Rabu, 24 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Tanaman Jagung di Subak Sungsang Banyak Mati Diserang Hama Kepinding

11 Juli 2019, 20: 52: 24 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tanaman Jagung di Subak Sungsang Banyak Mati Diserang Hama Kepinding

HAMA: Pekaseh Subak Sungsang saat mengecek tanaman jagung, Kamis (11/7). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Sejumlah petani di Subak Sungsang, Desa Tibubiu, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, belakangan ini mengeluhkan kondisi tanaman jagung mereka yang diserang hama kepinding. Hama tersebut menghisap cairan batang jagung yang baru tumbuh sehingga tanaman mati sebelum berbuah.

Pekaseh Subak Sungsang, I Made Suweta, menuturkan bahwa hama kepinding  sempat menyerang tanaman jagung warga sejak satu bulan yang lalu. Ie menyebutkan hama kepinding merupakan hama padi yang menghisap cairan pada batang jagung yang baru tumbuh. Bahkan yang baru berumur satu sampai dua minggu setelah tanam. 

Hal ini pun membuat petani harus melakukan tanam sulam untuk mengganti tanaman jagung yang mati. "Kemarin memang sempat diserang oleh hama kepinding, batang jagung jadi kering karena cairan pada batangnya dihisap. Sehingga petani harus tanam sulam untuk mengganti tanaman jagung yang mati," ujarnya Kamis (11/7).

Hanya saja hal tersebut dapat ditanggulangi dengan perawatan yang maksimal serta menyemprot tanaman jagung menggunakan racun sistemik. Ia pun mengumpulkan semua anggota subak untuj berikan pemahaman mengenai penanggulangannya. "Salah satunya dengan cara menyemprotkan racun sistemik pada tanaman jagung yang baru berumur satu minggu, jadi harus melakukan perawatan yang intens," sambungnya.

Menurutnya untuk saat ini tanaman jagung yang sudah berumur satu bulan aman dari serangan hama kepinding. Lantaran hama kepinding hanya menyerang tanaman jagung yang umurnya masih muda.  Namun jika ada petani yang baru menanam jagung pihaknya menganjurkan pola pemeliharaan sesuai dengan prosedur. 

Dijelaskannya sawah yang terdapat di Subak Sungsang adalah seluas 224 hektar. Dalam setahun petani sebanyak dua kali, dimana untuk periode tanam pertama pada bulan Oktober sampai Januari, dan periode kedua pada bulan Februari sampai Mei. Sedangkan untuk bulan Mei sampai September petani biasanya melakukan tanaman pengganti seperti jagung, buah semangka dan kacang-kacangan. "Dari jumlah lahan 224 hektar saat ini 40 hektar ditanami buah semangka dan sisanya ditanami jagung serta kacang-kacangan," pungkasnya. 

Sementara itu, salah seorang petani di Subak Sungsang, I Nyoman Darmadi, 51, mengungkapkan bahwa sudah dua kali menanam bibit. Karena bibit yang ditanam sekitar sebulan lalu dimakan hama berbentuk seperti kumbang tersebut. "Sebelumnya saya tanam 1 hektar mati karena diserang hama, lalu saya tanam ulang bibit lagi," ujarnya.

Menurutnya hama ini baru pertama kali menyerang tanaman jagung petani. Bahkan hal itu membuat dirinya rugi 5 kilogram bibit, dimana satu kilogram bibit ia beli seharga Rp 75.000.

Namun ia mengaku bersyukur karena setelah  menanam ulang yang kedua kalinya hama kepinding tidak membuat bibit mati total. Meskipun ada beberapa yang hilang sehingga tumbuhnya pohon jagung tidak merata. "Jagung yang kami tanam jenis NK212 yakni jagung yang akan dijadikan pakan ternak, bukan jagung manis," pungkasnya.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia