Rabu, 21 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Pemuteran Gerokgak; 4 Tirta Berkhasiat, Dari Bebai hingga Durhaka

13 Juli 2019, 10: 24: 40 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Pemuteran Gerokgak; 4 Tirta Berkhasiat, Dari Bebai hingga Durhaka

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Pura Pemuteran menjadi salah satu Pura Dang Kahyangan yang ada di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Pura yang menjadi patilasan Dang Hyang Nirartha ini tak hanya dikenal sebagai salah satu tujuan perjalanan spiritual. Namun, di pura ini juga menyimpan empat jenis tirta berkhasiat yang diyakini dapat menyembuhkan segala macam penyakit.

Kelian Desa Pakraman Pemuteran Jro Ketut Wirdika menjelaskan, Pura Pemuteran sebagai pusat penyangga pura yang ada di Desa Pakraman Pemuteran. Dikatakan Jro Wirdika, pura ini sudah ada sejak dahulu kala. Bahkan, diyakini sudah ada jauh sebelum zaman kerajaan di Indonesia. Sehingga Pura Pemuteran ini juga dikenal oleh krama Desa Pemuteran sebagai Pura Kawitan mereka.

Sebelum Dang Hyang Nirartha mendatangi Pulau Dewata, Pura Pemuteran disebutkan sudah ada. Hanya saja kala itu masih bernama Pura Taman Mutering Jagat, yang  diyakini merupakan stana Dewa Agung Manik Taman Mutering Jagat.
Keberadaan Pura Pemuteran rupanya tak hanya tenar sebagai salah satu tujuan perjalanan spiritual pamedek. Tetapi juga dikenal memiliki empat mata air suci berkhasiat untuk mengobati beragam penyakit.

“Asal-usul empat jenis tirta di Pura Pemuteran itu erat hubungannya dengan Beliau Dang Hyang Nirartha,” ujar Jro Wirdika memulai ceritanya.

Ketika abad ke 14 masehi, lanjutnya, Dang Hyang Nirartha mulai menyebarkan Hindu dari Jawa ke Bali. Konon beliau sempat singgah di Pura Pemuteran. Diceritakan Jro Wirdika, lewat kesaktiannya itulah, Dang Hyang Nirartha mampu memutar Bajra. Sehingga muncul sumber mata air di empat lokasi yang berdekatan. 

“Oleh karena itulah krama setempat juga membuatkan palinggih untuk Beliau yang bermanifestasi sebagai Dewa Bagus Mutering Jagat,” jelasnya.

Karena diyakini memiliki keajaiban, hingga kini sumber mata air itu dipakai sebagai sarana pelukatan. Bahkan, pamedek juga bisa nunas (memohon) tirta yang memiliki suhu dan bau berbeda. Suhunya dapat dirasakan dengan tangan kosong.


Keempat sumber mata air ini berada di areal Jeroan Pura Pemuteran dan posisinya berdekatan. Sebut saja mata air yang posisinya paling Timur di bungkus kain putih. Suhu air dari sumber itu hangat kuku, kadang dingin dan tidak berbau. 

Sumber mata air inilah merupakan satu-satunya mata air yang tidak dialirkan ke tempat panglukatan yang berada di jaba tengah pura. Namun hanya pakai tirta. Dikatakan Jro Wirdika, air yang disucikan krama ini pun dipakai untuk mengobati seseorang yang memiliki dosa semasa hidupnya. “Seperti durhaka pada orang tua dan dosa lainnya,” jelasnya.

Kemudian sumber mata air yang berada di sebelah barat diselimuti dengan kain warna merah. Suhunya lebih panas dan berbau belerang. Air suci ini dikatakan Jro Mangku Alit dipakai untuk ngalukat  pekarangan pemalinan. 

Sedangkan sumber mata air ketiga diselimuti kain hitam. Suhunya  lebih panas dengan bau belerang yang lebih menyengat. Air dari sumber ini biasanya dipakai mengobati krama yang ingin berobat dari sakit akibat ilmu hitam, babainan, kesurupan, kena roh jahat dan guna-guna.

Terakhir, sumber mata air keempat dengan posisi paling barat diselimuti kain kuning. Suhunya sama dengan mata air yang diselimuti kain merah dan berbau belerang. Air Suci ini dipercaya dapat mengobati sakit segala jenis penyakit kulit. Ajaibnya, meski berbau belerang, tiga dari empat sumber mata air yang dikeramatkan itu hanya mengandung kadar asam. Karena secara ilmiah pernah diteliti oleh ahli.

Selain sebagai tempat memohon kesehatan, Pura Pemuteran, sebut Jro Wirdika, juga dipercaya dapat memutar usaha agar menjadi lancar. Syaratnya, apabila ingin memohon kelancaran usaha, maka pangempon pura akan memberikan empat tirta itu dicampur dalam satu wadah. Lalu diputar melawan arah jarum jam disertai dengan mantra.

“Kebanyakan yang nangkil kesini datang sendiri, biasanya mereka dapat pawisik. Biasanya rombongan, dari Denpasar, Badung, Gianyar, dari Jawa juga ada,” ungkapnya.

Disinggung terkait pujawali, Jro Wirdika mengatakan sebagai Pura Dang Kahyangan, piodalan Pura Pamuteran pada Purnama Kapat, bersamaan dengan piodalan Pura Pulaki. Setiap krama yang ingin menghaturkan bakti dan meminta panglukatan di Pura Pamuteran  tidak memerlukan sarana khusus. 

“Cukup  banten pajati, ketulusan dan keikhlasan untuk mencapai kesembuhan dan kelancaran usaha,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia