Rabu, 21 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Desa Taro Pentaskan Rekonstruksi Tiga Tarian Kuno

13 Juli 2019, 10: 32: 10 WIB | editor : I Putu Suyatra

Desa Taro Pentaskan Rekonstruksi Tiga Tarian Kuno

KLASIK: Salah satu tarian yang dipentaskan Sekaa Nirmala Sarwaada, Banjar Taro Kaja, Desa Taro, Tegalalang, Gianyar di Kalangan Angsoka, salah satu panggung dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-41, Jumat kemarin (12/7). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Tiga tarian kuno yang dimiliki Desa Taro dipertunjukkan dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-41, Jumat kemarin (12/7). Ketiganya antara lain Tari Narnir, Tari Goak Ngajang Sebun, dan Tari Legong Taro.

 Ketiga tarian itu punya nilai magis. Terutama Legong Taro. Penarinya bisa trance dan tidak sadarkan diri. Rekonstruksi kesenian tersebut ditampilkan di Kalangan Angsoka oleh Sekaa Nirmala Sarwaada, Banjar Taro Kaja, Desa Taro, Tegalalang.

 Kebetulan sejak awal, sekaa ini terlibat dalam kegiatan rekonstruksi ketiga tarian itu. Sehingga enam tahun silam, dalam PKB pada 2013 lalu, sekaa ini sempat tampil juga. Gayung bersambut. Upaya rekonstruksi tiga tarian kuno tersebut disambut dengan antusiasme generasi muda. Ini juga yang menjadi modal bagi Sekaa Nirmala Sarwaada untuk terus melakukan regenerasi penari.

 “Mereka ingin belajar itu. Makanya saya tidak terlalu sulit mengembangkannya. Mereka ingin mengetahui tingkat kesulitannya itu (terutama tari Narnir),” tutur Ni Kadek Ewik Jayanti selaku pembina Tari Narnir.

 Begitu juga dengan dua tarian lainnya hasil rekonstruksi. Tari Goak Ngajang Sebun dan Tari Legong Taro yang merupakan tarian asli ciptaan maestro asal Desa Taro, Almarhum Ketut Cemil. “Ini adalah tari kuno yang diangkat kembali. Tari ini asli Taro Kaja. Maestronya juga asli Taro Kaja. Saya sebagai pembinanya langsung kasih tarian ini dari mereka kecil sekitar umur delapan tahun. Sampai sebesar ini masih aktif,” imbuh Ewik.

 Mengenai perjalanan rekonstruksi, Ewik menuturkan semuanya bermula dari 2013 lalu. Waktu itu, proses rekonstruksi melibatkan langsung Almarhum Ketut Cemil. “Kami mengingat, mencatat, hingga mencari penari kita lakoni bersama dan juga penabuh lingsirnya,” kenangnya.

 Sekaa tempatnya membina tari tersebut berdiri pada 2010 lalu. Tiga tahun kemudian mereka tampil di PKB. Mementaskan tari hasil rekonstruksi yang prosesnya memakan waktu sekitar tiga bulan lebih tersebut. Begitu juga dengan pementasan kemarin.

 Ewik menjelaskan, ketiga tarian ini memiliki kesan magis di dalamnya. Khususnya pada Tari Legong Taro yang dapat membuat penarinya lemas dan tak sadarkan diri seusai menarikannya. “Unsur mistis ada. Setiap mau pentas nunas taksu biar rahayu. Setiap tarian ini banyak kaitannya tentang Desa Taro,” jelas Ewik sedikit berbisik.

Benar saja yang dikatakan Ewik, seusai Legong Taro dipentaskan, seketika itu juga para penari terkulai lemas dan tak sadarkan diri. Para mangku yang dibalut busana serba putih tampak gesit memercikkan tirta ke penari hingga akhirnya tersadar kembali.

 Gerakan Tari Legong Taro sendiri terbilang ekstrem. Dalam posisi berdiri, penari langsung ngelente (kayang). Dan gerakan itulah yang membuat remaja di sekitar Desa Taro ingin mempelajari tarian ini.

 Sebelum penampilan Legong Taro yang mistis, terlebih dahulu disajikan sebuah tabuh pembuka bertajuk Tabuh Taruktuk yang terinspirasi dari kemampuan burung pelatuk dalam mematuk kayu hingga membentuk sarangnya.

 Kemudian, Tari Pendet dihadirkan sebagai ucapan selamat datang kepada para penonton dan barulah tari rekonstruksi pertama yakni Tari Goak Ngajang Sebun. Penciptanya, Almarhum Ketut Cemil, terinspirasi dari kehidupan sepasang burung gagak yang tengah membuat sarangnya sendiri.

 Kemudian dilanjutkan dengan magisnya Tari Legong Taro dan diakhiri dengan Tari Narnir yang terinspirasi dari gerak narnir (kupu-kupu) yang lincah berterbangan dengan indah.

 Kini, Ewik dan sang suami yakni I Made Dodi Antara sangat serasi dalam melestarikan keberdaan tiga tarian unik ini. Ewik sebagai pembina tari dan sang suami, Dodi sebagai pembina tabuh selalu bersemangat dalam meneruskan tarian dan tabuh ini kepada generasi muda.

 Tarian ini pun sudah diakui keberadaannya oleh Dinas Kebudayaan. Sehingga Ewik dan Dodi kian getol untuk mencetak generasi penari rekonstruksi di Desa Taro. 

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia