Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Tamansari Agung Kerobokan; Ada Penampakan Ular Berkepala Dua

16 Juli 2019, 19: 50: 46 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Tamansari Agung Kerobokan; Ada Penampakan Ular Berkepala Dua

PASUCIAN: Di utamaning mandala pura terdapat Gedong Pangresikan (Pasucian) yang diyakini sebagai stana Sang Hyang Daneswara. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, KEROBOKAN - Setiap pura di Bali selalu memiliki keunikan tersendiri. Begitupula dengan Pura Tamansari Agung Kerobokan. Sejumlah kejadian aneh muncul di tempat suci yang berada di kawasan  Jalan Raya Canggu, Banjar Anyar Kaja, Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara ini.

Ular berkepala dua pernah terlihat saat pujawali. Selain itu,  pada waktu banjir malah dari ubin pura muncul banyak sumber mata air, namun ketika surut tidak bisa ditemukan. 

Kejadian aneh itu diakui Pemangku Pura Tamansari Agung, I Wayan Sukarsa, 51. Menurut Mangku I Wayan Sukarsa yang diiyakan oleh sang istri Mangku Istri Ni Made Mawa, 53, kejadian munculnya ular di Pura Tamansari Agung selalu saat  piodalan pura yang  dilaksanakan setiap Saniscara, Kliwon Wuku Landep atau bertepatan dengan Hari Raya Tumpek Landep. “Sewaktu saya masih sekolah, sering setiap piodalan ada ular keluar ke area pura. Pangempon pura meyakini itu adalah rencang Ida Bhatara yang malinggih di pura ini,” ucap Mangku Sukarsa kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) pekan kemarin. 

“Kalau ada yang berniat jahat, maka  ular tersebut bisa keluar ular,” tambahnya lagi.
Sekitar 35 tahun lalu, setelah dibuatkan dua patung naga  di Pura Tamansari Agung, ular yang diyakini sebagai rencang ( penjaga)  Ida Bhatara tersebut tidak pernah muncul lagi. “Mungkin sudah nyineb di sana, sehingga akhirnya tidak pernah terlihat lagi,” timpal Jro Mangku Istri, Ni Made Mawa, sambil melihat ke suaminya yang ikut mengiyakan pernyataan itu.


Selain itu, keduanya bercerita bahwa pada masa lalu sering ada banjir, dan muncul banyak kelebutan atau sumber air dari ubin di pura. Orang-orang yang merasa heran kemudian mencari klebutan itu dengan meraba ubin saat banjir. Namun tidak menemukan ada air muncul dari tanah. Ketika air banjir surut pun dicek, ternyata tidak ditemukan juga ada klebutan.

“Semua normal-normal saja, tidak ada bekas seperti klebutan di lokasi diyakini sebagai ubin saat banjir itu,” urai Mangku Sukarsa.


Akibat fenomena tersebut, warga pada masa dahulu akhirnya meyakini lokasi pura sebagai pusat klebutan yeh. Sehingga wilayah di selatan pura dikenal sebagai Delod Yeh dan di utara pura sebagai Dajan Yeh. 


Duduk di beranda rumah bersama koran ini,  Mangku Sukarsa dan istri juga memberitahu bahwa pujawali di Pura Tamansari Agung selalu diadakan saat menjelang tengah malam sampai dini hari. Sangat berbeda dengan pura pada umumnya yang pujawalinya siang hari atau petang sampai malam saja. “Mulainya selalu jam 11 malam, dan berakhir sekitar jam 3 atau 4 pagi,” tegas Mangku Sukarsa dengan nada suara meyakinkan.


Hal unik lainnya adalah dulu sering dilakukan upacara massal di Pura Tamansari Agung ini. Mulai dari   tiga bulanan, masangih atau potong gigi, nepeh atau upacara pasca pernikahan hingga nyejeg,  yakni upacara untuk bayi pertama dari garis keturunan anak lelaki. Upacara tersebut  dilaksanakan setiap lima tahun sekali. “Terakhir kali pada 31 Maret 2018 tahun lalu,” ujar Mangku Sukarsa sambil memeriksa catatan untuk memastikannya.


Selain upacara massal, keunikan kedua adalah adanya Lingga Yoni dan patung Buddha. “Di sini sebagai pura beraliran Siwa-Buddha, maka tidak heran ada patung Buddha juga. Bahkan, seorang pendeta Buddha dari Jepang tahun 1980-an datang ke sini untuk nunas tirta,” cerita Mangku Sukarsa.


“Selama saya jadi pemangku, ada juga beberapa keturunan Tionghoa-Bali yang berasal dari beberapa kabupaten datang sembahyang,” imbuhnya lagi. Patung Buddha  terletak di Gedong Bhatara Kawitan, sedangkan Lingga Yoni ada di Gedong Pangresikan. Lingga Yoni ini  juga diupacarai secara khusus pada rentang waktu 12 tahun sekali,  pada waktu Purnama Sasih Kapat atau Purnama Sasih Kadasa.

“Itu dilakukan sehari penuh upacaranya, terakhir kali dilaksanakan pada 26 Maret 2013,” cerita Mangku Sukarsa .  Keunikan lainnya? Di Pura Tamansari Agung yang telah berusia 1008 tahun ini,  ada lima petapakan barong landung yang disungsung,  yakni Ratu Ngurah Gede, Jro Luh, Ratu Ngurah Sakti, Ratu Bagus Kusuma, dan Ratu Mas Sekar Tunjung. Tamat. (habis/agus sueca merta)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia