Selasa, 20 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Features
Bayi Kena Gangguan Saluran Empedu

Dokter Minta Siapkan Rp 2 M, Balian Sarankan Berdoa

16 Juli 2019, 18: 51: 02 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dokter Minta Siapkan Rp 2 M, Balian Sarankan Berdoa

BUTUH TRANSPLANTASI HATI: I Gede Dipa Adnyana saat dirawat di RSUP Sanglah (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, AMLAPURA - I Gede Putu Wiryawan, 44, warga Dusun Sigar, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem hanya bisa berdoa untuk kesembuhan anaknya, I Gede Dipa Adnyana.  Bayi berusia 8 bulan itu diagnosis gangguan saluran empedu sampai merusak sel hati. Untuk kesembuhan anak keempatnya, Wiryawan diminta mempersiapkan uang Rp 2 miliar oleh tim dokter yang menangani.

“Yang suruh menyiapkan itu dokter di rumah sakit Sanglah, Denpasar,” ujar Wiryawan saat dikonfirmasi Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (16/7).

Katanya, uang sebanyak itu untuk tindakan transpalantasi hati dan membuat saluran empedu baru. Itu tidak bisa dilakukan di RSUP Sanglah, melainkan di salah satu rumah sakit di Jakarta atau rumah sakit di luar negeri. Biaya itu berkaca dari pasien yang sudah pernah melakukan hal yang sama. Uang tersebut sudah termasuk perkiraan biaya rawat jalan.

Dengan tingginya biaya yang dibutuhkan, suami dari Ni Ketut Sudiani itu belum bisa memutuskan transpalantasi tersebut. Sebagai reseller, dia tidak punya sebanyak itu. Sempat berharap kepada JKN-KIS, ternyata tidak bisa menanggung semuanya. Kata dokter di RSUP Sanglah, lanjut dia, JKN-KIS hanya menanggung sekitar Rp 800 juta. “Dokter yang bilang begitu. Saya belum sempat konsultasi ke BPJS Kesehatan,” jelasnya.

Saat ini, Dipa hanya menjalani rawat jalan di RSUD Klungkung.  Dipa sempat menjalani rawat inap di RSUP Sanglah, Denpasar selama sepekan. Bayi tersebut pulang pada 29 Juni 2019. “Sekarang hanya rawat jalan saja, cari obat ke RSUD Klungkung,” tegas Wiryawan.

Sebagai alternatif  lain, Wiryawan sempat mengajak anaknya berobat ke balian. Tercatat enam orang balian sempat didatanginya. Selain berharap dapat obat, ia juga ingin tahu penyebab anaknya sakit dari sisi nonmedis. Dari enam balian yang ada di Bangli, Klungkung, Karangasem dan Tabanan, kompak menyebutkan tidak terlihat unsur niskala. Sehingga keluarga disarankan berdoa, nunas ica di Pura Hyang Guru, Pura Prajapati dan Pura Dalem di desanya. “Sudah saya lakukan, belum juga anak saya sembuh,” ujarnya.

Dipa, lanjut Wiryawan, sakit sejak menginjak usia tiga bulan. Dengan tanda awal kulit kekuning-kuningan. Perutnya semakin membesar. Dipa juga rewel. Terlebih malam hari. Perutnya terlihat lebih keras. Curiga dengan hal itu, bayi tersebut langsung diajak berobat ke bidan di desa setempat. Kemudian dirujuk ke rumah sakit tipe C di Klungkung hingga dirujuk ke RSUP Sanglah. “Kalau makan, minum itu biasa. Tapi ukuran perutnya tidak seperti bayi pada umumnya. Kalau malam lebih keras. Siangnya lembek,” tandas Wiryawan.

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia