah ODHA yang didampingi Yayasan Citra Usada Indonesia (YCUI) Buleleng sedikitnya ada 12 orang yang telah meninggal dunia akibat terinveksi HIV AIDS.

Ketua Yayasan Citra Usada Indonesia (YCUI) Made Ricko Wibawa menjelaskan sebaran pengidap HIV di Buleleng masih didominasi di Kecamatan Buleleng. Ricko menyebut, kebanyakan pengidap yang menjalani pendampingan kerap melakukan perilaku seks beresiko tinggi

 Dikatakan Ricko, bila berkaca dari data Dinas Kesehatan Provinsi Bali rata-rata pengidap berasal dari usia produktif kisaran 19-34 tahun. Dari hasil pendampingan i lapangan, faktor penyebarannya masih disebabkan oleh seks beresiko tinggi.

Kondisi itupun membuatnya bersama penggiat HIV/AIDS di Buleleng melakukan program pendampingan khsuus kepada orang beresiko tinggi, baik waitress di kafe ataupun warung tuak. Selain memberikan edukasi, YCUI juga mendorong mereka untuk melakuakn tes darah untuk pencegahan penularan sejak dini jika hasilnya positif.

Sementara itu penyakit yang kebanyakan dibawa dan dibagikan kembali oleh kaum adam kepada keluarganya juga dilakukan langkah antisipasi. “Kami bersama Dinas Kesehatan dan juga bidan desa juga menggalakkan program triple eliminasi,” ujar Ricko, Kamis (11/7) siang.

Menurutnya, Program yang dicanangkan oleh WHO ini merupakan upaya pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu yang positif kepada bayi dalam kandungannya. Triple eliminasi itu meliputi penyakit Spilis, HIV dan Hepatitis B.

“Nanti diawali dengan pendekatan kepada ibu-ibu hamil untuk mau melakukan tes darah. Selain juga pemberdayaan kader posyandu karena mereka yang bisa menjangkau lebih dekat. Sehingga jika ada yang terdeteksi bisa ditangani lebih cepat,” imbuh Riko.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia