Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Tanda Aji Ugig akan Muncul Saat Malukat di Pasiraman Jaga Satru

12 Juli 2019, 07: 59: 28 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tanda Aji Ugig akan Muncul Saat Malukat di Pasiraman Jaga Satru

TERSEMBUNYI: Pasiraman Jaga Satru sangat misterius.Keberadaannya tersembunyi. Anehnya, penekun spiritual dari berbagai wilayah di Bali mengetahui keberadaan pasiraman yang ada di mulut gua tersebut. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Di Desa Tiga, Kecamatan Susut, Bangli, tepatnya di Banjar Buungan, terdapat mata air suci yang diberi nama Pasiraman Jaga Satru. Banyak orang meyakini, pasiraman ini tempat penetralisasi kekuatan ilmu hitam.

Pasiraman Jaga Satru terbilang sulit dijamah. Sebab, jarak ke lokasi cukup jauh dan tersembunyi karena berada di dasar lembah. Belum lagi jalannya yang terjal dan licin. Jalan rabat beton hanya dapat dirasakan setengah dari total panjang jalan. Pamedek yang ingin ke pancuran harus siap fisik dan mental agar bisa sampai.


Lokasinya berada di antara dinding tebing berbatu. Di sekitarnya terdapat hamparan hutan bambu dan berada di bantaran Sungai Sangsang. Jarak tempuh ke lokasi  sekitar 500 meter dari parkiran. Pancuran ini masih masuk wilayah Banjar Buungan, Desa Tiga, meski berbatasan langsung dengan Desa Kayubihi, Kecamatan Bangli.


Memang pasiraman ini belum ada pemangkunya. Tapi di sana sudah ada pemandu yang siap mengantar para pamedek apabila diperlukan. Pemandu itu tak lain adalah Bhabinkamtibmas Desa Tiga I Nyoman Subamia, yang juga keturunan dari panglingsir Pasiraman Jaga Satru Banjar Buungan.


Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Subamia mengakui, asal-usul nama Jaga Satru masih misteri. Penemuan sumber mata air ini diyakini sudah berlangsung ratusan tahun lalu. Kendati begitu, orang-orang baru mengetahui beberapa tahun terakhir. "Dari mana namanya itu, lalu kenapa namanya begitu. Ini karena cerita turunan dari tetua di banjar. Memang dari dahulu. Tidak ada catatan mengapa namanya demikian," kata Subamia pekan kemarin. Dia menegaskan, khasiat yang didapat setelah malukat di Jaga Satru, justru baru diketahui setelah pemedek bercerita kepadanya. Bahwa pancuran Jaga Satru mampu menyembuhkan penyakit yang disebabkan ilmu hitam.


Pasiraman Jaga Satru dikenal sebagai tempat menetralisasi  kekuatan negatif atau penawar sakit nonmedis alias Aji Ugig. Terdapat dua sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk berobat. Yang satu terletak di sebelah utara, dan satunya lagi berada di sisi sebelah selatan.

Kata Subamia, pancuran yang dianggap suci, sumber airnya memang alami. Kealamian itu biasanya dapat dilihat ketika air muncul dari dinding tebing, maupun bulakan atau tanah. Berbeda dengan pancuran Jaga Satru. Airnya keluar dari mulut goa yang ukurannya sekitar dua paha orang dewasa. Mirip seperti saluran irigasi. Tapi anehnya air itu mengucur deras.


Orang yang malukat di sana wajib mengikuti rentetan. Kata Subamia, mengikuti semua prosesnya sangatlah penting agar pengobatan menjadi maksimal. Ketika sampai di lokasi, pamedek bisa menghaturkan perlengkapan yang dibawa. Bisa pajati atau canang saja. Tergantung kemampuan. Kemudian pamedek sembahyang di Palinggih Pasiraman Jaga Satru. Setelah sembahyang, barulah malukat.


Pertama, pamedek harus bersila di depan sumber air pertama berupa bulakan (sudah diisi nomor). Selang beberapa menit, pamedek bisa membasuh diri dan berkumur. Masing-masing dilakukan sebanyak lima kali. Jika yang bersangkutan merasa panas, gelisah, atau menunjukkan gelagat aneh, dipastikan dia sudah diserang ilmu hitam. "Pernah ada yang sampai tumbang. Padahal baru duduk di batu depan bulakan. Ada yang berputar- putar. Ada yang gelisah. Baru turun ke lokasi saja, dia sudah kepanasan," tutur ayah tiga anak ini.


Kemudian barulah membasuh diri di sumber air selanjutnya. Masih sama seperti sebelumnya, air tidak dapat diminum dan hanya boleh berkumur dan membasuh diri. Pamedek tetap berpedoman pada rentetan yang ditentukan. Bisa melihat nomor urutan yang sudah dipasang.


Subamia menuturkan, pancuran Jaga Satru sering didatangi oleh kelompok penekun spiritual. Baik dari Bangli maupun kabupaten lain. Menariknya, para penekun spiritual itu malah mengetahui lokasi Jaga Satru. Padahal lokasinya tersembunyi. Subamia pun heran karena dahulu tak pernah melakukan promosi. Pun promosi dilakukan baru-baru ini karena sudah mulai banyak dikunjungi.
Belakangan diketahui kalau masyarakat tahu keberadaan Jaga Satru atas petunjuk atau wahyu. Biasanya diketahui pada saat melakukan pengobatan secara nonmedis maupun meditasi. Bahkan pamedek memang sebagian besar pernah sakit karena kena cetik.


Subamia sudah mengantar pamedek puluhan kali. Mereka diantaranya warga lokal dan ada juga dari Buleleng, Karangasem, Klungkung, Batubulan, hingga Tabanan. Dikatakannya, pamedek dari Batubulan itu sakit berak darah sudah satu tahun. Berobat medis tapi tidak terlihat sakitnya. Mencoba mencari tahu lewat penekun spiritual. Akhirnya datang ke rumahnya, kemudian diantarkan ke lokasi. "Malukat di Jaga Satru sampai pingsan. Beliau datang sendiri. Beberapa hari kemudian, dia membaik. Sekarang bapak itu sudah sembuh," pungkas Subamia.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia