Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Tamansari Agung Kerobokan; Bila Diberkati Tirta Bisa Bercahaya

15 Juli 2019, 21: 08: 57 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Tamansari Agung Kerobokan; Bila Diberkati Tirta Bisa Bercahaya

PANCURAN: Pancuran tempat warga Banjar Anyar Kaja, Kelurahan Kerobokan mencari air dengan galon. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, KEROBOKAN - Meminta kesembuhan kerap ditempuh dengan dua cara, yakni lewat medis dan nonmedis. Upaya nonmedis yang dilakukan salah satunya dengan cara malukat, membersihkan badan secara fisik dan non fisik dengan air yang diyakini memiliki energi magis. Mau melakukannya?  Ada tempat memohon berkah di Kawasan Kerobokan, Badung, yakni Pura Tamansari Agung Kerobokan yang merupakan tempat malinggihnya Ida Bhatara Daneswara sebagai dewanya balian (paranormal). 

Pura Tamansari Agung Kerobokan  di kawasan  Jalan Raya Canggu, Banjar Anyar Kaja, Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara ini, setiap hari didatangi  banyak warga yang  membawa galon air mineral. Memiliki sumber mata air yang airnya bisa diminum langsung tanpa dimasak terlebih dulu, menjadi daya tarik sendiri. Apalagi   lokasinya berada di daerah padat pemukiman penduduk.


Sebelum memasuki area pura, kita akan melewati sebuah jembatan kecil untuk menyeberangi telaga di sisi jalan. 

Di wilayah jaba sisi pura terdapat beberapa kendaraan parkir mobil dan motor. Lanjut ke pintu masuk jaba tengah yang ada di sisi kanan, kita bisa melihat beberapa orang mengendarai motor datang sambil membawa galon dan kemudian masuk ke area jaba tengah pura,  menuju tempat pancuran air dan kemudian mengisi air galonnya. Di sekitar pancuran juga ada telaga yang penuh dengan tanaman teratai, namun belum berbunga.  Pemangku Pura Tamansari Agung, I Wayan Sukarsa, 51 mengatakan, warga banyak memanfaatkan  untuk kebutuhan sehari-hari, karena airnya tidak pernah kering.

“Saya baru sembilan tahun ini menjadi pemangku. Pura  diempon sebanyak 38 keluarga,” ujarnya, sambil mengajak duduk di beranda rumahnya.


Menurut sejarah, Pura Tamansari Agung diperkirakan berdiri pada tahun 933 Saka atau tahun 1011 Masehi. Leluhur pretisentana Ida Bhatara Kawitan Warga Pasek Kayu Selem yang saat itu terdiri dari empat keluarga dari Gua Song, Songan dan wilayah Gunung Batur Kintamani, Bangli menjadi pendiri cikal bakal Pura Tamansari Agung sekarang. 


Keempat keluarga tersebut diminta oleh Ida Bhatara Kawitan mencari tirta klebutan (sumber mata air) sudamala yang keluar dari ibu pertiwi (ksititala) yang ada di posisi kelod (selatan) Bali, dimana tempat itu terlihat puun (terbakar hangus) saat Ida Bhatara Kawitan melakukan yoga semadhi.


“Setiap pura kawitan warga Pasek Kayu Selem yang melakukan pujawali bisa mendak tirta ke Pura Tamansari Agung. Pujawali di Pura Petitenget juga menggunakan tirta yang nunanya di sini,” ujar Mangku I Wayan Sukarsa sambil melihat catatan tentang sejarah pura.


Pria yang menjadi pemangku setelah mendapat mimpi pawisik untuk ngiring ini, menjelaskan untuk pujawali di Pura Tamansari Agung, mendak tirta-nya ke Songan, Kintamani, karena di sana  lokasi pura pusat Kawitan Pasek Kayu Selem.   
Berkaitan untuk malukat, lanjut Mangku I Wayan Sukarsa, pemedek membawa satu pajati dan bungkak nyuh gading. “Kalau warga yang sudah biasa malukat, biasanya membawa tiga pajati dan  bungkak sesuai  jumlah orang yang akan melukat,” urainya sambil menawarkan minum.


Namun, Mangku I Wayan Sukarsa mengaku  tidak terlalu mempermasalahkan, apakah pamedek bawa satu pajati dan satu bungkak saja, karena niatannya yang penting. Kasihan jauh-jauh ke sini, karena pajati kurang malah batal,” imbuhnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) pekan kemarin.


Ditanya mengenai proses Malukat  di Pura Tamansari Agung ini, pria yang sudah menginjak usia kepala lima ini, tak menampik ada kejadian seperti pamedek  yang mengalami karauhan (trance). “Sering terjadi, namun tidak setiap pamedek yang datang malukat mengalami karauhan atau hal niskala lainnya,” terangnya.


Bila ingin malukat, Mangku I Wayan Sukarsa akan mengajak pamedek sembahyang di utamaning mandala pura. Selanjutnya  nunas tirta di klebutan yang ada di Gedong Pangresikan. Pemangku menggunakan batok kelapa sesuai kepentingan pamedek tangkil. “Misalnya untuk panglukatan, digunakan batok kelapa sudamala untuk nunas di kelebutan,” cerita pemangku yang anaknya kini bekerja sebagai polisi itu.
Selanjutnya  panglukatan akan dilakukan di jaba tengah atau madya mandala, tepatnya di depan kori agung. “Jadi, tidak di utamaning mandala panglukatan dilakukan. Pamedek kita ajak ke madya mandala,” imbuhnya.


Dikatakannya, ada tanda alam berbau mistis bila ada kecocokan, dan bakal bisa sembuh dari penyakit. Jika seseorang berjodoh dan tanda akan sembuh dari sakitnya  saat malukat di Pura Tamansari Agung, lanjutnya,   akan bisa dilihat kalau rencang Ida Bhatara yang berupa ular melilit di tali tambang yang diikat pada batok kelapa saat nunas tirta. 


"Bahkan, walaupun sakit sudah keras, kalau mendapat restu Ida Bhatara Daneswara dia berjodoh sembuh melalui pelukatan di sini, maka dia akan sembuh," ujarnya.
Tirta yang ditunas saat malukat pun dikatakan akan bercahaya, ketika  diletakkan di rong telu merajan rumah si pamedek. Karena erat hubungannya dengan urusan niskala, bila ingin malukat hendaknya menghubungi pemangku.

"Hanya pemangku yang boleh masuk ke Gedong Pangresikan untuk nunas tirta,” katanya.


Rumah pemangku terletak di sebelah barat Pura Tamansari Agung di Jalan Raya Canggu, Kerobokan, Gang Tirta Empul No 1. (bersambung/agus sueca merta)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia