Rabu, 21 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Bali

USAT Liberty di Tulamben “Dimutilasi”, Leher Pekerjanya Putus

16 Juli 2019, 20: 37: 48 WIB | editor : I Putu Suyatra

USAT Liberty di Tulamben “Dimutilasi”, Leher Pekerjanya Putus

BANGKAI KAPAL: Bangkai kapal USAT Liberty di perairan Tulamben, Karangasem kini jadi surge para penyelam. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, TULAMBEN - Bangkai kapal USAT Liberty di Perairan Tulamben di Desa Tulamben, Kecamatan Kubu,  Karangasem, tidak utuh lagi. Bukan hanya akibat air laut. Namun pernah “dimutilasi”.  Beberapa bagian kapal dipotong-potong. Itu terjadi sekitar 1957. Menurut saksi mata karamnya kapal tersebut, I Nyoman Kariyasa, 84, orang yang pernah mengambil keuntungan dari musibah tersebut adalah orang Surabaya, Jawa Timur bernama Busro.

“Saya ingat betul kedatangan Pak Busro ke Tulamben. Pak Busro datang mencari besi kapal,” ungkap Kariyasa yang saat Busro ke Tulamben sudah berusia 22 tahun.

Busro datang bersama puluhan karyawan. Busro termasuk familiar di masyarakat. Dia tergolong lama mencari penghasilan dari bangkai kapal tersebut. Bahkan hingga saat ini disebutkan masih ada keturunan Busro di Tulamben. Seingat Kariyasa, Busro kembali ke daerah asalnya pada 1960. Selama di Tulamben, aktivitasnya mengambil beberapa bagian kapal. Dipotong-potong lalu dikirim ke Surabaya menggunakan truk. Tak terhitung jumlah truk yang mengangkut besi-besi kapal.

“Saya tahu apa yang dia lakukan karena sering melihat anak buah Busro bekerja. Ada sekitar 30 orang, mungkin lebih. Pokoknya banyak,” terang Kariyasa.

Kejadian yang tak pernah dia lupakan dari pemotongan bagian-bagian kapal adalah tewasnya salah seorang pekerja Busro. Orang yang tidak diketahui namanya tersebut tewas mengenaskan saat bekerja. Kepalanya putus hingga mental ke atas setinggi pohon kelapa. “Kejadian ada jam segini (saat wartawan wawancara sekitar pukul 11.00, Red),” ujar Kariyasa sambil melihat ke atas. 

Orang yang tewas tersebut memotong besi menggunakan las karbit. Tak dilihat secara detail. Tiba-tiba warga melihat kepala lelaki itu mental ke atas. Terpisah dengan badannya. Lalu jatuh lagi di pantai. Melihat kejadian itu, beberapa warga termasuk Karyasa lari ketakutan. “Mungkin terkena las karbit atau apa. Benar-benar saya lihat sampai kepalanya jatuh lagi. Pecah,” tutur Karyasa dengan ekspresi ngeri. Setahu dia, hanya satu orang pekerja Busro meninggal di kapal saat bekerja. Selain Busro beberapa warga lokal juga pernah dilihat memotong bagian kecil kapal. Tapi tidak sebanyak Busro. “Orang lokal motong pakai gergaji besi. Tidak seperti Busro yang mengajak karyawan dan alat pemotongnya besar. Mungkin waktu itu sudah canggih,” jelasnya lalu tertawa.

Selain Busro, setahu dia tidak pernah ada orang lain mengambil keuntungan dalam jumlah besar. Sebab beberapa tahun setelahnya ada larangan dari pemerintah. Bangkai kapal dilestarikan, sebelum akhirnya sekitar 1970-an bangkai kapal menjadi daya tarik wisata yang semakin dimintai hingga sekarang. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia