Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Diversi Gagal, Kasus Telanjangi Cewek SMP di Bukit Buluh Masuk Kejari

12 Juli 2019, 22: 31: 04 WIB | editor : I Putu Suyatra

Diversi Gagal, Kasus Telanjangi Cewek SMP di Bukit Buluh Masuk Kejari

VIRAL: Kasus bully di Bukit Buluh yang viral di media sosial. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Upaya diversi kasus dugaan tindak pidana kekerasan yang dilakukan komplotan remaja wanita terhadap seorang cewek SMP berinisial Ni Ketut AAP,15, gagal, Jumat (12/7). Keluarga korban tetap ngotot kasus bully yang berisi “menelanjangi” korban itu dibawa ke pengadilan.   

Diversi di Polres Klungkung yang berlangsung sekitar 2 jam melibatkan Sat Reskrim Polres Klungkung, Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Karangasem, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Klungkung, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Klungkung, perwakilan dari desa tempat kejadian, korban didampingi orang tuanya, dan ketiga tersangka juga didampingi masing-maisng orang tuanya. Seperti diketahui, ada tiga tersangka dalam kasus ini. Yakni Ni Kadek AKD, PR, 16, dan Komang PR,16.

Kasat Reskrim Polres Klungkung AKP Mirza Gunawan membenarkan diversi tidak menghasilkan kata damai. Korban maupun orang tuanya tetap pada pendiriannya. Yakni melanjutkan persoalan itu ke pengadilan. Tidak ada syarat apapun disampaikan agar kasus itu berhenti sampai diversi. “Semua pihak sudah kami berikan kesempatan bicara. Tidak ada syarat apa dari korban biar damai. Katanya kasus itu harus lanjut. Iya, kami lanjutkan,” jelas Mirza.

Mirza menegaskan, tidak ada diversi lagi di kepolisian. Cukup sekali saja. Setelah diversi mentok, Sat Reskrim yang menangani kasus itu segera mengirim berkas ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Klungkung.  “Apakah nanti ada diversi lagi di Kejaksaan, itu kewenangan di sana,” tegas Mirza.

Ketika tersangka dikenakan pasal 80 jo pasal 76 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana diubah ke dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014. Ketiganya tidak ditahan karena masih di bawah umur.

Ibu korban berinisial Ni Wayan A mengakui, pihak keluarga korban tidak mau damai. Kasus itu dilanjutkan ke persidangan. Hal itu agar ada efek jera bagi tersangka. Sebab, tidak hanya menyakiti fisik anaknya, namun rekaman video kekerasan juga disebarkan. “Video anak saya viral. Saya sebagai orang tua tidak terima. Itu menjadi beban psikis anak saya,” jelasnya. Hal serupa juga ditegaskan korban yang saat ditemui masih mengenakan pakaian sekolah SMP. “Pokoknya lanjut,” tegas korban.

Ditemui terpisah, ayah AKD berinisial Nyoman S berharap kasus itu diselesaikan secara kekeluargaan. Sebagai orang tua, dia menyadari perbuatan anaknya salah. Agar kasus itu tidak berlanjut proses persidangan, dia sudah tiga kali bertemu keluarga korban. “Sebelum diversi, kami sudah berupaya datang minta maaf. Tapi tetap ngotot kasusnya lanjut,” ujar Nyoman S.

Setelah diversi, pihaknya berencana kembali melakukan pendekatan dengan keluarga korban. Sebab, penetapan tersangka membuat anaknya stress. “Saya sampai tidak bisa bekerja. Khawatir dengan kondisi anak,” tandasnya.  

Diberitakan sebelumnya, dugaan kekerasan terjadi berawal dari ketersinggungan. PR merasa dibilang cabe-cabean oleh korban. Saat itu tidak sampai terjadi perkelahian. Dugaan kekerasan baru terjadi Januari 2019. Saat itu secara tidak sengaja mereka bertemu di Bukit Buluh, Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Klungkung. Lokasi tersebut memang menjadi tempat nongkrong anak-anak muda, juga dekat Pura Gunung Lingga. Begitu bertemu dengan korban, PR langsung mengungkit persoalan sebelumnya. Korban dibuat tak berdaya karena pelaku bersama beberapa rekannya. Korban ditendang. Celana panjang korban berusaha dipelorotin.

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia